RANI TURUN DARI TAKSI tepat di depan
gerbang kampusnya dulu. Banyak mahasiswa berlalu lalang dengan membawa
sekeranjang bunga mawar yang dibungkus dengan plastik satu-satu.
Dengan perlahan dia memasuki gerbang
kampus. Melempar senyum pada beberapa mahasiswa yang menyapanya. Dia tidak
mengenal satupun dari mereka, namun sikap ramah mereka membuatnya tersenyum
sebagai balasan.
Sebuah mobil hitam melintas
mendahuluinya. Terlihat siluet seorang pria duduk di kursi penumpang di
belakang. Beberapa mahasiswi yang mengenali mobil itu langsung heboh dan
langsung mengikuti mobil itu berbondong-bondong.
Pria yang sedari tadi sibuk dengan
smartphone nya, mendongak dan memandang keluar jendela mobil yang melaju pelan
karena banyaknya pejalan kaki. Pandangannya tertuju pada seorang wanita yang
berjalan di depannya.
Dia merasa pernah melihat wanita itu
namun dia lupa dimana dia melihatnya. Pandangannya terus saja menatap wanita
itu hingga dia melewatinya. Dia menoleh kebelakang untuk melihat wanita itu.
Dan seketika jantungnya berdebar.
Pria tampan dengan setelan jas berwarna
biru tua itu menegakkan kembali punggungya dan menghadap kedepan. Dia tidak
bisa mengontrol debaran jantungnya. Dia belum pernah merasa seperti itu dan itu
membuatnya bingung.
“Sir?” tanya ajudannya yang
berada di balik kemudi.
Tangan kanan pria itu menyentuh dadanya
sedangkan tangan kirinya menutup mulutnya. Wajahnya memerah.
“Are you ok, Sir?”
“I just...” pria itu menarik
nafas untuk mengatur debaran jantung dan ekspresi mukanya, “I’m ok. It’s
nothing.”
Ajudannya masih meliriknya melalui kaca
tengah, khawatir.
“When you wait me today, can you
take picture every woman who attend the reunion?”
“Yes, Sir.” Jawab ajudannya
tanpa bertanya alasannya. Karena dia sudah sangat mengenal Tuan nya. Pasti ada
yang menarik minat Tuan nya namun Tuan nya tidak mengenalnya. Bukan tidak tapi
belum.
Sebagai ajudan dan orang kepercayaan,
James Parker, selalu melakukan perintah Tuan nya tanpa cela. James sudah di
latih dari kecil untuk melayani Tuan nya. Dari sepuluh anak yang terpilih,
James selalu berada di urutan pertama untuk segala hal. Karena itu lah dia
terpilih untuk mengawal Tuan nya.
Setelah menuliskan namanya, dan
mendapat marchendise, Rani memasuki aula tempat di adakannya acara. Dia melihat
seorang pria ber-jas hitam berdiri di samping pintu dengan smartphone di
tangannya. Sikapnya tegas namun cuek dan seakan seperti batu.
Namun Rani tidak lama-lama memandang
pria itu. Dia memasuki ruangan yang sudah di tata apik dengan meja-meja bundar
dengan kursi-kursi berselimut kain mengelilinginya. Sebuah vas bunga kecil
berisi mawar putih cantik terletak di tengah tiap meja bundar. Di sekelilingnya
terdapat napkin yang terlipat dan nomor-nomor.
Rani memandang nomor di tangannya lalu
mencari kursinya dengan pandangan mata. Di sebuah meja bundar di sudut ruangan
terdapat nomor yang sama dengan yang ada di tangannya. Dan di sana sudah duduk
seorang pria dengan setelan jas biru tua yang sedang sibuk dengan tablet di tangannya.
Dia menarik nafas untuk menetralkan
hatinya yang berdesir saat melihat pria itu. Berjalan pelan menuju kursinya,
sambil sesekali menarik nafas. Dia gugup entah karena apa. Dia tidak yakin.
“Excuse
me.” Rani menyapa sambil menarik kursi karena tempat duduknya tepat di
sebelah pria itu.
Pria dengan rambut hitam kemerahan itu
kontan mendongak karena kaget lalu tertegun saat melihat wanita yang berdiri di
sebelahnya.
“Oh,
I’m so sorry, I didn’t mean to startled you.” Sesal Rani sambil memandang
pria itu dengan ekspresi meminta maaf.
Pria itu tersentak lalu menggeleng dan
tersenyum kepada Rani, “It’s ok. I just
too focus with my tablet. Don’t worry.” Ujarnya sambil berdiri. Sopan santun
seseorang terhadap orang lain yang hendak duduk.
Rani mengucapkan terima kasihnya saat
pria itu menyilahkannya duduk dengan membantunya menata kursi Rani agar dia
bisa duduk dengan nyaman. Setelah itu pria itu kembali duduk di sebelah Rani
dan menyimpan tablet nya.
“Nice
to meet you. I’m Evanz, Rani Evanz from Indonesia.” Rani memperkenalkan
diri pada pria itu sambil mengulurkan tangannya.
