Jumat, 17 Januari 2020

SERIAL RANI - I : BACK AGAIN



Rani berdiri memandang hamparan Sungai Thames yang membentang membelah kota London. Matanya melihat London Eye yang tengah berputar pelan, menunjukkan pemandangan Kota London yang indah kepada turis yang duduk di dalamnya.

Dia menghela nafas. Saat nekat pergi ke London dia tidak berpikir jernih. Dia hanya ingin mendatangi undangan reuni yang dia terima dari kampusnya dulu. Sebelum berangkatpun dia tidak memikirkan akan tinggal dimana dengan serius. Yang ada di benaknya hanyalah mendatangi reuni dan mencari kerja. Karena dia tidak ingin berlama-lama menganggur dan menjadi beban kedua orang tuanya.

Sepulangnya dari Korea Selatan, dia hanya berada di rumah tanpa melakukan apa-apa. Sesekali dia membuka website lowongan pekerjaan namun tidak ada yang menarik minatnya. Entah kenapa dia merasa tidak nyaman jika harus bekerja dekat dengan rumah.

Kedua orang tuanya tidak meminta Rani untuk cepat bekerja kembali. Mereka ingin menikmati waktu kebersamaan mereka lebih lama. Selama ini Rani sudah tidak tinggal bersama mereka sejak masuk sekolah menengah. Karena itu lah saat Rani memutuskan untuk pulang setelah lima tahun bekerja di Korea Selatan, kedua orang tua Rani sangat senang.

Where should I go?” gumamnya galau. Dia benar-benar pusing.

Dulu saat masih kuliah di Cambridge Univercity dia mendapat sebuah studio apartment dari saudara angkatnya, Daniel Radcliffe. Meskipun studio apartment nya itu sudah atas nama nya tapi tetap saja Daniel Radcliffe yang lebih berhak. Dan karena sudah hampir sepuluh tahun dia tidak datang lagi ke London, besar kemungkinan studio nya sudah di jual oleh saudara angkatnya.

Dia tidak ingin bertanya kepada Daniel karena dia tidak ingin kedatangannya kali ini di ketahui oleh mereka. Dia ingin bernostalgia di London tanpa gangguan dari orang-orang di masa lalunya. Dia ingin membuka lembaran baru untuk masa depannya.

Setelah memikirkannya masak-masak, Rani menyeret kopernya menuju studio apartmentnya yang dulu. Dia akan bertanya pada resepsionis gedung apakah studionya masih miliknya apa sudah jadi milik orang lain. Kalaupun dia mendapatkan kemungkinan terburuk bahwa studio nya sudah bukan lagi miliknya, dia akan mencari losmen murah yang dekat dengan kampusnya.

Dia memasuki lobby apartment dengan harap-harap cemas. Karena hari sudah beranjak malam dan dia belum mendapatkan tempat tinggal. Begitu sampai di meja resepsionis, Rani melihat seorang wanita tengah asik menelpon. Rani menyapa, membuat wanita itu sedikit terlonjak karena kaget.

Rani tersenyum sambil meminta maaf. Kemudian mengutarakan maksud kedatangannya. Wanita itu meminta identitas Rani untuk memastikan bahwa unit yang di maksud Rani memang masih milik Rani.

Rani menunggu sambil melihat sekeliling lobby. Dia memperhatikan bahwa tidak banyak perubahan yang di lakukan pemilik gedung. Wanita recepsionis itu mengiyakan pernyataan Rani dengan mengatakan bahwa sang pemilik gedung memang tidak banyak merubah apa yang ada di lobby. Hanya perbaikan kecil untuk beberapa tempat yang memang membutuhkan perbaikan.

Si resepsionis telah memastikan bahwa unit yang ditanyakan Rani masih atas namanya. Kemudian wanita itu memberikan kunci yang dia simpan di kotak dengan nomor unit milik Rani. Wanita itu juga menyerahkan secarik kertas nota berisi pesan jika suatu saat Rani kembali untuk di serahkan kepada Rani. Rani menerimanya dengan bingung namun tetap berterima kasih kepada si resepsionis karena telah menjaga unitnya. Si resepsionis menjawabnya dengan senyum manis.

Rani berjalan menuju lift yang akan mengantarnya ke lantai dimana unitnya berada. Dia lega karena tidak harus banyak mengeluarkan uang untuknya tidur. Dia hanya perlu memikirkan untuk segera mendapatkan kerja yang sesuai dengan kemapuannya. Dia berharap saat reuni nanti ada job fair, agar dia tidak pusing untuk melamar kerja di mana.

