Jumat, 03 Januari 2014

Rani Evanz : Korean Story Pt. 3



     Rani menelfon Felton memberitahunya kalau dia sudah dijalan menuju hotel. Felton senang dan memberi tahu nomer kamarnya.
     Sesampainya di hotel, Rani bertanya pada bagian resepsionis dimana tepatnya kamar 1306. Setelah itu dia langsung memasuki elevator dan kekamar Felton.
     Rani menekan bel sekali dan pintu langsung terbuka. Dia melihat sesosok laki-laki yang sangat dia rindukan tapi juga laki-laki yang ingin dia lupakan. Felton menyambut Rani dengan wajah senang. Tapi Rani hanya diam dan tanpa ekspresi.
     Tanpa berkata apa-apa, Rani langsung masuk ke dalam. Menaruh tasnya lalu membuka lemari pendingin. Dia melihat ada beberapa soft drink, snack dan soju. Tanpa pikir panjang, Rani mengambil soju, menutup lemari pendingin, membuka tutup botol soju dan langsung meneguknya.
     Tapi tangan Felton lebih cepat. Sebelum Rani meminumnya terlalu banyak, Felton merebut botol soju dari tangan Rani, “HEY!”
     “Sejak kapan kamu jadi suka minum?” tanya Felton sambil meletakkan botol soju kembali kedalam lemari pendingin.
     “Bukan urusanmu” jawab Rani sambil mengambil botol sojunya dan berjalan kesofa lalu menyalakan tv. Felton hanya menghela nafas.
     “Aku jauh-jauh datang kesini untuk bertemu denganmu”
     “Bagaimana kamu bisa tahu aku di korea?” tanya Rani tanpa memandang Felton yang duduk di sebelahnya
     “Aku sewa detektif swasta” jawab Felton memandangi Rani yang mengacuhkannya dan asik nonton tv. “Ran, aku kangen kamu”
     “Hmmm” jawab Rani
     Felton menghela nafas sambil bersandar lalu ikut nonton drama lokal yang sedang dilihat Rani.
     “Sudah larut. Aku harus pulang besok aku kerja” ujar Rani sambil berdiri. Felton tersentak kaget
     “Tidak bisa kah kamu tidur disini malam ini?” tanyanya memelas
     “Tidak bisa. Aku tidak bawa baju untuk kerja besok”
     “Besok pagi kita beli baju buat kerja. Please Ran jangan tinggalin aku sendiri”
     “Tidak bisa, Tom” jawab Rani, “aku harus pulang. Besok aku banyak kerjaan”
     Felton memeluk Rani dari belakang dan meletakkan kepalanya dibahu Rani. Rani mendesah. Mencoba melepas pelukan Felton. Tapi Felton semakin erat memeluk Rani.
     “Baiklah baiklah, aku tidur disini malam ini” ujar Rani mengalah. Felton senang sekali dan langsung membopong Rani dan membawanya ketempat tidur, “lepaskan” ujar Rani sambil berontak.
     “Jangan meronta nanti kamu jatuh lho” kata Felton tertawa
     “Lepaskan aku!” ujar Rani lagi. Felton meletakkan Rani di tempat tidur. Dan dengan cepat, Rani kembali bangun dan kembali ke sofa. Tapi tangan Felton menariknya kembali. Membuatnya terhempas ditempat tidur. Felton langsung menahan Rani. Menindihnya. “Mau apa kamu?” tanya Rani memandang Felton yang dari tadi menatapnya.
     Dengan perlahan Felton mendekatkan wajahnya ke wajah Rani yang langsung berpaling. Felton tersenyum lalu mulai menciumi leher Rani yang sekuat tenaga menahan rasa geli.
     “Tom, please jangan. Besok aku kerja. hentikan. jangan di leher”  Rani berusaha mendorong Felton dari atas nya. Tapi tidak berhasil. Karena Felton lebih kuat darinya.
     Jemari Felton mulai membuka kancing baju Rani satu persatu, “aku mohon hentikan” pinta Rani memelas. Tapi Felton tak menghiraukannya.

