Rani
menelfon Felton memberitahunya kalau dia sudah dijalan menuju hotel. Felton
senang dan memberi tahu nomer kamarnya.
Sesampainya
di hotel, Rani bertanya pada bagian resepsionis dimana tepatnya kamar 1306.
Setelah itu dia langsung memasuki elevator dan kekamar Felton.
Rani
menekan bel sekali dan pintu langsung terbuka. Dia melihat sesosok laki-laki
yang sangat dia rindukan tapi juga laki-laki yang ingin dia lupakan. Felton
menyambut Rani dengan wajah senang. Tapi Rani hanya diam dan tanpa ekspresi.
Tanpa
berkata apa-apa, Rani langsung masuk ke dalam. Menaruh tasnya lalu membuka
lemari pendingin. Dia melihat ada beberapa soft drink, snack dan soju. Tanpa
pikir panjang, Rani mengambil soju, menutup lemari pendingin, membuka tutup
botol soju dan langsung meneguknya.
Tapi
tangan Felton lebih cepat. Sebelum Rani meminumnya terlalu banyak, Felton
merebut botol soju dari tangan Rani, “HEY!”
“Sejak
kapan kamu jadi suka minum?” tanya Felton sambil meletakkan botol soju kembali
kedalam lemari pendingin.
“Bukan
urusanmu” jawab Rani sambil mengambil botol sojunya dan berjalan kesofa lalu
menyalakan tv. Felton
hanya menghela nafas.
“Aku
jauh-jauh datang kesini untuk bertemu denganmu”
“Bagaimana
kamu bisa tahu aku di korea?” tanya Rani tanpa memandang Felton yang duduk di
sebelahnya
“Aku
sewa detektif swasta” jawab Felton memandangi Rani yang mengacuhkannya dan asik
nonton tv. “Ran, aku kangen kamu”
“Hmmm”
jawab Rani
Felton
menghela nafas sambil bersandar lalu ikut nonton drama lokal yang sedang
dilihat Rani.
“Sudah
larut. Aku harus pulang besok aku kerja” ujar Rani sambil berdiri. Felton
tersentak kaget
“Tidak
bisa kah kamu tidur disini malam ini?” tanyanya memelas
“Tidak
bisa. Aku tidak bawa baju untuk kerja besok”
“Besok
pagi kita beli baju buat kerja. Please Ran jangan tinggalin aku sendiri”
“Tidak
bisa, Tom” jawab Rani, “aku harus pulang. Besok aku banyak kerjaan”
Felton
memeluk Rani dari belakang dan meletakkan kepalanya dibahu Rani. Rani mendesah.
Mencoba melepas pelukan Felton. Tapi Felton semakin erat memeluk Rani.
“Baiklah
baiklah, aku tidur disini malam ini” ujar Rani mengalah. Felton senang sekali
dan langsung membopong Rani dan membawanya ketempat tidur, “lepaskan” ujar Rani
sambil berontak.
“Jangan
meronta nanti kamu jatuh lho” kata Felton tertawa
“Lepaskan
aku!” ujar Rani lagi. Felton meletakkan Rani di tempat tidur. Dan dengan cepat,
Rani kembali bangun dan kembali ke sofa. Tapi tangan Felton menariknya kembali.
Membuatnya terhempas ditempat tidur. Felton langsung menahan Rani. Menindihnya.
“Mau apa kamu?” tanya Rani memandang Felton yang dari tadi menatapnya.
Dengan
perlahan Felton mendekatkan wajahnya ke wajah Rani yang langsung berpaling.
Felton tersenyum lalu mulai menciumi leher Rani yang sekuat tenaga menahan rasa
geli.
“Tom,
please jangan. Besok aku kerja. hentikan. jangan di leher” Rani berusaha mendorong Felton dari atas nya.
Tapi tidak berhasil. Karena Felton lebih kuat darinya.
Jemari
Felton mulai membuka kancing baju Rani satu persatu, “aku mohon hentikan” pinta
Rani memelas. Tapi Felton tak menghiraukannya.