Rani membuka pintu studio nya. Bau sedikit apak langsung menyerbu hidungnya. Buru-buru dia menutup pintu setelah memasukkan kopernya lalu membuka jendela agar sirkulasi udara di studionya bergerak.

Setelah membuka semua jendela, Rani membuka kain putih penutup furniture di studionya. Seingatnya dia tidak sempat menutup barang-barang di studionya dengan kain. Namun dia tidak terkejut jika ada kain penutupnya. Mungkin Daniel yang melakukannya. Karena saat dia kembali ke Indonesia dia menyerahkan kunci studionya pada Daniel.

Selama tiga jam lebih Rani membersihkan studionya. Membuka semua kain penutup, melipat kainnya dan menyimpannya ke dalam sebuah kardus, lalu menyimpan kardusnya, menyedot semua debu di seluruh studionya, mengepel lantainya, mengelap semua meja dan jendela, membersihkan counter dapur, mengecek isi lemari es, membuka semua pintu counter dan lemari agar tidak terlalu berbau apak nanti saat dia meletakkan barang-barangnya.

Setelah selesai, Rani merebahkan tubuhnya di kamar yang berisi audio visual dan sebuah sofa bed. Dua buah rak tinggi mengapit televisi berukuran empat puluh inchi yang di tempelkan di dinding. Di bawahnya terdapat compact disc player yang lengkap dengan speaker home theater.

Rak-rak yang mengapit nya berisi koleksi musik-musik dan film-film serta drama favorit Rani -yang kebanyakan drama korea- di sebelah kiri dan koleksi novel-novel kesukaan Rani di sebelah kanan. Kebanyakan musik favorit Rani adalah K-Pop, khusunya Big Bang. Entah kenapa sejak Rani mengenal Big Bang, dia tidak bisa lepas dari lagu-lagu mereka. Menurut Rani, lagu-lagu milik Big Bang lebih mencerminkan apa yang dia rasakan selama ini. Karena itu dia sangat menyukai mereka.

Bahkan mereka saling mengenal dan sering bertukar kabar di waktu senggang. Rani harus berterima kasih kepada Shim Seunghyun untuk itu karena telah mempertemukannya dengan Big Bang saat dia masih berada di Korea Selatan. Saat itu, Shim Seunghyun yang mengetahui kalau Rani sangat menyukai Big Bang, mengundang Big Bang untuk datang ke cafe miliknya untuk mempromosikan cafenya.

Dan sejak saat itulah pertemanan terjalin di antara mereka. Terkadang Kwon Jiyong atau yang lebih dikenal dengan G-Dragon, datang ke cafe Seunghyun hanya untuk sekadar mengobrol dengan Seunghyun dan Rani untuk melepas penat karena kesibukannya.

Sambil beristirahat, Rani menyalakan lagu milik Big Bang. Dia tiduran dengan masih mengenakan apron dan penutup rambut sambil memainkan ponselnya. Jendela kamar yang lebar dan tinggi, menampilkan suasana kota London yang mulai gelap. Lampu-lampu jalan membuat suasana malam di London terkesan romantis jika di lihat dari lantai tiga belas, tempat studio Rani berada.

Berada di London, membuat Rani merindukan sosok kekasih hatinya yang sudah lama tidak dia temui. Pertemuan terakhir mereka terjadi di tahun keduanya di Korea Selatan. Saat itu tanpa sepengetahuan Rani, kekasih hatinya menyusul ke Korea Selatan demi bertemu dengannya. Meskipun saat itu terjadi insiden yang membuatnya ingin berpisah untuk selamanya dengan sang kekasih hati, tapi tetap saja hatinya tidak bisa di bohongi betapa dia masih sangat mencintai kekasihnya itu.

Sudah beberapa kali berusaha melepas bayang-bayang sang kekasih dengan berganti-ganti pacar, namun tetap saja tidak ada yang bisa membuatnya berpaling dari sang kekasih. Hal itu membuatnya sedikit frustasi. Dia benar-benar ingin melupakannya namun tidak bisa. Membuatnya seakan terikat dengannya.

Tanpa dia sadari karena terlarut dalam lamunan dan rasa rindu, dia mengirim email kepada sang kekasih mengajaknya untuk bertemu. Setelah dia memencet icon send di emailnya, dia tertidur karena lelah setelah seharian berada di dalam pesawat dan dia langsung membersihkan studionya begitu sampai.


Rani terbangun karena dering ponselnya. Dengan masih mengantuk dia meraih ponselnya dan menjawab telponnya. Sebuah suara yang sangat dia rindukan membuat matanya langsung terbuka. Dengan sedikit gugup Rani menjawabnya.