“Nice
to meet you, too,” jawab pria itu sambil menyambut uluran tangan Rani, “Wycliffe, Louis Wycliffe.” Imbuh Louis
memperkenalkan diri.
Dan mereka pun mengobrol. Mengenang
masa-masa saat mereka masih kuliah dan kenapa mereka tidak pernah bertemu
sebelumnya. Sesaat setelah Rani bercerita kalau dia kembali ke London untuk
mencari pekerjaan, smartphone nya
berdering.
Rani meminta maaf pada Louis sebelum
mengangkat telepon, “Moshi-moshi?”
sapa Rani menggunakan bahasa Jepang karena dia melihat kode area Jepang.
Louis melirik Rani yang sedang
berbicara dengan bahasa Jepang dengan begitu lancar dan cepat hingga dia tidak
bisa mengikuti. Pengetahuannya tentang bahasa Jepang masih sangat minim.
Sekalipun dia sudah memanggil guru privat untuk mengajarinya bahasa Jepang,
tetap saja dia kesulitan untuk mempelajarinya. Tidak seperti bahasa Perancis
dan Jerman serta Italia yang begitu mudah dia pelajari.
Setelah sepuluh menit menelpon,
akhirnya Rani menyudahi sambungan teleponnya. Namun baru saja dia meletakkan
smartphone nya kedalam tas, benda itu kembali berdering.
“Yeobseo?”
sapa Rani kali ini menggunakan bahasa Korea dengan lihai membuat Louis menoleh
dan terang-terangan memandang Rani dengan takjub. Rani merasakan tatapan Louis
dan balik memandangnya. Keduanya saling bertatap mata dalam diam.
Wanita itu tersentak saat si penelpon
memanggilnya dengan sedikit keras. Cepat-cepat dia palingkan wajahnya dari
Louis dan kembali berbicara pada si penelpon.
Louis masih memandang Rani yang sedikit
salah tingkah sebelum akhirnya dia tersenyum dan mengalihkan tatapannya sambil
meraih smartphone nya dari saku jas
nya. Dia mengetik pesan dan mengirimnya ke sekertarisnya di kantor.
Tak lama kemudian, Rani mengakhiri
sambungan telepon. Kembali meminta maaf pada Louis karena telah menganggu
obrolan mereka sebelumnya. Louis menggeleng dengan senyum menawan. Rani seakan
tersihir saat melihat senyum itu. Dan jantungnya pun berdebar kencang.
“Aku kagum betapa mudahnya kamu
berbicara menggunakan kedua bahasa itu. Sudah satu bulan ini aku belajar kedua
bahasa itu tapi tetap saja aku tidak bisa selancar itu.” Aku Louis.
“Itu karena aku pernah tinggal disana
selama beberapa tahun.” Jawab Rani.
“That’s
nice.” Kata Louis, “It’s too
difficult to me to learn them. Especially Korean. I know little bit Japanese
but nothing on Korean.” Keluh Louis.
Rani tertawa renyah membuat Louis
terpana, “You are right. Korean is more
difficult than Japanese. I can speak Japanese with ease because we, Indonesian,
spell every word in the same way. But Korean is diffirent.”
Kemudian Rani menjelaskan sedikit
tentang bagaimana mengucapkan kata-kata dalam bahasa Korea. Louis memperhatikan
Rani dengan seksama. Dia mendapatkan tambahan pengetahuan.
“Fortunately,
I have friend to help me. He help me with everything so I can quickly speak in
local language. Because not all local people know English, so I need to learn
their language.”
“When
in Rome, do as the Romans.” Ucap Louis.
“Exactly.”
Jawab Rani lalu keduanya tertawa.
Tawa mereka membuat beberapa wanita
iri. Mungkin hanya Rani yang tidak mengenal Louis. Karena semua wanita di
Inggris, terlebih Surrey, sangat mengenal siapa Louis Wycliffe.
Louis Wycliffe adalah seorang bangsawan
yang juga seorang pewaris tunggal Wycliffe Corp. dan semua wanita mendamba
menjadi istri Louis. Dengan begitu mereka tidak perlu lagi capek bekerja tapi
uang tetap mengalir ke dompet mereka. Namun Louis bagaikan gunung es yang tidak
bisa di jangkau.
###@^.^@###
James menyerahkan hasil jepretannya pada
Louis begitu mereka sampai di kantor. Yang sebenarnya Louis tidak memerlukannya
lagi karena dia sudah mendapatkan nama serta kontak wanita yang membuat
jantungnya berdebar.
Namun dia tetap menghargai usaha James.
Selain foto Rani, dia membuang foto-foto yang lain. Dia memandangi foto Rani
yang entah kenapa dimatanya terlihat sangat cantik.
Sebuah ketukan pintu terdengar. Louis
menaruh foto Rani di mejanya saat sekertarisnya masuk dengan membawa banyak
berkas yang meminta persetujuannya.
“Is that Rani?” tanya sang
sekertaris saat matanya tak sengaja melihat foto Rani.