     Tengah malam Rani terbangun. Dia duduk diam memandang sekeliling. Lupa dia sekarang ada dimana. Dia merasa ada gerakan pelan di sebelahnya. Dia menoleh dan dia melihat Felton tengah tertidur pulas. Rani tersenyum, membungkuk dan mencium kening Felton. Lalu dia turun dari tempat tidur dan berjalan ke sofa.
     Dia menelfon bagian room service untuk di antarkan beberapa makanan  serta beberapa botol sherry. Selesai menelfon Rani kembali menyalakan tv. Tapi pikirannya sedang tidak terfokus pada acara tv.
     Suara bel yang ditekan room service membangunkan Felton. Dia melihat Rani sedang menonton tv dan tiak mendengar suara bel. Dengan sedikit malas dia bangun, mengenakan mantel tidurnya dan berjalan ke arah pintu.
     “Room service, Sir”
     “Sapa yang memesan?”
     “Disini tertulis atas nama Ms. Evans”
     “Oke. Thanks” jawab Felton sambil menerima nampan yang di ulurkan room service.
     “You’re welcome, Sir. Good night, Sir”
     Felton hanya mengangguk lalu menutup pintu kamar dengan kakinya.
     “Ran, kamu memesan ini?” tanya Felton sambil mendekati Rani yang ternyata sedang melamun, “Ran” panggil Felton pelan yang langsung membuyarkan lamunan Rani
     “Ya?”
     “Kamu yang pesan ini?”
     “Lhoh? Kapan datangnya?” tanyanya pada Felton yang meletakkan nampan dimeja didepan Rani lalu didi disamping Rani
     “Baru saja” jawab Felton, “apa-apaan ini? Tiga botol sherry?” protes Felton
     “Tidak apa-apa kan. Toh kamu yang bayar” ujar Rani enteng sambil mengambil daun selada dan bulgogi, “kalau aku tidak bisa beli sherry. Bisanya cuma beli soju murahan di pinggir jalan”
     “Bukan itu masalahnya, Ran, sejak kapan kamu jadi suka minum seperti ini?”
     “Dua-tiga tahun lalu” jawab Rani sebelum menyuap bulgogi berbalut daun selada, “aku lapar. Jangan mengajakku debat” tambahnya langsung saat Felton hendak membuka mulut.
     Felton pun langsung diam dan hanya mengamati Rani
     “Mau?” tanya Rani
     “Boleh. Coba suapin satu aja” Rani membalut bulgogi dengan daun selada sebelum menyuapkan ke mulut Felton. “Makanan apa nih? Rasanya aneh begini” tanya Felton dengan mulut penuh.
     “Ini makanan khasnya korea” jawab Rani lalu menusuk satu kue beras yang berbalut saus merah pedas dan menyuapkan lagi ke Felton yang langsung menjauh sambil menggeleng.
     “Satu satu donk. Masih penuh nih” tolaknya
     “Enaknya makan yaa gini. Ini juga khasnya orang korea” ujar Rani menyuapkan kue beras ke mulutnya sendiri. Felton memandangi Rani dengan geli, “kenapa cengar cengir?” tanya Rani memandang Felton dengan mulut penuh dan ada saus disudut mulutnya.
     “Satu lagi hal yang membuatku tertarik sama kamu” jawab Felton. Rani langsung mendengus dan kembali berpaling pada makanannya yang masih banyak, “kamu tahu, Ran, kamu itu sulit untuk di lupakan dan sulit untuk di acuhkan. Kamu itu lucu”
     “Sok tahu” bantah Rani, “ini. Mau nyoba tidak?” tanya Rani mengulurkan kue beras pada Felton.
     Dengan tersenyum geli, Felton maju dan menyantap kue beras yang di sodorkn Rani pada nya. Namun baru satu kunyah, Felton sudah lari kekamar mandi dan memuntahkan kue beras yang baru saja dia makan.
     “Kenapa?” tanya Rani saat Felton berjalan kembali ke arahnya.
     “Pedas” jawab Felton setelah meminum satu gelas air putih, “kamu mau membunuhku?” omelnya sambil duduk lagi di sebelah Rani.
     “Hehe maaf aku lupa kamu tidak suka pedas” ujar Rani meringis menatap wajah Felton yang merah karena kepedasan, “tapi pedas itu enak lho, sayang. Ini saja tidak seberapa pedas sebenarnya” tambahnya.
     “Tidak seberapa pedas?!” tanya Felton heran. Rani mengangguk-anggukkan kepala. Felton hanya geleng-geleng kepala lalu menyandarkan tubuhnya disandaran sofa, “Ng... Ran, kamu tadi bilang apa?”
     “Apa?” balas Rani menoleh.
     “Tadi lho”
     “Apa sih?”
     Felton mendengus, “Sudahlah lupakan” jawabnya kesal
     “Malah marah. Kamu kenapa sih tiba-tiba sensi begitu” ujar Rani sambil membersihkan piring lalu membersihkan mulutnya dengan napkin. Tapi Felton hanya diam tanpa melihat Rani.
     Dengan mengangkat bahu Rani beranjak.
     “Mau kemana?”
     “Cuci tangan. Kenapa?”
     Felton diam lagi. Sampai Rani duduk di sebelahnya lagi pun dia masih diam sambil sesekali melirik Rani yang sedang membuka-buka majalah. Karena tidak di perhatikan, Felton langsung menyandarkan kepalanya ke bahu Rani.
     “Ran..”
     “Iya?” jawab Rani masih membolak balik halaman majalah, “waah sudah pukul dua. Harus tidur sekarang, nanti masuk pagi” ujarnya setelah melihat jam dinding di atas tv, “ayo tidur” ajaknya pada Felton yang langsung nyengir.
     “Memangnya pukul berapa kamu masuk kantor?” tanya Felton sambil mengikuti Rani ke tempat tidur.
     “Sepuluh” jawab Rani, “tapi kan nanti harus pulang dulu ganti baju” imbuhnya, “atau pulang sekarang saja yaa terus tidur dirumah” ujarnya berdiri di sebelah tempat tidur berpikir.
     “Tidur disini” kata Felton tegas.
     “Tapi..” bantah Rani. Felton menggeleng.
     “Nanti ke butik sebelum kamu berangkat kerja. Pulang kerja mampir rumah, bawa baju ganti lalu tidur disini lagi”
     “Haaa.. sampai kapan aku harus tidur disini??”
     “Sampai aku pulang ke London”
     “Kapan?”
     “Bulan depan” jawab Felton sambil merebahkan diri.
     “WHAT?!” ujar Rani keras. Felton tersenyum senang melihat ketidak percayaan Rani. “tidak mau. Aku tidak mau kalau harus setiap hari berada di hotel”
     “Lalu? Aku harus tinggal dimana? Dirumahmu?”
     Rani berpikir keras. Memikirkan baik buruknya kalau Felton tinggal di rumahnya selama satu bulan, “kamu tinggal disini saja deh” putusnya lalu ikut merebahkan tubuhnya di sebelah Felton yang langsung memeluknya, “tapi sesekali aku boleh tidur di rumah yaa?” pintanya
     Felton memandang Rani yang menatapnya memelas, “baiklah. Tapi dengan satu syarat”
     “Apa?”
     “Aku juga akan tidur di rumahmu”
     “Oke” jawab Rani, “tapi jangan mengeluh yaa nanti kalau tidur di rumahku” Felton mengangguk.
     Tak berapa lama kemudian mereka tertidur pulas.