Tengah
malam Rani terbangun. Dia duduk diam memandang sekeliling. Lupa dia sekarang
ada dimana. Dia merasa ada gerakan pelan di sebelahnya. Dia menoleh dan dia
melihat Felton tengah tertidur pulas. Rani tersenyum, membungkuk dan mencium
kening Felton. Lalu dia turun dari tempat tidur dan berjalan ke sofa.
Dia
menelfon bagian room service untuk di antarkan beberapa makanan serta beberapa botol sherry. Selesai menelfon
Rani kembali menyalakan tv. Tapi pikirannya sedang tidak terfokus pada acara
tv.
Suara
bel yang ditekan room service membangunkan Felton. Dia melihat Rani sedang
menonton tv dan tiak mendengar suara bel. Dengan sedikit malas dia bangun,
mengenakan mantel tidurnya dan berjalan ke arah pintu.
“Room
service, Sir”
“Sapa
yang memesan?”
“Disini
tertulis atas nama Ms. Evans”
“Oke.
Thanks” jawab Felton sambil menerima nampan yang di ulurkan room service.
“You’re
welcome, Sir. Good night, Sir”
Felton
hanya mengangguk lalu menutup pintu kamar dengan kakinya.
“Ran,
kamu memesan ini?” tanya Felton sambil mendekati Rani yang ternyata sedang
melamun, “Ran” panggil Felton pelan yang langsung membuyarkan lamunan Rani
“Ya?”
“Kamu
yang pesan ini?”
“Lhoh?
Kapan datangnya?” tanyanya pada Felton yang meletakkan nampan dimeja didepan
Rani lalu didi disamping Rani
“Baru
saja” jawab Felton, “apa-apaan ini? Tiga botol sherry?” protes Felton
“Tidak
apa-apa kan. Toh kamu yang bayar” ujar Rani enteng sambil mengambil daun selada
dan bulgogi, “kalau aku tidak bisa beli sherry. Bisanya cuma beli soju murahan
di pinggir jalan”
“Bukan
itu masalahnya, Ran, sejak kapan kamu jadi suka minum seperti ini?”
“Dua-tiga
tahun lalu” jawab Rani sebelum menyuap bulgogi berbalut daun selada, “aku
lapar. Jangan mengajakku debat” tambahnya langsung saat Felton hendak membuka
mulut.
Felton
pun langsung diam dan hanya mengamati Rani
“Mau?”
tanya Rani
“Boleh.
Coba suapin satu aja” Rani
membalut bulgogi dengan daun selada sebelum menyuapkan ke mulut Felton. “Makanan
apa nih? Rasanya aneh begini” tanya Felton dengan mulut penuh.
“Ini
makanan khasnya korea” jawab Rani lalu menusuk satu kue beras yang berbalut
saus merah pedas dan menyuapkan lagi ke Felton yang langsung menjauh sambil
menggeleng.
“Satu
satu donk. Masih penuh nih” tolaknya
“Enaknya
makan yaa gini. Ini juga khasnya orang korea” ujar Rani menyuapkan kue beras ke
mulutnya sendiri. Felton memandangi Rani dengan geli, “kenapa cengar cengir?”
tanya Rani memandang Felton dengan mulut penuh dan ada saus disudut mulutnya.
“Satu
lagi hal yang membuatku tertarik sama kamu” jawab Felton. Rani langsung
mendengus dan kembali berpaling pada makanannya yang masih banyak, “kamu tahu,
Ran, kamu itu sulit untuk di lupakan dan sulit untuk di acuhkan. Kamu itu lucu”
“Sok
tahu” bantah Rani, “ini. Mau nyoba tidak?” tanya Rani mengulurkan kue beras
pada Felton.
Dengan
tersenyum geli, Felton maju dan menyantap kue beras yang di sodorkn Rani pada
nya. Namun baru satu kunyah, Felton sudah lari kekamar mandi dan memuntahkan
kue beras yang baru saja dia makan.
“Kenapa?”
tanya Rani saat Felton berjalan kembali ke arahnya.