“You know her, Maria?” Louis
balik bertanya dengan heran.
Sekertarisnya, Maria, mengambil foto
Rani dan mencermatinya, “This is Rani Evanz, right?”
“Yes. How do you know her?”
“She’s my classmate.”
“I didn’t know that.”
“When this picture taken?”
“Today.”
“At reunion?” tanya Maria
memandang Louis yang mengangguk.
“Hmmm... so she’s back.” Gumam
Maria.
Louis memandang Maria yang terlihat
sedang mengingat sesuatu. “You know something about her?”
“I do. But... why you ask? You like
her?”
Louis membuka mulut hendak menjawab
namun terhenti. Dia terdiam berpikir, “I don’t know. I never felt like this
before.” Jawab Louis
Maria dan James bertukar pandang.
Mereka memikirkan hal yang sama. Louis telah jatuh cinta.
“Apa kita ada tempat untuk
memperkerjakan satu orang lagi?” tanya Louis tiba-tiba.
“Why?” tanya Maria. Namun Louis
tidak menjawab dan hanya melamun sambil memandangi foto Rani. Maria menghela
nafas, “you can add more secretary if you want. But make sure to tell Sir
William.”
“I know.” Jawab Louis, “if we
hire her, she can help with our branch in Japan and South Korea.”
“Understand. I will make proposal to
add more worker.”
Kemudian Maria keluar dari ruangan
Louis. Dia senang jika Louis akhirnya bisa membuka hatinya pada wanita lain.
Dia harus membantu Louis untuk bisa dekat dengan Rani.
Maria Stephen adalah sekertaris Louis
di perusahaannya. Mereka sudah berteman sedari kecil. Namun tidak ada rasa di
antara mereka karena ayah Maria merupakan ajudan kepercayaan ayah Louis hingga
sekarang. Hubungan mereka terbatas pada majikan dan pelayan. Namun sama halnya
seperti James, Maria sangat mengerti Louis.
###@^.^@###
Rani merebahkan tubuhnya di sofa bed di
kamar audio. Dia memikirkan pertemuannya dengan Louis. “Pria yang menawan.”
Gumamnya tanpa sadar.
Dan dia memikirkan bagaimana bisa dia
tidak mengenal Louis sebelumnya kalau pria itu sangat menggoda. Pria setampan
Louis tak mungkin terlewatkan begitu saja.
Betapapun dia memikirkannya tetap saja
dia tidak bisa menemukan keberadaan Louis dalam memorinya. Dia merutuki
kebodohan dirinya karena melewatkan Louis dan kini dia terjebak dalam dilema.
Rani tidak menyadari kedatangan Felton.
Dia tersentak kaget dan hampir saja berteriak saat sebuah tangan merengkuh
tubuhnya. Felton memandangnya dengan heran.
“What’s matter?”
“You startled me.”
“What are you thinking until you
didn’t recognize my arrival?”
Rani terdiam. Dia tidak mungkin
menceritakan tentang pertemuannya dengan Louis kepada Felton. Bisa-bisa
kekasihnya mengamuk. “I just think of work.”
“What work?”
“When I get one, I mean.” Jawab
Rani, “Hari ini aku mengirim banyak lamaran kerja. Tapi aku tidak tahu aku akan
di terima dimana. Semoga saja ada yang mau menerimaku bekerja sebelum tiga bulan.”
“You will get one. You are
profesional.”
“But its ok, right, if I’m working
here?”
Felton memandang Rani yang menatapnya
dengan ekspresi memelas, “Alright you can work. But remember dont make me
jealous. No overwork!”
“But I can’t promise about overwork.
You know it, right?”
Felton menghela nafas, “Baiklah, aku
akan maklumi itu tapi ingat, tetap memberi kabar setiap saat.”
“SIR, YES, SIR!” ucap Rani
lantang sambil memberi hormat dengan menempelkan tangannya ke pelipisnya kepada
Felton yang mendengus namun tersenyum.
Rani terkikik lalu memeluk Felton
manja.
###@^.^@###
Sejak saat itu, Rani dan Louis sering
bertukar pesan. Tentu saja Rani melakukannya dengan sembunyi-sembunyi. Bukan
karena dia takut namun untuk menghindari pertengkaran.
Beberapa kali Louis mengajaknya untuk
makan malam tapi selalu di tolak oleh Rani dengan berbagai alasan, namun Rani
menjanjikan dia mau saja makan siang bersama tapi harinya Rani yang akan
menentukan. Meskipun sedikit merasa kecewa, Louis menerima janji Rani yang akan
mengajaknya makan siang.
Setelah itu mereka kembali membahas hal
yang lainnya. Terutama membahas les Bahasa Jepang dan Bahasa Korea yang sedang
dijalani oleh Louis. Pria tampan itu sering menggoda Rani dengan menanyakan
arti dari kata-kata romantis. Rani sering tertawa sendiri sambil membaca
pesan-pesan dari Louis.