Si penelpon mengajak Rani untuk bertemu di sebuah café. Rani mengiyakan lalu memutuskan sambungan dan beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia merutuki kebodohannya karena memberitahukan keberadaannya di London. Namun nasi sudah menjadi bubur. Mau tidak mau dia harus menemui kekasihnya.

Dia sudah mengira akan begini jadinya. Karena dia memang sangat merindukan kekasihnya itu. Meskipun dia berusaha keras untuk tidak menghubunginya, tetap saja saat berada di London, dia ingin bertemu dengannya walau cuma sebentar.

Selesai membersihkan diri, Rani bersiap untuk pergi. Dia mengenakan celana jeans ketat di padu dengan tshirt putih lengan pendek. Tak lupa pula dia mengenakan jaket panjang hingga lutut berwarna coklat serta scraf warna orange kesukaannya melingkar cantik di lehernya. Karena sudah memasuki musim gugur, udara semakin dingin.

Rambut lurus sebahunya di biarkan tergerai. Dia memakai sepatu sneaker dan mengoleskan lip balm sebelum keluar dari studio agar bibirnya tidak terlalu kering karena dinginnya udara malam hari.

Rani menghentikan sebuah taksi yang melintas di depan studionya. Mengatakan kemana dia pergi sebelum sopir taksi itu menjalankan taksinya. Rani membuka email-email nya yang belum sempat dia buka seharian ini. Beberapa email menawarinya asuransi jiwa dan lowongan pekerjaan. Satu email dari adiknya yang memintanya untuk segera menghubunginya begitu sampai di London. Satu email dari Shim Seunghyun menanyakan kabarnya. Dan satu email dari Kwon Jiyong yang juga sama menanyakan kabarnya serta memberitahu bahwa Big Bang sedang mengadakan World Tour dan jika Rani sedang tidak sibuk, Kwon Jiyong memintanya untuk datang ke konser karena dia ingin bertemu.

Rani tersenyum saat membaca email dari Kwon Jiyong. Leader Big Bang yang entah kenapa dia sangat suka berada di dekatnya. Kwon Jiyong membuatnya nyaman. Saat berada di dekatnya, beban kesedihan yang dia rasa langsung menguap. Seakan dia mendapatkan suntikan energi hanya dengan mengobrol santai dengannya.

Rani membalas email dari Kwon Jiyong, mengatakan bahwa dirinya saat ini berada di London sampai tiga bulan kedepan jika dia belum juga mendapatkan pekerjaan. Tak lupa pula dia mengatakan dengan senang hati akan menemuinya saat konser di London.

Tak perlu menunggu lama, balasan email dari Kwong Jiyong sudah masuk ke inbox Rani. Rani membuka email itu yang mengatakan kalau Kwon Jiyong senang dengan jawaban Rani yang sesuai harapannya. Dia juga melampirkan undangan khusus untuk Rani yang akan ditunjukkan kepada panitia konser di London agar Rani bisa masuk ke ruang ganti.

Setelah dia mengirim balasan berterima kasih, taksi yang membawanya sudah sampai di tujuan. Rani memberikan ongkos taksi kepada sopir lalu turun dan memasuki café setelah terdiam cukup lama sambil memandangi nama café yang terletak di atas pintu masuk.

Rani memilih tempat duduk di sudut ruangan agar dia tidak terlalu di perhatikan oleh pengunjung yang lain. Seorang pramusaji mendatanginya, menuangkan air putih di gelas kaca yang sudah tersedia di meja, memberinya daftar menu lalu meninggalkan Rani untuk memilih menu yang dia inginkan.

Saat Rani tengah asik membolak-balikkan menu, seorang pria duduk di depan Rani. Respon Rani biasa saja karena dia tahu siapa yang duduk di depannya meskipun dia menutupi wajahnya dengan masker hitan dan topi serta kerah jaket nya yang di tinggikan.

“Sudah lama menunggu?” tanya pria itu. Rani menggeleng.

“Baru aja.” jawab Rani lalu menyerahkan menu kepada pria itu untuk memilih makanan. Pria itu menerima menu dari Rani.

Tangan Rani terangkat sebagai isyarat bahwa dia membutuhkan seorang pramusaji untuk mencatat pesanannya. Seorang pramusaji dengan cekatan mendatangi Rani. Menuang air putih untuk pria di depan Rani lalu mencatat pesanan Rani.

“Kenapa tidak memberitahuku kalau kamu akan ke London?” tanya pria itu sambil melepas maskernya, “Apa yang kamu lakukan di London?”