     Paginya, dengan di antar Felton, Rani berangkat kekantor dengan terburu-buru karena terlambat bangun.
     “Nanti aku jemput yaa” ujar Felton
     “Tidak usah. Nanti aku naik taksi kembali ke hotel” jawab Rani, “sudah yaa aku kerja dulu. Sudah terlambat dua menit”
     “Iya” jawab Felton lalu mencium kening Rani sebelum Rani keluar dari mobil hotel yang disewa Felton.
     Sepulang kerja Rani langsung kembali kerumahnya dan memasukkan beberapa baju kerja serta baju untuk sehari-hari ke dalam tas besar. Setelah itu dia langsung kembali ke hotel.
     “Lama sekali sih” protes Felton saat membuka kan pintu untuk Rani yang langsung masuk dan meletakkan tas di tempat tidur.
     “Maaf. Tadi busnya lama sekali datang nya”
     “Kamu naik bus kesini?” tanya Felton. Rani mengangguk dan langsung mulai memasukkan baju-baju nya ke dalam lemari, “tahu begitu aku jemput kamu tadi” imbuhnya jengkel. Rani hanya tersenyum.
     “Tidak perlu marah. Aku senang kok naik bus”
     “Mau aku belikan mobil?” ujar Felton sambil duduk di sebelah tas Rani.
     “Tidak perlu. Aku tidak lama kok disini. Kalau kontrakku sudah habis, aku sudah tidak disini lagi”
     “Lalu mau kemana setelah dari sini?”
     “Entah. Masih belum terpikirkan” jawab Rani, “yang pasti kembali dulu ke Indonesia, lalu terserah takdir membawaku kemana”
     “Tidak mau kembali ke London?” tanya Felton pelan. Rani langsung terdiam sejenak, “kita bisa memulai lagi dari awal. Aku akan menikahimu kalau itu maumu” tambahnya pelan. Rani menunduk didepan lemari.
     “Menikah denganmu memang hal yang sangat aku inginkan. Tapi tidak bisa. Aku tidak bisa menikah denganmu” jawab Rani berbalik memandang Felton.
     “Kenapa?” tanya Felton
     “Entahlah. Aku merasa kita hanya ditakdirkan untuk bertemu. Tidak ditakdirkan untuk menghabiskan sisa hidup kita bersama. Kita tidak berjodoh” jawab Rani tersenyum.
     Felton langsung membuang muka, “melihatmu tersenyum seperti itu saat menjawab kata-kata seriusku, membuatku sakit hati”
     Rani mendekati Felton. Mencium kening pria itu lalu kembali pada baju-bajunya. Felton diam memperhatikan Rani yang masih sibuk.
     “By the way, kamu tidak ada syuting?” tanya Rani membuyarkan lamunan Felton.
     “Bulan depan syuting film terbaruku dimulai” jawab Felton, “makanya aku ingin bertemu denganmu sebelum syuting dimulai”
     “Tentang apa?” tanya Rani sambil duduk di sebelah Felton.
     “Film drama tentang sepasang kekasih yang berbeda negara”
     “Hey, itu kan kisah kita” ujar Rani sambil memukul lengan Felton pelan. Felton langsung terbahak, “Serius donk”
     “Yaa tentang harry potter laah. Buku ke enam” jawab Felton masih dengan tawa.
     “Waah sudah buku keenam yaa” ujar Rani, “aku tidak sabar menunggu. Peran kamu banyak tidak?”
     “Banyak laah. Paling tidak ada 35% dari si Radcliffe itu”
     “Oya, bagaimana kabar mereka? Aku kangen sekali dengan mereka”
     “Baik. Emma masih sering menanyaiku soal kamu” jawab Felton, “tapi kamu sama sekali tidak kangen padaku kan?” pancing Felton melirik Rani
     “Sama sekali tidak” jawab Rani menggeleng-gelengkan kepala.
     Dengan cepat Felton langsung menggelitiki Rani yang langsung meronta karena kegelian. “Hentikan hentikan hihihi iya iya aku kangen kamu”
“Terpaksa bilangnya” ujar Felton masih menggelitiki Rani yang terkikik geli. Mendadak Felton memegang tangan Rani dan menahannya. Dengan perlahan dia mendekatkan wajahnya. Felton mencium bibir Rani dengan penuh kemesraan yang dibalas Rani mesra pula.

Kamis, 02 Januari 2014

Rani Evanz : Korean Story Pt. 2



     Seminggu berlalu setelah hari itu. Sesekali Seunghyun masih mendapati Rani menitikkan air mata saat membuka email di cafe nya. Hal itu membuat Seunghyun merasa iba. Dia tahu kalau Rani sebenarnya punya masalah yang tidak ingin orang lain tahu. Dia juga tidak bisa memaksa Rani untuk bercerita karena Rani tidak ingin membicarakannya. Tidak ada yang bisa Seunghyun lakukan untuk menghibur Rani.
     “Waaah lihat lihat, tanggal 5 Februari besok Big Bang debut album terbaru mereka” ujar Eun Shi, salah satu karyawan Seunghyun, sambil menunjukkan surat kabar hari itu
     “Coba lihat” pinta Jung Ha ikut membaca di sebelah Eun Shi
     “Ah kalian ini Big Bang melulu” ujar Min Hyuk sambil membersihkan gelas dengan lap, “2ne1 donk kapan ada debut lagi” imbuhnya yang diikuti oleh anggukan kepala Jo Kwon dan Chun Hee. Eun Shi dan Jung Ha tidak peduli dan terus membaca sambil sesekali berkomentar.
     Seunghyun yang sedang berdiri bersama mereka langsung tersenyum, “kalian” panggil nya pada kelima karyawan nya yang langsung mendongak memandang dirinya yang senyum-senyum dengan heran
     “Anda kenapa, bos?” tanya Chun Hee
     “Bagaimana kalau kita mengundang Big Bang untuk promosiin cafe kita?”
     Eun Shi dan Jung Ha bertukar pandang dengan senyum merekah, “Setuju, Bos!” teriak mereka kegirangan
     “Kami tidak, Bos” bantah Jo Kwon di ikuti yang lain
     “Kenapa?” tanya Seunghyun
     “2ne1 aja, Bos. Jangan Big Bang” jawab Min Hyuk
     “Big Bang!!”
     “Iya. Harus Big Bang. Karena Rani juga penggemar mereka” ujar Seunghyun berpaling memandang Rani dari kejauhan
     Semua karyawannya mengikuti arah pandangan Seunghyun. Lalu saling bertukar pandang.
     “Beberapa hari yang lalu aku melihat Ms. Rani menangis” ujar Min Hyuk yang langsung dapat pukulan di lengannya
     “Kapan?” tanya Seunghyun langsung menatap Min Hyuk
     “Tiga hari yang lalu waktu Bos tidak datang” jawabnya sambil mengelus-elus lengannya karena pukulan Eun Shi
     “Kalian tahu kenapa dia nangis?”
     “Saya mendekati Ms. Rani dan bertanya, tapi dia bilang tidak apa-apa. Hanya kangen keluarganya” jawab Eun Shi, “tapi saya tahu kalau Ms. Rani nangis tidak karena itu” imbuhnya
     “Lalu?”
     “Saat saya meletakkan pesanannya Ms. Rani sedang bertengkar dengan seseorang di telpon” jawab Eun Shi, “saya kurang seberapa paham apa yang sedang dikatakan karena bahasa inggris. Dan cepat sekali. Sesekali Ms. Rani memanggil nama Felton”
     “Felton?” tanya Seunghyun yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Eun Shi
     “Sepertinya aku pernah baca nama itu di suatu tempat. Tapi aku lupa” kata Min Hyuk
     “Aku juga” jawab yang lain
     Hening sesaat karena semua berusaha mengingat dimana pernah membaca nama Felton.
     “Bos” panggil Eun Shi. Seunghyun memandang Eun Shi, “sebenarnya Ms. Rani melarang kami untuk memberitahu Bos kalau Ms. Rani menangis. Jadi Bos pura-pura tidak tahu apa-apa yaa”
     “Oke” jawab Seunghyun

     Satu bulan berlalu
     Rani sudah tidak lagi menangis tiap kali membalas email. Itu membuat Seunhyun sedikit merasa lega. Karena misi nya menyenangkan Rani belum di mulai.
     Dia sudah berbicara dengan manajemen YG Entertainment untuk mengundang Big Bang ke cafenya. Tapi karena jadwal tour Big Bang masih padat terpaksa Seunghyun harus menunggu dengan perasaan tidak sabar.
     Beberapa kali dia hampir keceplosan didepan Rani. Begitu juga dengan Eun Shi dan Jung Ha. Karena mereka sudah ingin sekali bertemu dengan Big Bang. Idola mereka.
     Pada pertengahan musim semi, saat Rani pulang dari kantor sore dan mampir di Cheonkug, dia heran sekali karena begitu ramai dan banyak orang. Serta beberapa mobil van yang diparkir didepan cafe yang mendadak penuh orang.
     Rani yang heran berdiri di belakang gerombolan cewek yang membawa spanduk dan accesoris VIP. Rani sempat terpana dengan senang tapi mendadak dia merasa kecewa. Dia tidak akan bisa masuk kedalam cafe dengan mudahnya karena para VIP tidak akan membiarkannya masuk seenaknya. Dengan menghela nafas kecewa, dia berbalik dan pulang. Tapi sebuah suara menghentikan langkahnya.
     “Rani!” panggil Seung Hyun dari lantai atas. Rani langsung mendongak. “Sini!”
     “Tidak bisa masuk!” balas Rani keras. Dari ekspresi wajah Rani, Seunghyun tahu kalau Rani sangat kecewa tidak bisa masuk.
     “Tunggu disana. Aku turun!” ujar Seunghyun lalu menghilang dari pandangan
     Rani berdiri diam menunggu di bawah pohon didekat mobil van silver. Tak berapa lama Seunghyun keluar dengan dikawal seorang bodyguard. Dia langsung mendekati Rani yang berdiri termenung memandang kerumunan cewek-cewek VIP.
     “Ayo masuk” ajak Seunghyun menggandeng tangan Rani erat dan kembali masuk ke dalam cafe. Bodyguard itu menghalau para VIP yang berdiri di depan cafe agar Seunghyun dan Rani bisa masuk kedalam.
     “Ada bodyguard nya segala hihihi” ujar Rani
     “Mereka disini karena Big Bang. Kalau tidak gitu bisa habis Big Bang di rebutin cewek-cewek histeris didepan itu” jawab Seunghyun membuat Rani terkikik geli, “mau ketemu Big Bang duu atau langsung ke atas?” tanya Seunghyun begitu mereka sampai di dalam.
     “Atas aja. Mereka sepertinya masih sibuk” jawab Rani
     “Kamu tidak seperti yang aku kira” ujar Seunghyun mengantar Rani ke atas
     “Kenapa memangnya?”
     “Kemarin kamu bisa histeris gitu waktu ngomongin Big Bang apalagi T.O.P. tapi sekarang waku orangnya ada dan kamu bisa berdekatan, foto bareng tapi reaksimu datar” jawab Seunghyun sedikit kecewa
     “Hahaha... aku orangnya memang aneh. Aku sendiri menyadarinya” ujar Rani, “aku simple orangnya..”
     “Dan aneh” tambah Seunghyun membuat Rani tertawa
     Suara tawa Rani membuat G-Dragon yang saat itu sedang melihat-lihat lantai atas langsung memandang ke arah Rani dan Seunghyun.
     “Tuh lihat, G-Dragon sedang melihatmu” ujar Seunghyun sambil menganggukkan kepala ke arah G-D. Rani langsung menoleh mengikuti pandangan Seunghyun. Dan benar saja, G-D sedang memandangi mereka.
     Rani tersenyum dan menganggukkan kepala tanda kalau dia menyapanya. G-Dragon pun ikut menganggukkan kepala dan tersenyum lalu kembali berjalan mendekati mereka.
     Rani langsung berpaling dengan gugup, “Kyaaaa dia kesini!” bisiknya heboh pada Seunghyun yang menahan tawa.
     “Anneyong aseo” sapa G-D setelah berada di sebelah Rani yang masih gugup sambil menahan detak jantungnya yang tiba-tiba berdetak cepat.
     “Anneyong aseo” balas Seunghyun tersenyum lalu mempersilahkan G-D duduk dan dia langsung duduk di depan Rani, di sebelah Seunghyun.
     “A, anneyong aseo” jawab Rani gugup
     “Sedang apa Seunghyun-ssi disini?” tanya G-D dalam bahasa korea
     “Menemani pelanggan setia” jawab Seunghyun, “namanya Rani Evans. Dia fans Big Bang. Tapi dia belum lancar bahasa korea” jawab Seunghyun memperkenalkan Rani pada G-D.
     G-Dragon mengulurkan tangan mengajak Rani bersalaman, “Kwon Jiyoung. Atau lebih tepatnya G-Dragon. Nice to meet you”
     Rani membalas uluran tangan G-D dengan gemetaran, “Rani Evans. Just call me Rani. Nice to meet you too” balas Rani tersenyum. Seunghyun berdehem menggoda Rani. “shut up” ujar Rani pelan. Membuat Seunghyun tertawa dan G-D tersenyum.
     “Hyung!” sebuah suara keras memanggil G-D yang langsung melambaikan tangan.
     Rani menoleh mencari asal suara, “Seungri!” ujarnya spontan tanpa berpikir. Seunghyun dan G-D bertukar pandang heran. “Must call my sister. She like Seungri very much” imbuhnya sambil mencari ponselnya di dalam tas. Setelah ketemu dia langsung menelfon adiknya, Billa.
     Dengan heboh dan dengan bahasa yang tidak mengerti Seunghyun maupun G-D, dia berbicara cepat dengan adiknya. Seunghyun dan G-D bertukar pandang geli. Begitu Seungri sudah didekat mereka, G-D langsung memberitahunya kalau adik dari perempuan didepannya penggemar beratnya.
     Seungri tersenyum dan ingin berbicara langsung dengan adik perempuan itu. Dengan sopan dia meminta ponsel Rani dengan bahasa korea yang langsung dipotong G-D dengan mengatakan kalau Rani belum lancar bahasa korea dan harus pakai bahasa inggris kalau ingin bicara ddengannya.
     “Bentar bentar ada yang ingin bicara sama kamu” ujar Rani pad adiknya sebelum akhirnya memberikan ponselnya pada Seungri. “Billa” tambahnya pada Seungri memberitahu nama adiknya.
     Setelah itu Rani cekikikan sendiri. Seunghyun geleng-geleng kepala
     “Ada apa sih?” tanya sebuah suara berat yang langsung membuat Rani diam dan memandang sosok tinggi di sebelahnya. Suaranya langsung hilang. Ekspresinya sulit di tebak karena tegang.
     Seunghyun memandangi Rani geli. Dia tahu kenapa tiba-tiba Rani diam seribu bahasa dan tak berkutik. Karena orang yang berdiri di sebelahnya adalah T.O.P.
     Selama sepuluh menit mereka, Big Bang, duduk bersama Rani dan Seunghyun. Rani diam tak berkutik karena T.O.P duduk di sebelahnya. Seunghyun sesekali tidak bisa menahan tawa melihat Rani yang nervous duduk bersebelahan dengan T.O.P.
     Berkali-kali Rani melontarkan pandangan jengkel pada Seunghyun yang berusaha menggoda Rani. Dan tiap kali godaannya sukses, dia tertawa terbahak diikuti personel Big Bang.
     Saat T.O.P hendak mengajaknya bicara, G-D memberitahu T.O.P kalau dia harus menggunakan bahasa inggris. T.O.P mengangguk mengerti.
     “Siapa namamu?” tanya T.O.P
     “R, Ra, Rani” jawab Rani gugup
     “Lebih gugup dari tadi” ujar G-D yang langsung membuat Seunghyun tertawa keras.
     “Sssstt” protes Rani pada Seunghyun yang tertawa makin keras
     “Kenapa?” tanya T.O.P
     “Tidak” jawab Rani pelan
     Tak berapa lama kemudian Min Hyuk datang dengan membawa cappuccino pesenan Rani dan memberitahu Seunghyun kalau pemilik cafe mencarinya dan foto sesion untuk Big Bang segera mulai dan mereka diminta bersiap.
     “Sebentar yaa” ujar Seunghyun pada Rani yang mengangguk
     “Kami juga permisi dulu. Nanti kita ngobrol lagi” ujar G-D sambil beranjak.
     Mereka berenam berjalan beriringan meninggalkan Rani. Rani memandangi mereka dengan senang. Seunghyun berjalan sambil ngobrol dengan G-D.
     “Min Hyuk, sandwichku mana?” tanya Rani pada Min Hyuk yang masih berdiri di sebelah Rani.
     “Astaga. Mianhae Rani-ssi”
     “Tidak apa-apa” ujar Rani, “kalau gitu aku pesan ramen saja”
     “Akan segera ku siapkan” jawab Min Hyuk langsung berjalan cepat meninggalkan Rani yang tersenyum.
     Sepeninggal Min Hyuk, saat Rani hendak meminum cappuccinonya, ponselnya berdering. Sebuah nomer baru tertera didisplay ponselnya. Dengan heran Rani menjawab.
     “Hallo?”
     “Ran..” sebuah suara yang sangat dikenalnya terdengar dari speaker ponselnya. Rani langsung terdiam, “Ran, ini aku. Kamu dimana? Bisa kita bertemu sekarang?”
     “Tidak bisa sekarang. Aku masih ada urusan” jawab Rani dingin
     “Please, Ran. Aku ingin bertemu denganmu. Kamu dimana sekarang? Aku kesana. Aku baru turun dari pesawat. Sebelum ke hotel aku ingin bertemu denganmu”
     “Nanti aku yang ketempatmu. Kamu di hotel mana?” tanya Rani setelah terdiam cukup lama. Orang itu menyebut sebuah hotel mewah dipusat kota, “oke. Setelah urusanku selesei aku langsung kesana” ujar Rani
     “Sedang telfon siapa, Ran?” tanya Seunghyun yang sudah berdiri di sebelahnya. Dengan cepat Rani mematikan ponselnya.
     “Ah hanya orang iseng” ujar Rani tersenyum.
     Meskipun Rani tersenyum, tapi Seunghyun tahu kalau Rani sedang tidak ingin tersenyum padanya. Dan dia tahu kalau orang yang tadi di telfonnya adalah orang yang selama ini membuat Rani sedih.
     “Foto sesionnya sudah dimulai?” tanya Rani sambil menerima ramen pesanannya dari Seunghyun
     “Sudah” jawab Seunghyun sambil meletakkan nampan dan duduk didepan Rani, “kamu tidak mau lihat?” tanya Seunghyun
     “Nanti saja. Aku lapar sekali. Cacing diperutku sudah underground-an” jawab Rani lalu menyantap ramen. Seunghyun tertawa.
     “Setelah foto sesion nya selesei, mereka memberi para karyawan kesempatan untuk foto bersama mereka. Bagianku boleh kamu ambil kalau kamu mau”
     Rani langsung tersedak ramen. Seunghyun mengulurkan segelas air putih pada Rani, “Serius?” Seunghyun mengangguk, “waaaa asik. Makasih yaa” ujar Rani senang.
     Ponselnya kembali berdering. Tapi Rani langsung mematikan ponselnya dan menonaktifkan nya. Seunghyun memandang Rani yang tersenyum terpaksa ke arahnya. Seunghyun hanya bisa mengangkat bahu dan berpaling.
     “Sebentar yaa, Ran” ujar Seunghyun langsung meninggalkan Rani tanpa menunggu jawaban Rani yang terpana sejenak lalu kembali menyantap ramennya.
     Dia mengaktifkan kembali ponselnya. Dan sebuah panggilan langsung masuk, “nanti aku ke tempatmu. Sekarang jangan ganggu dulu. Aku sedang sibuk. Aku masih di kantor”
     “Jangan bohong. Aku tahu kamu sudah pulang dari tadi. Suara siapa tadi? Pacar barumu?”
     “Iya. Dia pacarku. Kamu mau apa?”
     “Kamu tidak bisa pacaran dengan orang lain selain aku. Meskipun benar tadi pacarmu, tapi aku tahu kamu tidak mencintainya. Hanya aku yang kamu cintai. Kamu tidak akan bisa mencintai orang lain selain aku”
     Rani terdiam. Apa yang dikatakan orang itu memang benar. Selamanya dia tidak bisa mencintai orang lain selain dia.
     “Aku jemput kamu sekarang. Kamu dimana?”
     “Tidak usah. Nanti aku yang kesana”
     “Pokoknya aku jemput kamu sekarang. Aku sudah dijalan menuju rumahmu”
     “Tom, please. Jangan memaksa. Kamu tahu aku tidak suka di paksa. Aku janji setelah urusanku selesei aku ketempatmu”
     “Janji ya? Kalau sampai tidak kesini, aku yang akan kerumahmu”
     “Iya iya aku janji”
     “Baiklah. Aku tunggu kamu” telfon terputus
     Rani menghela nafas berat
     “What happen?” sebuah suara bertanya mengagetkan Rani. Rani mendongak. Ternyata G-D sedang berdiri di sebelahnya.
     “Nothing” jawab Rani tersenyum. G-D duduk didepan Rani, “sudah selesai?” tanya Rani. G-D mengangguk.
     “Seunghyun-ssi bilang kalau kamu mau foto bersama kami. Aku kesini mau mengajakmu kesana. Tapi sepertinya kamu sedang ada janji dengan orang lain”
     “Ah tidak kok. Dia bisa menunggu” jawab Rani
     “Kalau gitu ayo. Sudah waktunya kita foto”
     “Oke” jawab Rani mengikuti G-D yang beranjak dan berjalan kelantai bawah.
     Sesampainya di bawah, Rani melihat Seunghyun sedang berbicara dengan dua orang laki-laki paruh baya. Sedangkan para karyawan yang lain sedang berfoto dengan personil Big Bang yang lain.
     Dia memandang Seunghyun. Tapi Seunghyun sama sekali tidak melihatnya. Rani menghela nafas.
     “Dari tadi mengela nafas terus. Ada yang salah?”
     “Tidak ada” jawab Rani pada G-D yang sedari tadi berdiri disebelahnya.
     Kemudian mereka pun foto bersama. Pertama Rani foto dengan personel Big Bang satu persatu. Saat foto sama T.O.P, tanpa diduga T.O.P mencium kening Rani tepat saat blizt camera menyala. Dae Sung, Sungri, Taeyang dan para karyawn cafe langsung heboh. G-D memalingkan wajahnya dan hanya tersenyum sinis. Rani terpana. Seunghyun yang melihat dari jauh langsung mengepalkan tangannya.
     Setelah itu mereka foto berenam dengan berbagai gaya. Terakhir mereka duduk di salah satu tempat duduk di tengah ruangan, dengan segelas cappuccino ditangan mereka. G-D dan Rani membuat simbol hati dengan tangan mereka.
     Saat para kru hendak membereskan peralatan foto mereka, G-D meminta mereka untuk memfoto mereka satu kali lagi. Kemudian dia menarik Seunghyun, mengajaknya foto bersama.
     Setelah selesei dan para kru pulang tapi Big Bang dan presdir YG masih di cafe, Rani pamit pada Seunghyun yang dari tadi diam.
     “Aku pulang dulu” pamit Rani
     “Mau aku antar?” tanya Seunghyun
     Rani tersenyum, “tidak usah. Aku mau ke departemen store dulu sebelum pulang” ujar Rani lalu berjalan keluar dengan di antar Seunghyun sampai halte. Tapi bus yang ditunggu tak juga datang. Berkali-kali Rani melihat jam tangannya cemas. Seunghyun yang melihat hanya diam.
     Entah kenapa dia tidak ingin tahu dan tidak mau tahu. Dia tahu Rani sedang berbohong padanya saat ini. Dia tahu Rani tidak ingin ke departemen store tapi ketempat lain.
     Dan tanpa sadar, Seunghyun menghentikan sebuah taksi. Membuat Rani heran. “Cepat masuk. Nanti kamu terlambat. Sudah ditunggu kan?”
     “Seunghyun, aku..”
     “Tidak apa-apa. Aku ngerti kok. Sudah cepat masuk”
     Rani masuk kedalam taksi, “Mianhae” ujar Rani sebelum pintu tertutup.
     Seunghyun hanya diam dan memandangi taksi yang ditumpangi Rani hilang ditengah jalan yang padat pengendara. Lalu dia berbalik dan kembali ke cafe.

Rabu, 01 Januari 2014

Rani Evanz : Korean Story Pt. 1



     Rani duduk diam di sudut sebuah cafe yang berdiri di tengah kota Seoul. Secangkir cappuccino dan dua potong sandwich pesanannya belum dia sentuh sama sekali karena dia sedang asik membalas email. Jemarinya bergerak cepat di keyboard notebooknya.
     Setiap pulang kerja, dia selalu mampir di cheonkug cafe. Karena suasana cafe yang membuatnya merasa nyaman dan tenang. Tempat favoritnya adalah di lantai atas di luar ruangan dan berada di pojok. Menurutnya tempat itu adalah surga sesuai dengan arti cheonkug.
     Sudah lima bulan dia berada di Korea. Negara yang dia tidak pernah duga sebelumnya. Berawal dari sebuah iklan lowongan kerja yang dia lihat di internet. Di lihatnya iklan itu dan apply. Dan tanpa disangka dia diterima kerja sebulan kemudian. Alhasil, berbekal keyakinan diri dia pun berangkat ke Korea.
     Di negara yang dia tidak kenal siapapun, dia harus berusaha sebaik mungkin untuk bertahan hidup. Seminggu pertama dia tinggal di sebuah hotel murah yang berdekatan dengan kantor barunya. Setelah itu, dengan di antar teman satu kantornya, dia mencari sebuah kost yang sesuai dengan gaji yang di dapatnya. Setelah temannya tawar menawar dengan pemilik kost –karena dia belum lancar berbahasa korea- dia pun langsung menempati kost keesokan harinya.
     Mungkin lebih tepat jika disebut rumah bukan kost. Karena ada ruang tengah, dapur, kamar mandi dan kamar tidur. Dan karena letaknya di paling atas atau di atap, dia pun memiliki halaman yang luas. Dia senang bisa mendapatkan rumah tersebut. Dia menyewa nya selama satu tahun. Kalau pun nanti dia masih betah akan di perpanjang lagi kontraknya.

     “Sibuk sekali dari tadi. Sampai-sampai cappuccino buatanku jadi dingin” ujar sebuah suara mengagetkan Rani.
     “Seunghyun! Kau membuatku kaget” jawab Rani. Orang itu langsung duduk di sebelah Rani lalu mengintip notebook Rani yang langsung ditutupnya.
     “Sedang apa sih?” tanya Seunghyun.
     “Membalas email dari adikku” jawab Rani sambil memasukkan notebooknya ke dalam tas, “kamu ga kerja? Nanti dimarahi bosmu lho” ujar Rani lalu meminum cappuccino-nya.
     “Tenang aja. Lagi sepi ko” jawab Seunghyun, “tuh lihat pegawai yang lain lagi nyantai” tambahnya sambil menyandarkan punggungnya. Rani mulai memakan sandwich coklat keju kesukaannya.
     Selama sepuluh menit mereka hanya duduk diam.
     Lee Seunghyun adalah pegawai cafe cheonkug. Mereka mulai dekat sejak Rani mulai rutin mengunjungi cafe. Karena letak cafe yang searah dengan kantor dan rumahnya. Tiap kali Rani yang datang, tanpa memesan pun Seunghyun langsung membuatkan cappuccino dan sandwich.
     Kepribadian Rani yang ramah dan murah senyum membuat Seunghyun tertarik. Menurutnya, Rani enak di ajak ngobrol. Meskipun harus menggunakan bahasa inggris, tak membuat Seunghyun bosan. Dia pun dengan sabar mengajari Rani untuk bisa bahasa korea agar memudahkan Rani untuk beradaptasi.
     “Ran” panggil Seunghyun.
     “Ya?” jawab Rani setelah membersihkan mulutnya dengan napkin.
     “Besok ada rencana kemana?” tanya Seunghyun.
     “Tidak ada. Kenapa?”
     “Mau jalan denganku?”
     “Kemana?”
     “Kemana kaki melangkah” jawab Seunghyun enteng. Rani tertawa.
     “Baiklah kalau begitu”
     “Oke. Besok aku jemput jam sepuluh yaa” Rani mengangguk tersenyum.
     “Kalau begitu aku pulang dulu yaa”
     “Mau aku antar?”
     “Kamu kan masih kerja mana bisa mengantarku” Seunghyun hanya mengangkat bahu berharap bisa mengantar Rani pulang, “Besok aja yaa” tambah Rani lalu beranjak dari tempat duduknya.
     Seunghyun mengantar Rani sampai pintu depan cafe cheonkug. Setelah melambaikan tangan, Seunghyun langsung melepas apron yang dari tadi di pakainya dan memberikan pada salah satu pegawainya yang dengan sigap menerimanya dan menyimpannya di lemari.
     Kemudian Seunghyun masuk keruangannya. Dia sebenarnya adalah pemilik cafe cheonkug. Tapi sejak kedatangan Rani, dia menyamar menjadi pegawai agar bisa berkenalan dengan Rani. Dia ingin tahu apakah Rani mau berteman dengannya walaupun dia hanya pegawai cafe.