###@^.^@###
“Maria, come with me.” Ujar
seorang pria paruh baya sambil memasuki ruangan Louis yang tengah kosong karena
Louis sedang keluar makan siang. Maria yang tengah memeriksa berkas-berkas
langsung mendongak dan berdiri lalu mengikuti pria itu masuk ke ruangan Louis.
“James? Why you here?” tanya
pria paruh baya itu saat mendapati James tengah sibuk dengan tabletnya. James
tersentak kaget dan langsung berdiri.
“Sir Louis ask me to stay here.”
“Why?”
James dan Maria bertukar pandang resah.
Mereka belum memberitahu pria paruh baya di depan mereka tentang ketertarikan
Louis pada Rani. Bagaimana Louis begitu tergila-gila pada Rani.
“What happen? Explain?!” tanya
pria itu setelah duduk di kursi kerja Louis.
“I think, Louis is falling in love.”
Jawab Maria.
Pria yang sudah berumur namun masih
keliatan muda itu tertegun. Memandangi Maria dan James bergantian. “Falling
in love? With who? Not Sophia again!”
“Not Sophia, Sir.” Jawab Maria,
“she was my classmate during collage. She’s nice and beautiful. I can guess
why Louis could be attracted to her. She has calming aura and so cheerful. And
I’m sure that she don’t know who Louis is.”
“You know her?” tanyanya pada
Maria yang mengangguk, “Do you already check her background?” kali ini
dia bertanya pada James yang mengangguk lalu menyerahkan tabletnya yang sudah
terpampang identitas Rani kepada pria itu.
“Evanz?” gumam pria itu saat
membaca nama panjang Rani. “Is this all you got?” tanyanya lagi pada
James yang mengangguk, “do detail background check, everything.” Katanya
pada ajudan pribadinya yang berdiri di belakangnya sambil menyerahkan tablet
James.
“Alright, then what this proposal
mean?” tanya pria itu pada Maria sambil menunjukkan proposal yang Maria
kirim beberapa hari lalu.
“Louis said he find a perfect person
to help us supervise Asia Branch. According to Louis, Rani is fluent in
Japanese and Korean language.”
“Hmmm...” pria itu
meninmbang-nimbang.
Memang benar bahwa saat ini cabang
perusahaan mereka yang di kedua negara itu sedikit bermasalah. Manajer di kedua
cabang memang lancar berbahasa inggris namun tetap saja ada sesuatu yang
mengganjal tiap kali laporan bulanan masuk ke kantor pusat.
“Let me think of it.” Jawab pria
itu lalu berdiri, “Where is Louis now?”
“Lunch with Rani.” Jawab Maria.
Pria itu menghela nafas, “don’t tell
him I do background check his woman. I don’t want any woman with bad influence
around Louis.”
“Understood, Sir!” jawab Maria
dan James.
Kemudian pria itu meninggalkan kantor
Louis dan kembali ke kediamannya. Nama Evanz mengingatkan dirinya akan teman
karibnya dulu. Sahabat baiknya semasa kuliah. Namun setelah lulus, mereka
hilang kontak. Bahkan saat dia berada di Bali selama sepuluh tahun pun dia
tidak bisa menemukan temannya itu.
“Can you do it before nine?”
tanya pria itu pada ajudannya.
“Yes, Sir.” Jawab ajudannya.
Malam harinya
Frank Stephen, ayah Maria yang juga
ajudan kepercayaan William Wycliffe, ayah Louis, memberikan laporannya. Dia melakukan
detail cek semua informasi terkait Rani. Namun hanya kisah cinta Rani saja yang
tidak dapat dia akses. Serta tragedi di Seoul.
Saat Rani dilarikan ke rumah sakit,
Shim Seunghyun mendaftarkan Rani atas namanya sendiri, karena dia lupa membawa
paspor Rani. Dia tidak punya waktu lagi untuk kembali ke kontrakan Rani,
akhirnya dia memakai identitasnya agar Rani dapat segera di tangani oleh
dokter.
Frank menyerahkan foto keluarga Evanz
kepada William yang langsung tersenyum senang. Frank mengernyitkan dahi.
“It’s Michael Evanz! My bestfriend!!”
ujar William, “so she is his daughter. No wonder I feel familiar with her
photo.”
“Also Ms. Evanz is Lady Sharry
friend.”
“Are you sure?” tanya William.
Frank menyerahkan selembar foto yang berisi empat wanita muda tengah tersenyum
lebar sambil memandang kamera, “Sharry?”
“Yes, Dad? Did you call me?”
tanya seorang wanita cantik yang tiba-tiba masuk ke ruang kerja William.
“Oh hi dear, just got home?”
“Yeah.” Jawab Sharry sambil
berjalan mendekati William, ayahnya. “this is Rani.” Ujarnya saat
melihat foto dirinya bersama Rani saat berpesta di Bali, “why you check on
her, Dad?” tanya Sharry sambil memandang ayahnya sedikit takut.
William tahu sorot mata Sharry. Dia
tersenyum menenangkan, “Louis is fall in love with her.”
“He WHAT?!!” Sharry terkejut, “no
no no, not Rani. She’s way too good to be with Louis!”