“Pedas”
jawab Felton setelah meminum satu gelas air putih, “kamu mau membunuhku?”
omelnya sambil duduk lagi di sebelah Rani.
“Hehe
maaf aku lupa kamu tidak suka pedas” ujar Rani meringis menatap wajah Felton
yang merah karena kepedasan, “tapi pedas itu enak lho, sayang. Ini saja tidak
seberapa pedas sebenarnya” tambahnya.
“Tidak
seberapa pedas?!” tanya Felton heran. Rani mengangguk-anggukkan kepala. Felton
hanya geleng-geleng kepala lalu menyandarkan tubuhnya disandaran sofa, “Ng...
Ran, kamu tadi bilang apa?”
“Apa?”
balas Rani menoleh.
“Tadi
lho”
“Apa
sih?”
Felton
mendengus, “Sudahlah lupakan” jawabnya kesal
“Malah
marah. Kamu kenapa sih tiba-tiba sensi begitu” ujar Rani sambil membersihkan
piring lalu membersihkan mulutnya dengan napkin. Tapi Felton hanya diam tanpa
melihat Rani.
Dengan
mengangkat bahu Rani beranjak.
“Mau
kemana?”
“Cuci
tangan. Kenapa?”
Felton
diam lagi. Sampai Rani duduk di sebelahnya lagi pun dia masih diam sambil
sesekali melirik Rani yang sedang membuka-buka majalah. Karena tidak di
perhatikan, Felton langsung menyandarkan kepalanya ke bahu Rani.
“Ran..”
“Iya?”
jawab Rani masih membolak balik halaman majalah, “waah sudah pukul dua. Harus
tidur sekarang, nanti masuk pagi” ujarnya setelah melihat jam dinding di atas
tv, “ayo tidur” ajaknya pada Felton yang langsung nyengir.
“Memangnya
pukul berapa kamu masuk kantor?” tanya Felton sambil mengikuti Rani ke tempat
tidur.
“Sepuluh”
jawab Rani, “tapi kan nanti harus pulang dulu ganti baju” imbuhnya, “atau
pulang sekarang saja yaa terus tidur dirumah” ujarnya berdiri di sebelah tempat
tidur berpikir.
“Tidur
disini” kata Felton tegas.
“Tapi..”
bantah Rani. Felton menggeleng.
“Nanti
ke butik sebelum kamu berangkat kerja. Pulang kerja mampir rumah, bawa baju
ganti lalu tidur disini lagi”
“Haaa..
sampai kapan aku harus tidur disini??”
“Sampai
aku pulang ke London”
“Kapan?”
“Bulan
depan” jawab Felton sambil merebahkan diri.
“WHAT?!”
ujar Rani keras. Felton tersenyum senang melihat ketidak percayaan Rani. “tidak
mau. Aku tidak mau kalau harus setiap hari berada di hotel”
“Lalu?
Aku harus tinggal dimana? Dirumahmu?”
Rani
berpikir keras. Memikirkan baik buruknya kalau Felton tinggal di rumahnya
selama satu bulan, “kamu tinggal disini saja deh” putusnya lalu ikut merebahkan
tubuhnya di sebelah Felton yang langsung memeluknya, “tapi sesekali aku boleh
tidur di rumah yaa?” pintanya
Felton
memandang Rani yang menatapnya memelas, “baiklah. Tapi dengan satu syarat”
“Apa?”
“Aku
juga akan tidur di rumahmu”
“Oke”
jawab Rani, “tapi jangan mengeluh yaa nanti kalau tidur di rumahku” Felton
mengangguk.
Tak
berapa lama kemudian mereka tertidur pulas.
Paginya,
dengan di antar Felton, Rani berangkat kekantor dengan terburu-buru karena
terlambat bangun.
“Nanti aku
jemput yaa” ujar Felton
“Tidak
usah. Nanti aku naik taksi kembali ke hotel” jawab Rani, “sudah yaa aku kerja
dulu. Sudah terlambat dua menit”
“Iya”
jawab Felton lalu mencium kening Rani sebelum Rani keluar dari mobil hotel yang
disewa Felton.