     Esok harinya, Seunghyun menjemput Rani di rumahnya dan membawanya jalan-jalan menyusuri jalanan kota Seoul.
     “Kamu mau makan apa?” tanya Seunghyun sore harinya.
     “Kamu bisa masak?” balas Rani
     “Bisa donk”
     “Kalau gitu bagaimana kalau kita masak sendiri aja untuk makan malam” ujar Rani. Seunghyun mengangguk setuju.
     “Baiklah kalau gitu. Kita masak di rumahmu saja yaa” Rani mengangguk, “kalau gitu kita belanja dulu yuk” ajak Seunghyun.
     Sebelum pulang mereka mampir ke grocery store membeli bahan-bahan masakan.
     “Mau di masakin apa?” tanya Seunghyun saat sudah berada di lorong sayuran.
     “Hmmm apa yaa..” Rani berpikir keras, “kalau sup rumput laut kamu bisa masaknya?”
     “Sup rumput laut? Kamu ulang tahun?”
     “Sebenarnya ulang tahunku kemarin hehe” jawab Rani nyengir
     “Yang benar?” tanya Seunghyun, “kenapa baru bilang sekarang?”
     “Hehe aku terbiasa ulang tahun sendirian” jawab Rani ringan sambil memilih wortel, “kalau kimchi kamu bisa? Lalu apa lagi yaa yang ingin aku makan hari ini”
     Seunghyun mengamati Rani dengan tatapan sayu. Jantungnya serasa berhenti berdetak mendengar jawaban Rani.
     “Seunghyun?” panggil Rani menyentak lamunan Seunghyun, “malah melamun di sini. Kita sedang belanja lho. Nanti saja melamunnya kalau sudah pulang”
     “Ah mianhae” ujar Seunghyun meminta maaf.
     Mereka lalu melanjutkan belanja. Seunghyun mengambil alih troli belanja dan mulai memilih-milih sayuran. Dia meminta Rani untuk tenang karena dia akan memasakkan makanan yang enak-enak untuk Rani. Setelah selesei memilih sayuran, Seunghyun beralih ke lorong daging. Dia langsung memesan daging sapi terbaik sebanyak tiga kotak ukuran sedang.
     “Kita beli soju juga yaa” ujar Rani saat hendak ke tempat kasir.
     “Boleh” jawab Seunghyun. Mereka pun langsung mengambil soju sepuluh botol. Seunghyun sempat protes tapi Rani memandangnya dengan tatapan memohon yang tak bisa di tolaknya.
     Sesampainya di rumah Rani, Seunghyun langsung membuka barang belanjaannya dan mulai menyiapkan masakan. Sedangkan Rani mencuci beras dan memasaknya di magic com kemudian membantu Seunghyun.
     “Ada yang bisa aku bantu?” tanya Rani mendekati Seunghyun dan berdiri di sebelahnya melihat tangan Seunghyun yang sedang sibuk memotong-motong sayuran.
     “Sudah kamu duduk saja”
     “Beneran??” Seunghyun mengangguk pasti. Rani tersenyum lalu kekamar mengambil notebooknya dan langsung online di meja makan sambil nunggu Seunghyun selesei masak.
     Dia buka email dan langsung terpana melihat beberapa email yang masuk. Dengan bergetar dia buka isi email dan membacanya perlahan. Tak ingin ada yang terlewat satu katapun.
     Setelah selesei membaca dia langsung beranjak menuju kantong belanja dan langsung mengambil tiga botol soju yang tadi di belinya. Seunghyun yang melihat berusaha melarang tapi saat melihat ekspresi wajah Rani, dia tidak jadi membuka mulutnya.
Rani membuka satu botol soju dan langsung dituang ke dalam gelas lalu meminumnya. Setelah dia minum lima gelas baru dia membalas email yang tadi di bacanya.
     Seunghyun memperhatikan Rani dari tempat dia memasak. Dia merasa Rani pasti punya masalah tapi dia tidak bisa memancing Rani untuk cerita. Karena Rani sosok yang sangat sulit untuk di pancing untuk masalah pribadinya. Karenanya dia bertekat untuk membuatkan masakan yang enak agar Rani sedikit terhibur.
     Selama satu jam Seunghyun memasak berbagai masakan. Dan Rani seolah-olah sudah lupa dengan Seunghyun yang berkali-kali ke depannya meletakkan masakan yang sudah selesi dia masak. Seunghyun pun tak ingin mengganggu Rani sampai semua masakan yang dia masak sudah siap.
     Tak jarang Seunghyun melihat Rani mengusap air mata di pipi nya yang tak sengaja menetes. Dan setelah itu langsung di teguk lagi soju yang ada di samping notebooknya. Ada tiga botol soju yang sudah kosong disebelahnya. Seunghyun pun hanya bisa menghela nafas melihat Rani.
     “Ran..” panggil Seunghyun yang berdiri di depan Rani di seberang meja
     “Ya?” jawab Rani langsung mendongak. Dan pada saat bersamaan air matanya kembali menetes. Cepat-cepat dihapusnya, “mianhae”
     “Ada apa denganmu? Apa ada masalah?” tanya Seunghyun sambil duduk di depan Rani dan memandang Rani dengan penuh khawatir.
     “Tidak ada apa-apa kok” jawab Rani tersenyum. Berusaha terlihat ceria didepan Seunghyun, “sudah selesei masak? Whoaaa. Banyaknya. Kelihatannya enak-enak” imbuhnya langsung menutup notebooknya dan menaruh disebelahnya.
     Seunghyun masih memandang Rani dengan pandangan yang sulit untuk di artikan. Lalu menghela nafas dan mengajak Rani makan dengan tersenyum, “ayo makan”
     Rani tersenyum senang dan langsung mengambil sumpit dan mencoba satu-satu masakan Seunghyun, “enaaaaakkk” ujar Rani membuat Seunghyun tertawa.
     “Agar sedikit lebih meriah, gimana kalau sambil dengerin musik?” tanya Seunghyun
     “Setujuuuuu” jawab Rani langsung sambil mengangkat sumpitnya yang lagi-lagi membuat Seunghyun tertawa
     “Mau lagu apa?”
     “Big Bang” jawab Rani langsung
     “Kamu VIP?”
     “Iya dong. VIP sejati hohoho” jawab Rani sombong
     Seunghyun mencari kepingan cd Big Bang di laci dan tanpa kesulitan dia dapat apa yang di carinya. Karena rata-rata kepingan cd yang di laci Big Bang semua. Seunghyun hanya geleng-geleng kepala. Kemudian dia memasukkan kepingan cd ke dalam cd player di depannya. Setelah menekan tombol play, langsung mengalun lagu favorite Rani yang berjudul ‘Blue’
     Begitu mendengar lagu itu, tangan Rani yang hendak menyuapkan daging berbalut sayur ke mulutnya langsung terhenti sesaat dan pandangannya langsung kosong sejenak. Dia langsung tersadar kalau ada Seunghyun di depannya yang sedang memperhatikan dirinya. Dengan senyum simpul dia melanjutkan suapannya.
     “Hey, nasi nya juga di makan dong” protes Seunghyun memecah keheningan yang sempat menyelimuti ruangan. Rani nyengir lalu mengambil sendok dan memakan nasi yang sudah tersedia di depannya.

     Setelah selesei makan dan membereskan meja dan mencuci piring dan mangkok, mereka duduk di dipan di halaman rumah Rani sambil menikmati soju dan snack.
     “Ran, boleh aku tanya sesuatu?” tanya Seunghyun.Rani mengangguk sambil meminum soju. “Apa hal yang paling kamu inginkan?”

     “Apa yaa..” Rani berpikir sambil memandang langit malam yang tanpa bintang, “mungkin bertemu dengan Big Bang dan foto sama T.O.P kyaaaaaa” jawab Rani yang langsung histeris
     Seunghyun terpana melihat Rani yang bersikap begitu. Sampai dia kehilangan kata-kata. Rani menoleh memandang Seunghyun yang menatapnya heran.
     “Kenapa?” tanya Rani. Kontan Seunghyun tersentak dan langsung menggeleng
     “Tidak ada” jawab Seunghyun lalu menegak sojunya
     “Heran ya?” ujar Rani tertawa, “jangan heran kalau udah ngomongin Big Bang aku bisa hilang kendali hihihi. Apalagi kalau ngomongin T.O.P”
     “Yeah bisa ku lihat kok” jawab Seunghyun membuat Rani tertawa lepas. Seunghyun tersenyum.
     Mereka berbagi cerita sambil minum soju hingga larut malam. Seunghyun heran betapa kuatnya Rani minum soju. Meskipun sudah habis tiga botol soju sebelum makan dan empat botol setelah makan tak membuatnya mabuk.
     “Ran, tadi kamu kenapa nangis?” tanya Seunghyun
     Rani terdiam memandang langit. Pandangannya menerawang, “tidak ada apa-apa, Seunghyun” jawab Rani
     “Tapi..”
     “Aku tidak ingin membicarakan itu sekarang dan seterusnya” jawab Rani memotong kata-kata Seunghyun sambil tersenyum ke arah Seunghyun
     “Baiklah. Tapi kalau kamu ingin cerita kamu tahu harus kemana” ujar Seunghyun setelah menghela nafas mengalah
     “Iya. Aku akan ke Min Hyuk” jawab Rani lalu meminum soju
     “Hey! Kok Min Hyuk?!” protes Seunghyun. Rani tersedak dan tertawa keras
    “Araseo araseo” jawab Rani sambil menghapus air mata di sudut matanya karena terlalu banyak tertawa