Ayah Sharry terkekeh melihat reaksi
anak perempuannya, “I know. But I like her too. She is my friend’s daughter.”
“Your friend?”
“My long lost friend. We are best
friend during college. But after graduation, he went back to his hometown and I
lost contact of him. I search him but can not find him, but I found your Mom.”
Ujar William pada Sharry yang langsung memeluk ayahnya.
Sharry memang lahir bukan dari istri
sah William. Tapi dari istri keduanya saat dia berada di Bali. Sharry mulai
menetap di London lima belas tahun yang lalu setelah ibunya meninggal.
Beruntung bagi Sharry karena istri William mau menerima dan menyayanginya.
William dan istri sahnya hanya di karuniai satu anak laki-laki yaitu Louis.
Karena itulah William sangat pemilih untuk pasangan Louis.
###@^.^@###
Felton memasuki apartment Rani dan dia
tidak mendapati wanitanya di dapur seperti biasanya. Samar-samar dia mendengar
suara Rani di kamar audio. Dia mendekat dengan perlahan tanpa menimbulkan
suara.
“Baiklah, aku akan kesana kalau aku
bisa. Wembley Arena. Hotel Hilton. Ok...”
BRAAAKK!!
Felton membuka pintu dengan kencang.
Raut mukanya penuh amarah. Rani menoleh kaget sambil cepat-cepat mematikan
teleponnya. Dia berdiri menghadap Felton yang sudah kalap.
“I, I can explain... it’s not like
what you think...” Rani berusaha untuk meredakan amarah Felton, “my
friends, boy group that I like is having concert in London, so they ask me to
come to help... look...” Rani menyerahkan id card dan surat pernyataan yang
mengatakan bahwa Rani resmi menjadi staff sementara.
Felton terus saja mendekati Rani dengan
amarah. Rani mundur hingga menabrak dinding kaca. Dia takut, benar-benar takut.
Lalu terjadi lagi. Felton memperkosa Rani dengan beringas. Meninggalkan
lebam-lebam di wajah dan tubuh Rani.
TING.
Smartphone nya berdenting. Memberitahu
si empu nya kalau ada pesan masuk. Dengan malas Rani meraih smartphone di atas
nakas samping tempat tidurnya. Dia hanya mengenakan selimut untuk menutupi
tubuhnya yang telanjang. Sedangkan Felton sudah pergi dari pagi buta karena
jadwal shootingnya.
Rani membaca pesan dari Louis yang
mengajaknya untuk bertemu karena dia ingin memberitahukan kabar baik untuknya.
Setelah menarik nafas, Rani membalas pesan Louis bahwa dia akan datang ke
tempat janjian mereka sekitar dua jam lagi. Tak menunggu lama balasan dari
Louis dia terima yang mengatakan bahwa dia setuju.
Dengan rambut awut-awutan dan tubuh
penuh lebam, Rani beranjak dari tempat tidur dan menuju kamar mandi. Dia
tertegun saat mendapati secangkir kopi yang sudah dingin dan sepiring omelette
telur dengan sosis panggang, serta sebuah note permintaan maaf di meja makan.
Dia duduk menghadap makanan di
depannya. Mengambil note dengan tangan kiri dan sendok di tangan kanan.
Diirisnya omelette dengan sendok lalu disuapkan ke bibirnya yang bergetar
menahan tangis.
Sudah dua kali dalam dua minggu Felton
menyakitinya. Hal itu semakin membulatkan niatnya untuk segera mengakhiri
hubungan mereka. Namun dia tidak bisa jika harus kembali ke Indonesia, Felton
pasti tahu.
Dia harus segera mendapatkan pekerjaan
dan kemudian pindah dari apartmentnya. Dia berharap semoga kabar baik dari
Louis menyangkut tentang pekerjaan yang kemarin sempat Rani tanyakan.
Biasanya Rani tidak ingin mendapatkan
pekerjaan dari campur tangan orang dalam, namun jika kondisinya seperti ini,
mau tidak mau dia harus melakukannya. Asalkan dia segera mendapatkan pekerjaan.
Setelah beberapa bulan, dia akan pindah ke apartment yang tidak dapat di
jangkau oleh Felton dengan tabungan gajinya.
Cepat-cepat dia selesaikan sarapannya
yang sudah dingin. Menaruh piring dan cangkir ke tempat cuci lalu mandi dan
berdandan. Dia harus memakai bedak sedikit lebih tebal untuk menutupi lebam di sudut
matanya. Kalau hanya memakai concelar saja dia takut tidak bisa menutupinya
dengan sempurna.
Rani memasuki sebuah cafe. Dia
memandang sekeliling ruangan cafe untuk mencari Louis namun dia tidak
menemukannya. Dikirimnya pesan pada Louis menanyakan dimana dia. Sebuah balasan
datang dalam hitungan detik menyuruh Rani untuk naik ke lantai atas.
Setelah membaca pesan Louis, Rani
berjalan menuju lantai atas sambil sesekali membetulkan kacamata hitamnya. Dia
memakai kacamata hitam bukan untuk bergaya namun untuk menutupi lebam.
Begitu sampai di lantai dua, Rani
mendapati Louis tengah duduk menantinya di sudut ruangan berpenyekat. Tempat
VIP dicafe tersebut. Dia berjalan cepat menuju tempat duduk Louis yang tidak
melihatnya, dan langsung duduk di depan Louis yang terkejut.
“Why you wearing glasses?” tanya
Louis setelah mengatasi keterkejutannya.
“I have to.” Jawab Rani.
“Why?”
“I...” suara Rani tercekat, “I
can’t show you.” Jawabnya sambil berpaling dari tatapan Louis yang tajam.
“Show me!” paksa Louis sambil
melepas kacamata Rani dengan pelan dan memegang dagu Rani, menghadapkan wajah
Rani kepadanya. Ekspresinya langsung mengeras saat dilihatnya lebam yang
berusaha Rani tutupi di sudut matanya.
Rani tak sanggup lagi dan langsung
menunduk. Berusaha keras agar tidak menangis di depan Louis.
“Your boyfriend doing this?”
tanya Louis lirih penuh penekanan.
Rani sudah menceritakan semuanya pada
Louis saat terakhir kali mereka bertemu kalau dia sudah mempunyai kekasih. Dan
alasan kenapa dia ingin segera mendapatkan pekerjaan.
“Rani...”
“Please...”
jawab Rani menahan isak tangisnya.
Louis menghela nafas, “Ok, I won’t ask.” Ujarnya lalu terdiam.
Memberi ruang pada Rani agar tenang. Dia memesankan secangkir cappuccino hangat
dan choco-cheesecake untuk Rani.
Setelah sepuluh menit berlalu dalam
keheningan, akhirnya Rani mendongak dan memberikan senyum manisnya pada Louis
yang memandangnya dengan khawatir.
“Thank
you, Louis.”
“No
problem. Feeling better?” tanya Louis yang di jawab dengan anggukan oleh
Rani. “If you need anything, just tell
me. I will help you.”
Rani tersenyum mendengar kata-kata
Louis, “Ok.” Ujar Rani, “then what news do you want to tell me?”
“Oh
I almost forgot,” kata Louis sambil menegakkan punggungnya, “my father, I mean, Directur want to
interview you. There is spot for you in my office.”
“Really?
So fast.”
“Actually,
I request the spot just for you,” jawab Louis dengan wajah merona, “we have branch in Japan dan South Korea,
that’s why I try to learn the language. After I know you fluent in both
language I discussed it with Directur. And he accepted my request and asking
when he can interview you.”
Rani senang mendengarnya. Senyumnya
mengembang namun sedetik kemudian menyurut. Dia menarik nafas dilema.
“Why? What happen?” tanya Louis
yang mengetahui perubahan ekspresi Rani, “you don’t like it?”
“That’s not what I mean,” jawab
Rani, “tiga minggu lagi temanku ada konser disini. Dan mereka memintaku untuk
membantu mereka sampai konser selesai.”
“Konser apa?”
“Temanku adalah grup penyanyi Korea
Selatan.”
“Oh.” Louis kelihatan kecewa.
“Maafkan aku, Louis, tapi bisakah kamu
memundurkan wawancara sampai tiga minggu lagi?” pinta Rani menatap Louis yang
balas menatapnya dan terdiam.
Louis menghela nafas berat, “Baiklah
akan ku lakukan.” Ujarnya kemudian, “tapi bagaimana jika Direktur ingin
mewawancaraimu segera?”
“Akan ku lakukan.” Jawab Rani.
Kemudian keduanya terdiam. Keheningan
kali ini terasa sedikit menyesakkan. Rani tahu dia seharusnya tidak menawar,
namun dia tidak punya pilihan lain. Dia sudah terlanjur berjanji pada
teman-temannya akan membantu mereka, dan mereka sudah bersusah payah meyakinkan
panitia acara untuk menambahkan dirinya di jajaran staff.
Rani tahu betapa susahnya itu. Karena
dia sudah pernah melihatnya langsung bagaimana teman-temannya meminta ijin agar
dirinya diikutsertakan.
“Louis...” panggil Rani pelan.
Louis mendongak dari tabletnya dan
memandang Rani. Saat mereka bertemu pandang, Louis bisa melihat betapa Rani
berada dalam dilema. Louis langsung merasa bersalah karena memaksakan
kehendaknya.
Dia sangat menginginkan Rani berada
disampingnya setiap hari. Namun saat Rani memberitahunya bahwa dia saat ini
memiliki kekasih membuatnya patah hati. Dan pada saat bersamaan Rani
menanyainya tentang pekerjaan, harapan Louis kembali. Setidaknya dia bisa
bertemu dengan Rani setiap hari jika Rani bekerja padanya.
Rasa kecewa tentu saja dia rasakan saat
Rani memberitahunya bahwa dia tidak bisa dengan segera untuk bekerja di
kantornya. Namun saat Rani memandangnya dengan ekspresi sedih, resah dan
perasaan bersalah, dia tahu dia tidak boleh egois. Dia harus sabar jika ingin
mendapatkan Rani.