“Dapat undangan dari kampus,” jawab Rani lalu meminum air putihnya, “Sebenarnya malas sih datang, paling juga acara nya begitu-begitu aja. Tapi karena tidak ada kegiatan lain, disini lah aku sekarang.

“Sudah tidak lagi kerja di Korea?” tanya Tom Felton, kekasih Rani.

“Kontrakku di sana sudah habis. Aku tidak ingin melanjutkannya lagi.” jawab Rani sambil menggeleng.

“Kenapa?”

Rani mengedikkan bahunya, “sudah bosan di sana” Felton mengernyit memandang Rani heran, “Aku ingin mencari pengalaman yang lain, makanya aku tidak melanjutkan kontrak” tambah Rani menutup pembahasan kenapa dia tidak melanjutkan lagi bekerja di Korea Selatan.

Felton pun tidak ingin membahasnya lagi. Dia merasa sedikit lega saat Rani bilang tidak ingin lagi ke Korea Selatan. Bahkan memikirkan Rani di sana saja membuat hatinya di bakar cemburu. Kedekatannya dengan Shim Seunghyun membuatnya marah.

Meskipun dia tahu Rani hanya menganggap Shim Seunghyun hanya teman, tetap saja dia cemburu. Siapapun pria yang dekat dengan Rani sudah pasti memiliki perasaan khusus untuk Rani. Sekalipun Rani tidak menyadari itu. Kedekatan Rani dengan Shim Seunghyun membuatnya naik pitam sehingga membuat Rani harus di larikan ke rumah sakit karena pendarahan.

Sejak saat itu sikap Rani kepada Felton sedikit lebih dingin. Rani masih menyukai dan mencintai Felton namun tidak seperti sebelumnya. Seakan rasa cintanya pada Felton sedikit demi sedikit menguap. Dia masih merindukan Felton, hanya saja tidak harus saat itu juga bertemu. Tidak seperti sebelumnya yang tiap kali dia merindukan Felton, dia meminta Felton untuk menemuinya di Singapore, hanya untuk melepas rindu.


Setelah menghabiskan makan malam mereka dalam diam, mereka beranjak pergi. Rani meminta Felton untuk mengantarnya ke Tesco Hypermarket untuk belanja kebutuhan nya selama di London. Felton dengan senang hati mengantar Rani.

Mereka membeli semua barang yang mereka butuhkan. Di sela-sela belanja, Felton menelpon kakaknya yang juga manajer nya. Memberitahunya bahwa dia tidak akan pulang malam ini dan akan langsung ke lokasi shooting esok hari.

Selesai belanja, mereka langsung menuju studio apartemen Rani. Ini pertama kalinya Felton ke studio Rani. Felton memarkir mobilnya di basement gedung lalu membuka pintu bagasi mobil sebelum mematikan mesin mobilnya. Rani turun dari mobil dan mengambil belanjaannya di bantu oleh Felton.

Dalam perjalanan mereka menuju studio Rani, mereka hanya terdiam dengan pikiran masing-masing. Mereka sama-sama rindu hanya saja mereka enggan untuk menunjukkannya. Dan Felton masih menunjukkan rasa bersalah karena teringat kejadian empat tahun lalu saat dia tanpa sengaja mendorong Rani saat bertengkar. Membuat Rani harus di larikan ke rumah sakit dan harus rawat inap selama beberapa hari.
Rani meletakkan belanjaannya di counter dapur, begitu juga dengan Felton. Saat Rani hendak membongkar belanjaannya, Felton menarik Rani. Merengkuhnya dalam dekapan hangatnya. Rani melingkarkan tangannya di tubuh Felton.

I miss you.” bisik Felton.

I miss you, too.” balas Rani.

Felton melepaskan pelukannya. Meletakkan tangannya di kedua pipi Rani. Mata mereka beradu pandang. Sorot mata mereka menunjukkan betapa mereka saling merindukan satu sama lain. Dengan perlahan mereka mendekat. Bibir mereka bertemu, mereka melepaskan rasa rindu yang menggebu.


###@^.^@###


Rani menggeliatkan tubuhnya. Di raihnya smartphonenya yang tergeletak di atas nakas di samping tempat tidurnya. Petunjuk waktu di smartphonenya menunjukkan pukul delapan pagi. Rani beringsut turun dari tempat tidur dengan perlahan. Tak ingin membangunkan Felton yang masih terlelap.

Setelah mencuci muka, dia menata barang belanjaannya semalam yang masih tergeletak di counter. Tak lupa dia membuat sarapan untuk dirinya dan Felton. Dia memanggang roti dan membuat omelet telur serta menggoreng beberapa saussage.

Felton membuka matanya. Suara berisik dari dapur membuatnya terbangun. Setelah memandang berkeliling dia teringat kalau dia berada di studio apartemen Rani. Senyumnya mengembang. Dia senang dengan kedatangan Rani.

Dia menggeliatkan tubuhnya lalu turun dari tempat tidur. Membuka tirai jendela kamar dan langsung di suguhkan pemandangan bangunan-bangunan tinggi yang berjejer di kota London. Dia meraih bedrobe-nya, memakainya sambil berjalan keluar kamar.

Good Morning.” ucap Felton sambil memeluk Rani yang sedang memasak dari belakang. Dia menyandarkan kepalanya di bahu Rani.

Morning.” jawab Rani sambil menyentuh pipi Felton sekilas lalu melanjutkan memasak kembali, “cuci muka dulu sana lalu sarapan. Kamu ada jadwal kan pagi ini?” tanya Rani sambil menuang telur ke piring yang sudah dia siapkan.

Setelah mengecup pipi Rani, Felton melepaskan pelukannya dan menuju kamar mandi. Dia memang ada jadwal pagi hari ini. Karena itu meskipun dia enggan berpisah dengan Rani, tetap saja dia harus pergi. Selesai mandi dan bersiap, Felton duduk di meja makan.

“Hari ini kamu mau kemana?” tanya Felton.

“Mau ke butik. Aku lupa tidak membawa dress yang cocok untuk acara reuni.

“Kapan acaranya?”

“Sabtu depan.

“Setelah itu apa rencanamu?”

“Aku ingin kerja. Tapi jika sampai tiga bulan aku tidak dapat kerja aku terpaksa kembali.

“Kalau kamu tidak dapat kerja disini, kamu rencana nya mau mencari kerja di mana?”

“Aku belum berpikir sejauh itu,” jawab Rani menerawang, “mungkin aku akan mencoba ke Bali atau Jepang?” imbuh Rani santai sambil mengedikkan bahunya.

“Aku senang kamu kembali ke London,” ujar Felton sungguh-sungguh, “dan aku berharap kamu bisa bekerja disini. Aku tidak ingin jauh darimu lagi.” Rani tersenyum mendengar kata-kata Felton.

Meskipun dia menyunggingkan senyum manis, tetap saja hatinya serasa hambar. Dia belum bisa menentukan apakah dia sudah benar-benar tidak mencintai Felton lagi atau masih ada cinta untuk Felton. Dia masih bingung dengan apa yang dia rasakan terhadap Felton.


Selesai sarapan, Felton beranjak dari kursi, mengambil kunci mobil dan smartphonenya lalu pamit pada Rani yang mengantarnya sampai pintu. Setelah mengecup kening Rani, Felton berangkat menuju lokasi shooting. Rani menutup pintu sambil menghela nafas.

Dia membersihkan piring kotor bekas sarapannya di meja makan. Kemudian dia masuk ke kamar audio. Menyalakan televisi dan duduk santai di sofa. Dia tidak yakin ingin menonton apa. Dia hanya mengganti chanel-chanel televisi. Saat sudah bosan, dia mematikan televisi dan menyetel musik. Alunan musik yang merasuk ke telinganya membuatnya melamun.

Rani begitu larut dalam lamunan hingga dia tidak menyadari kalau hari sudah semakin siang. Rani tersadar dari lamunan saat sebuah notifikasi masuk di smartphonenya. Dengan malas dia meraih smartphonenya. Di lihatnya sebuah email baru masuk di smartphone nya.

Dilihatnya siapa yang yang mengiriminya pesan. Sedikit mengernyitkan kening, dia membalas nya dengan menyertakan nomor ponselnya yang baru. Karena dia mengganti nomor ponselnya begitu landing di London kemarin. Entah apa yang diingankan temannya saat meminta nomor ponselnya, namun tetap saja dia memberikan nomor ponselnya.

Rani beranjak dari sofa menuju kamar mandi, setelah membersihkan diri dia bersiap pergi ke butik. Dia tidak punya langganan butik di London, karena itu dia akan memilih-milih baju di beberapa butik sampai dia menemukan yang cocok. Untuk itu hari ini Rani memakai baju yang sedikit lebih santai agar dia bebas bergerak dan tidak capek jika harus berjalan jauh.


Rani berjalan dengan santai sambil sesekali masuk ke butik pakaian yang dia lihat. Dia belum menemukan pakaian yang cocok untuknya menghadiri reuni. