Jumat, 03 Januari 2014

Rani Evanz : Korean Story Pt. 3



     Rani menelfon Felton memberitahunya kalau dia sudah dijalan menuju hotel. Felton senang dan memberi tahu nomer kamarnya.
     Sesampainya di hotel, Rani bertanya pada bagian resepsionis dimana tepatnya kamar 1306. Setelah itu dia langsung memasuki elevator dan kekamar Felton.
     Rani menekan bel sekali dan pintu langsung terbuka. Dia melihat sesosok laki-laki yang sangat dia rindukan tapi juga laki-laki yang ingin dia lupakan. Felton menyambut Rani dengan wajah senang. Tapi Rani hanya diam dan tanpa ekspresi.
     Tanpa berkata apa-apa, Rani langsung masuk ke dalam. Menaruh tasnya lalu membuka lemari pendingin. Dia melihat ada beberapa soft drink, snack dan soju. Tanpa pikir panjang, Rani mengambil soju, menutup lemari pendingin, membuka tutup botol soju dan langsung meneguknya.
     Tapi tangan Felton lebih cepat. Sebelum Rani meminumnya terlalu banyak, Felton merebut botol soju dari tangan Rani, “HEY!”
     “Sejak kapan kamu jadi suka minum?” tanya Felton sambil meletakkan botol soju kembali kedalam lemari pendingin.
     “Bukan urusanmu” jawab Rani sambil mengambil botol sojunya dan berjalan kesofa lalu menyalakan tv. Felton hanya menghela nafas.
     “Aku jauh-jauh datang kesini untuk bertemu denganmu”
     “Bagaimana kamu bisa tahu aku di korea?” tanya Rani tanpa memandang Felton yang duduk di sebelahnya
     “Aku sewa detektif swasta” jawab Felton memandangi Rani yang mengacuhkannya dan asik nonton tv. “Ran, aku kangen kamu”
     “Hmmm” jawab Rani
     Felton menghela nafas sambil bersandar lalu ikut nonton drama lokal yang sedang dilihat Rani.
     “Sudah larut. Aku harus pulang besok aku kerja” ujar Rani sambil berdiri. Felton tersentak kaget
     “Tidak bisa kah kamu tidur disini malam ini?” tanyanya memelas
     “Tidak bisa. Aku tidak bawa baju untuk kerja besok”
     “Besok pagi kita beli baju buat kerja. Please Ran jangan tinggalin aku sendiri”
     “Tidak bisa, Tom” jawab Rani, “aku harus pulang. Besok aku banyak kerjaan”
     Felton memeluk Rani dari belakang dan meletakkan kepalanya dibahu Rani. Rani mendesah. Mencoba melepas pelukan Felton. Tapi Felton semakin erat memeluk Rani.
     “Baiklah baiklah, aku tidur disini malam ini” ujar Rani mengalah. Felton senang sekali dan langsung membopong Rani dan membawanya ketempat tidur, “lepaskan” ujar Rani sambil berontak.
     “Jangan meronta nanti kamu jatuh lho” kata Felton tertawa
     “Lepaskan aku!” ujar Rani lagi. Felton meletakkan Rani di tempat tidur. Dan dengan cepat, Rani kembali bangun dan kembali ke sofa. Tapi tangan Felton menariknya kembali. Membuatnya terhempas ditempat tidur. Felton langsung menahan Rani. Menindihnya. “Mau apa kamu?” tanya Rani memandang Felton yang dari tadi menatapnya.
     Dengan perlahan Felton mendekatkan wajahnya ke wajah Rani yang langsung berpaling. Felton tersenyum lalu mulai menciumi leher Rani yang sekuat tenaga menahan rasa geli.
     “Tom, please jangan. Besok aku kerja. hentikan. jangan di leher”  Rani berusaha mendorong Felton dari atas nya. Tapi tidak berhasil. Karena Felton lebih kuat darinya.
     Jemari Felton mulai membuka kancing baju Rani satu persatu, “aku mohon hentikan” pinta Rani memelas. Tapi Felton tak menghiraukannya.