Louis memberikan senyumnya pada Rani, “I’m
not mad. I just hope that you will work with me as soon as possible.”
“I’m sorry, Louis, I don’t know that
you will give me a good news very fast. I already make a promised to my friends
that I will help them.” Kata Rani.
“I understand, Rani, please don’t be
sad. I will wait until you ready.” Ujar Louis, “I’m sorry for forcing
you. I just can’t wait to work with you.” Imbuh Louis menenangkan Rani.
Tanpa sadar Louis menggenggam tangan
Rani. Membuat wanita manis itu tersipu namun enggan melepaskan tangan Louis.
Tatapan mata mereka kembali bertemu. Semakin menambah benih-benih cinta di
antara keduanya bertumbuh subur.
Suasana romantis mereka terpecah saat
smartphone Rani berdering. Mereka tersentak kaget dan langsung melepaskan
tangan dengan wajah merona. Selagi Rani menerima telepon, Louis menyibukkan
diri dengan tabletnya untuk mengatasi rasa gugup.
“Dochakaesseoyo? (Sudah
sampai?)” ujar Rani langsung pada si penelpon, “ooo araseo, gidalyeo.
Gwenchanhaeyo. Ne ne, jigeum ganda. Araseoyeo, Wembley Arena. (iya aku
tahu, tunggu ya. Tidak apa kok. Iya iya, aku pergi sekarang. Aku tahu, Wembley
Arena.)” kemudian Rani mematikan teleponnya dan menghela nafas.
Louis memperhatikan sikap Rani sedari
tadi. Wanita di depannya terlihat senang namun juga gelisah. Dia tidak mengerti
apa yang sedang wanita itu bicarakan, namun dia tahu dari sikap Rani bahwa
temannya menyuruhnya untuk segera datang.
“Louis, aku...”
“It’s ok. I have to go back to
office, too. I’ll take you there.” Ujar Louis membuat Rani merasa tidak
enak hati.
Mereka beranjak dari cafe. Setelah
membayar, Louis mengajak Rani menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari
cafe. Mereka berjalan menuju mobil dalam diam.
Saat mobil Louis memasuki area Wembley
Arena, Rani melihat temannya berdiri menunggunya di pintu masuk sendirian
dengan sesekali melihat smartphone nya.
“He sure don’t have any patient.”
Ujar Rani sambil menghela nafas.
Louis meliriknya sekilas lalu memandang
apa yang sedang dilihat Rani. Seorang pria Asia berwajah tampan yang mengenakan
cardigan hitam dan celana jeans berdiri di pintu masuk.
“Your friend?”
“I would like to say that he is more
than a friend. He is like my younger brother.”
“Don’t say more than a friend, I’ll
get more jealous.” Ujar Louis membuat Rani menoleh memandangnya, “hearing
you already have boyfriend is already make me jealous and broken heart. But now,
thinking you will surrounded by handsome looking man, makes me more jealous and
anxious.”
“Eh, Louis?”
Louis terdiam dan menatap Rani lekat. “I
like you, Rani.” Aku Louis membuat Rani tercengang, “I was planning to
wait until you work with me, but seeing you surrounded by man is make me can’t
wait anymore to confess.”
Rani terkesiap dan terdiam beberapa
saat lalu menunduk dalam, “you know I have a boyfriend, right?”
“I do.”
“I can’t return your feeling right
now.” Kata Rani masih menunduk, “I mean I do like you, and I never felt
like this before,” ganti Louis yang terpana menatap Rani, “I’m very
happy when we change text or having lunch together. But, I already told you
that I have boyfriend, and I wont cheat on him. For all this time, I assume
that we are just friend...”
“I’ll wait you, Rani.” Potong Louis,
“I know you want to break up with your boyfriend. And his action toward you
is terrible. He is not man, he is a loser. He is...”
“He not a loser, he just jealous!”
“You can lie with your mouth but you
know exactly who he is.”
Rani tercekat. Dia tidak bisa membalas
argumen Louis yang membenarkan apa yang dia rasakan selama hampir sepuluh tahun
ini terhadap Felton. “I...I..., he love me.” Gumamnya lirih tapi Louis
bisa mendengarnya.
“That is not love. That is obsessed!”
“Please, Louis, don’t say anymore...”
“I just want you to see it. How much
time you want to be with him until you break apart? Do you want to die before
you can accomplish your life’s goal? Do you really want that?!”
“Please stop.” Rani terisak. Dia
tidak sanggup lagi untuk mendengarkan perkataan Louis. Apa yang dikatakan Louis
memang benar, namun dia tidak sanggup membayangkan berpisah dengan Felton. Sekalipun
dia sudah hampir tidak ada rasa lagi untuknya, tapi keberadaan Felton disisinya
bagai candu tersendiri dalam hidupnya.
Louis meraih Rani dan memeluknya untuk
menenangkan. Dia merasa bersalah sudah membuat Rani menangis, “I’m so sorry.”
Ucapnya membuat Rani semakin tersedu di dalam pelukan Louis.
Rani merasa nyaman berada dalam pelukan
Louis yang hangat. Dan tanpa sadar pun dia menangis, meluapkan perasaan
tertekan yang selama ini dia rasakan. Ditambah bisikan kata maaf dari Louis,
membuat air mata Rani semakin deras mengalir.
Sambil menunggu tangis Rani reda, Louis
melempar pandang keluar mobil. Dilihatnya si pria tampan memandangi mobilnya
dengan rasa ingin tahu. “Your friend is waiting.” Kata Louis membuat Rani
tersadar dimana dia sekarang.
Cepat-cepat dia lepas pelukannya sambil
mengucapkan terima kasih lalu membersihkan sisa air mata yang menggenang di pelupuk
matanya. Dia meraih kaca dari dalam tas kecilnya dan memeriksa wajahnya.
Louis tersenyum lalu keluar sambil
mengatakan bahwa dia akan menunggu di luar selagi Rani membenahi make up nya. Dia
berdiri di samping pintu mobil sambil mengedarkan pandang. Dia melihat si pria
Asia menarik nafas kecewa saat melihatnya lalu memalingkan pandangannya ke
gerbang masuk tempat parkir Arena.
Setelah siap, Rani membuka pintu, namun
langsung diambil alih oleh Louis yang membukakan pintu untuk Rani dan mengulurkan
tangan untuknya. Rani tersenyum malu mendapat perlakuan seperti itu.
“Thank you for everything, Louis.”
Ucap Rani setelah berdiri di samping Louis yang baru saja menutup pintu dan
menghadapnya. “I’ll send you VIP seat for the concert if you want.”
“I would very happy to receive it.”
Jawab Louis, “I should go, your friend is coming. If you need anything, just
text me.” Imbuhnya saat dia melihat si pria Asia berjalan mendatangi Rani.
“Thank you so much. Do you want me
to introduce you with him?” Tanya Rani yang juga melihat kedatangan
temannya.
Louis tersenyum dan menggeleng, “another
time. Well then, see you later, Rani.” Ujar Louis lalu berbalik, memasuki
mobilnya dan menjalankan mobilnya meninggalkan Rani yang memandanginya hingga
hilang dari pandangan.
“Noona.”
“Mianhae, Jiyong-ah.”
“Kenapa pake kacamata hitam?” tanya Kwon
Jiyong
“Tidak apa-apa. Hanya ingin.”
Dan sekali lagi, Rani harus
memperlihatkan lebam di matanya pada orang yang dia tidak ingin mereka tahu.
“Siapa yang melakukannya?” tanya Jiyong
langsung, ketara kalau dia marah, “apa pria yang tadi?”
Rani menggeleng, “bukan, dia atasanku.”
“Lalu? Pacar Noona?”
Rani terdiam tidak bisa menjawab.
“Noona!”
“Jiyong-ah, sebaiknya kita masuk
kedalam dan melihat persiapannya.”
“Seunghyun-Hyung memberitahu ku
terakhir kali dia menelpon Noona, ada sesuatu yang terjadi pada Noona.” Ujar Jiyong
sambil menahan langkah Rani yang hendak memasuki gedung, “apa selalu terjadi
hal seperti ini? Kenapa Noona masih bertahan?! Tinggalkan dia!!”
“Jebal (Ku mohon), Jiyong-ah, aku tidak
ingin membicarakan ini.”
“Noona, aku tidak ingin melihatmu
seperti ini.”
“Terima kasih sudah mengkhawatirkanku
tapi aku tahu apa yang aku lakukan.” Jawab Rani tersenyum memandang Jiyong. “ayo
kita temui yang lain.”
Rani berjalan lebih dulu. Meninggalkan Jiyong
yang hanya bisa menghela nafas berat. Pertama kalinya dia mendengar cerita Shim
Seunghyun yang menelpon Rani beberapa minggu lalu, membuatnya khawatir. Di tambah
lagi dengan cerita Seunghyun yang membawa Rani ke rumah sakit di Seoul dengan
pendarahan hebat.
Dia
tidak ingin orang yang disayanginya menderita hanya karena seorang laki-laki
pengecut yang ringan tangan terhadap kekasihnya sendiri. Tidak seharusnya
seorang laki-laki memukul seorang wanita.
Namun dia juga tidak bisa memaksa Rani
untuk meninggalkan kekasihnya. Jika dia bersikeras, dia tidak lebih baik
daripada kekasih rahasia Rani. Kenapa dia menjulukinya dengan kekasih rahasia karena
dia tidak pernah bertemu langsung dengan kekasih Rani. Hanya Shim Seunghyun
yang tahu dan dia pun tidak memberitahukan itu pada nya.
“Jiyong-ah, kaja! (ayo!)” panggil Rani yang
berbalik dan mendapati Jiyong sedang melamun.
Setelah menarik nafas, Jiyong mengikuti
Rani dan memutuskan untuk mengikuti kehendak Rani.
###@^.^@###