Sepulang
kerja Rani langsung kembali kerumahnya dan memasukkan beberapa baju kerja serta
baju untuk sehari-hari ke dalam tas besar. Setelah itu dia langsung kembali ke
hotel.
“Lama
sekali sih” protes Felton saat membuka kan pintu untuk Rani yang langsung masuk
dan meletakkan tas di tempat tidur.
“Maaf.
Tadi busnya lama sekali datang nya”
“Kamu
naik bus kesini?” tanya Felton. Rani mengangguk dan langsung mulai memasukkan
baju-baju nya ke dalam lemari, “tahu begitu aku jemput kamu tadi” imbuhnya
jengkel. Rani hanya tersenyum.
“Tidak
perlu marah. Aku senang kok naik bus”
“Mau aku
belikan mobil?” ujar Felton sambil duduk di sebelah tas Rani.
“Tidak
perlu. Aku tidak lama kok disini. Kalau kontrakku sudah habis, aku sudah tidak
disini lagi”
“Lalu
mau kemana setelah dari sini?”
“Entah.
Masih belum terpikirkan” jawab Rani, “yang pasti kembali dulu ke Indonesia,
lalu terserah takdir membawaku kemana”
“Tidak
mau kembali ke London?” tanya Felton pelan. Rani langsung terdiam sejenak,
“kita bisa memulai lagi dari awal. Aku akan menikahimu kalau itu maumu”
tambahnya pelan. Rani menunduk didepan lemari.
“Menikah
denganmu memang hal yang sangat aku inginkan. Tapi tidak bisa. Aku tidak bisa
menikah denganmu” jawab Rani berbalik memandang Felton.
“Kenapa?”
tanya Felton
“Entahlah.
Aku merasa kita hanya ditakdirkan untuk bertemu. Tidak ditakdirkan untuk
menghabiskan sisa hidup kita bersama. Kita tidak berjodoh” jawab Rani
tersenyum.
Felton
langsung membuang muka, “melihatmu tersenyum seperti itu saat menjawab
kata-kata seriusku, membuatku sakit hati”
Rani
mendekati Felton. Mencium kening pria itu lalu kembali pada baju-bajunya.
Felton diam memperhatikan Rani yang masih sibuk.
“By the
way, kamu tidak ada syuting?” tanya Rani membuyarkan lamunan Felton.
“Bulan
depan syuting film terbaruku dimulai” jawab Felton, “makanya aku ingin bertemu
denganmu sebelum syuting dimulai”
“Tentang
apa?” tanya Rani sambil duduk di sebelah Felton.
“Film
drama tentang sepasang kekasih yang berbeda negara”
“Hey,
itu kan kisah kita” ujar Rani sambil memukul lengan Felton pelan. Felton
langsung terbahak, “Serius donk”
“Yaa
tentang harry potter laah. Buku ke enam” jawab Felton masih dengan tawa.
“Waah
sudah buku keenam yaa” ujar Rani, “aku tidak sabar menunggu. Peran kamu banyak
tidak?”
“Banyak
laah. Paling tidak ada 35% dari si Radcliffe itu”
“Oya,
bagaimana kabar mereka? Aku kangen sekali dengan mereka”
“Baik.
Emma masih sering menanyaiku soal kamu” jawab Felton, “tapi kamu sama sekali
tidak kangen padaku kan?” pancing Felton melirik Rani
“Sama
sekali tidak” jawab Rani menggeleng-gelengkan kepala.
Dengan
cepat Felton langsung menggelitiki Rani yang langsung meronta karena kegelian.
“Hentikan hentikan hihihi iya iya aku kangen kamu”
“Terpaksa bilangnya” ujar Felton masih menggelitiki
Rani yang terkikik geli. Mendadak Felton memegang tangan Rani dan menahannya.
Dengan perlahan dia mendekatkan wajahnya. Felton mencium bibir Rani dengan
penuh kemesraan yang dibalas Rani mesra pula.