     Tengah malam Rani terbangun. Dia duduk diam memandang sekeliling. Lupa dia sekarang ada dimana. Dia merasa ada gerakan pelan di sebelahnya. Dia menoleh dan dia melihat Felton tengah tertidur pulas. Rani tersenyum, membungkuk dan mencium kening Felton. Lalu dia turun dari tempat tidur dan berjalan ke sofa.
     Dia menelfon bagian room service untuk di antarkan beberapa makanan  serta beberapa botol sherry. Selesai menelfon Rani kembali menyalakan tv. Tapi pikirannya sedang tidak terfokus pada acara tv.
     Suara bel yang ditekan room service membangunkan Felton. Dia melihat Rani sedang menonton tv dan tiak mendengar suara bel. Dengan sedikit malas dia bangun, mengenakan mantel tidurnya dan berjalan ke arah pintu.
     “Room service, Sir”
     “Sapa yang memesan?”
     “Disini tertulis atas nama Ms. Evans”
     “Oke. Thanks” jawab Felton sambil menerima nampan yang di ulurkan room service.
     “You’re welcome, Sir. Good night, Sir”
     Felton hanya mengangguk lalu menutup pintu kamar dengan kakinya.
     “Ran, kamu memesan ini?” tanya Felton sambil mendekati Rani yang ternyata sedang melamun, “Ran” panggil Felton pelan yang langsung membuyarkan lamunan Rani
     “Ya?”
     “Kamu yang pesan ini?”
     “Lhoh? Kapan datangnya?” tanyanya pada Felton yang meletakkan nampan dimeja didepan Rani lalu didi disamping Rani
     “Baru saja” jawab Felton, “apa-apaan ini? Tiga botol sherry?” protes Felton
     “Tidak apa-apa kan. Toh kamu yang bayar” ujar Rani enteng sambil mengambil daun selada dan bulgogi, “kalau aku tidak bisa beli sherry. Bisanya cuma beli soju murahan di pinggir jalan”
     “Bukan itu masalahnya, Ran, sejak kapan kamu jadi suka minum seperti ini?”
     “Dua-tiga tahun lalu” jawab Rani sebelum menyuap bulgogi berbalut daun selada, “aku lapar. Jangan mengajakku debat” tambahnya langsung saat Felton hendak membuka mulut.
     Felton pun langsung diam dan hanya mengamati Rani
     “Mau?” tanya Rani
     “Boleh. Coba suapin satu aja” Rani membalut bulgogi dengan daun selada sebelum menyuapkan ke mulut Felton. “Makanan apa nih? Rasanya aneh begini” tanya Felton dengan mulut penuh.
     “Ini makanan khasnya korea” jawab Rani lalu menusuk satu kue beras yang berbalut saus merah pedas dan menyuapkan lagi ke Felton yang langsung menjauh sambil menggeleng.
     “Satu satu donk. Masih penuh nih” tolaknya
     “Enaknya makan yaa gini. Ini juga khasnya orang korea” ujar Rani menyuapkan kue beras ke mulutnya sendiri. Felton memandangi Rani dengan geli, “kenapa cengar cengir?” tanya Rani memandang Felton dengan mulut penuh dan ada saus disudut mulutnya.
     “Satu lagi hal yang membuatku tertarik sama kamu” jawab Felton. Rani langsung mendengus dan kembali berpaling pada makanannya yang masih banyak, “kamu tahu, Ran, kamu itu sulit untuk di lupakan dan sulit untuk di acuhkan. Kamu itu lucu”
     “Sok tahu” bantah Rani, “ini. Mau nyoba tidak?” tanya Rani mengulurkan kue beras pada Felton.
     Dengan tersenyum geli, Felton maju dan menyantap kue beras yang di sodorkn Rani pada nya. Namun baru satu kunyah, Felton sudah lari kekamar mandi dan memuntahkan kue beras yang baru saja dia makan.
     “Kenapa?” tanya Rani saat Felton berjalan kembali ke arahnya.
     “Pedas” jawab Felton setelah meminum satu gelas air putih, “kamu mau membunuhku?” omelnya sambil duduk lagi di sebelah Rani.
     “Hehe maaf aku lupa kamu tidak suka pedas” ujar Rani meringis menatap wajah Felton yang merah karena kepedasan, “tapi pedas itu enak lho, sayang. Ini saja tidak seberapa pedas sebenarnya” tambahnya.
     “Tidak seberapa pedas?!” tanya Felton heran. Rani mengangguk-anggukkan kepala. Felton hanya geleng-geleng kepala lalu menyandarkan tubuhnya disandaran sofa, “Ng... Ran, kamu tadi bilang apa?”
     “Apa?” balas Rani menoleh.
     “Tadi lho”
     “Apa sih?”
     Felton mendengus, “Sudahlah lupakan” jawabnya kesal
     “Malah marah. Kamu kenapa sih tiba-tiba sensi begitu” ujar Rani sambil membersihkan piring lalu membersihkan mulutnya dengan napkin. Tapi Felton hanya diam tanpa melihat Rani.
     Dengan mengangkat bahu Rani beranjak.
     “Mau kemana?”
     “Cuci tangan. Kenapa?”
     Felton diam lagi. Sampai Rani duduk di sebelahnya lagi pun dia masih diam sambil sesekali melirik Rani yang sedang membuka-buka majalah. Karena tidak di perhatikan, Felton langsung menyandarkan kepalanya ke bahu Rani.
     “Ran..”
     “Iya?” jawab Rani masih membolak balik halaman majalah, “waah sudah pukul dua. Harus tidur sekarang, nanti masuk pagi” ujarnya setelah melihat jam dinding di atas tv, “ayo tidur” ajaknya pada Felton yang langsung nyengir.
     “Memangnya pukul berapa kamu masuk kantor?” tanya Felton sambil mengikuti Rani ke tempat tidur.
     “Sepuluh” jawab Rani, “tapi kan nanti harus pulang dulu ganti baju” imbuhnya, “atau pulang sekarang saja yaa terus tidur dirumah” ujarnya berdiri di sebelah tempat tidur berpikir.
     “Tidur disini” kata Felton tegas.
     “Tapi..” bantah Rani. Felton menggeleng.
     “Nanti ke butik sebelum kamu berangkat kerja. Pulang kerja mampir rumah, bawa baju ganti lalu tidur disini lagi”
     “Haaa.. sampai kapan aku harus tidur disini??”
     “Sampai aku pulang ke London”
     “Kapan?”
     “Bulan depan” jawab Felton sambil merebahkan diri.
     “WHAT?!” ujar Rani keras. Felton tersenyum senang melihat ketidak percayaan Rani. “tidak mau. Aku tidak mau kalau harus setiap hari berada di hotel”
     “Lalu? Aku harus tinggal dimana? Dirumahmu?”
     Rani berpikir keras. Memikirkan baik buruknya kalau Felton tinggal di rumahnya selama satu bulan, “kamu tinggal disini saja deh” putusnya lalu ikut merebahkan tubuhnya di sebelah Felton yang langsung memeluknya, “tapi sesekali aku boleh tidur di rumah yaa?” pintanya
     Felton memandang Rani yang menatapnya memelas, “baiklah. Tapi dengan satu syarat”
     “Apa?”
     “Aku juga akan tidur di rumahmu”
     “Oke” jawab Rani, “tapi jangan mengeluh yaa nanti kalau tidur di rumahku” Felton mengangguk.
     Tak berapa lama kemudian mereka tertidur pulas.

     Paginya, dengan di antar Felton, Rani berangkat kekantor dengan terburu-buru karena terlambat bangun.
     “Nanti aku jemput yaa” ujar Felton
     “Tidak usah. Nanti aku naik taksi kembali ke hotel” jawab Rani, “sudah yaa aku kerja dulu. Sudah terlambat dua menit”
     “Iya” jawab Felton lalu mencium kening Rani sebelum Rani keluar dari mobil hotel yang disewa Felton.
     Sepulang kerja Rani langsung kembali kerumahnya dan memasukkan beberapa baju kerja serta baju untuk sehari-hari ke dalam tas besar. Setelah itu dia langsung kembali ke hotel.
     “Lama sekali sih” protes Felton saat membuka kan pintu untuk Rani yang langsung masuk dan meletakkan tas di tempat tidur.
     “Maaf. Tadi busnya lama sekali datang nya”
     “Kamu naik bus kesini?” tanya Felton. Rani mengangguk dan langsung mulai memasukkan baju-baju nya ke dalam lemari, “tahu begitu aku jemput kamu tadi” imbuhnya jengkel. Rani hanya tersenyum.
     “Tidak perlu marah. Aku senang kok naik bus”
     “Mau aku belikan mobil?” ujar Felton sambil duduk di sebelah tas Rani.
     “Tidak perlu. Aku tidak lama kok disini. Kalau kontrakku sudah habis, aku sudah tidak disini lagi”
     “Lalu mau kemana setelah dari sini?”
     “Entah. Masih belum terpikirkan” jawab Rani, “yang pasti kembali dulu ke Indonesia, lalu terserah takdir membawaku kemana”
     “Tidak mau kembali ke London?” tanya Felton pelan. Rani langsung terdiam sejenak, “kita bisa memulai lagi dari awal. Aku akan menikahimu kalau itu maumu” tambahnya pelan. Rani menunduk didepan lemari.
     “Menikah denganmu memang hal yang sangat aku inginkan. Tapi tidak bisa. Aku tidak bisa menikah denganmu” jawab Rani berbalik memandang Felton.
     “Kenapa?” tanya Felton
     “Entahlah. Aku merasa kita hanya ditakdirkan untuk bertemu. Tidak ditakdirkan untuk menghabiskan sisa hidup kita bersama. Kita tidak berjodoh” jawab Rani tersenyum.
     Felton langsung membuang muka, “melihatmu tersenyum seperti itu saat menjawab kata-kata seriusku, membuatku sakit hati”
     Rani mendekati Felton. Mencium kening pria itu lalu kembali pada baju-bajunya. Felton diam memperhatikan Rani yang masih sibuk.
     “By the way, kamu tidak ada syuting?” tanya Rani membuyarkan lamunan Felton.
     “Bulan depan syuting film terbaruku dimulai” jawab Felton, “makanya aku ingin bertemu denganmu sebelum syuting dimulai”
     “Tentang apa?” tanya Rani sambil duduk di sebelah Felton.
     “Film drama tentang sepasang kekasih yang berbeda negara”
     “Hey, itu kan kisah kita” ujar Rani sambil memukul lengan Felton pelan. Felton langsung terbahak, “Serius donk”
     “Yaa tentang harry potter laah. Buku ke enam” jawab Felton masih dengan tawa.
     “Waah sudah buku keenam yaa” ujar Rani, “aku tidak sabar menunggu. Peran kamu banyak tidak?”
     “Banyak laah. Paling tidak ada 35% dari si Radcliffe itu”
     “Oya, bagaimana kabar mereka? Aku kangen sekali dengan mereka”
     “Baik. Emma masih sering menanyaiku soal kamu” jawab Felton, “tapi kamu sama sekali tidak kangen padaku kan?” pancing Felton melirik Rani
     “Sama sekali tidak” jawab Rani menggeleng-gelengkan kepala.
     Dengan cepat Felton langsung menggelitiki Rani yang langsung meronta karena kegelian. “Hentikan hentikan hihihi iya iya aku kangen kamu”
“Terpaksa bilangnya” ujar Felton masih menggelitiki Rani yang terkikik geli. Mendadak Felton memegang tangan Rani dan menahannya. Dengan perlahan dia mendekatkan wajahnya. Felton mencium bibir Rani dengan penuh kemesraan yang dibalas Rani mesra pula.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar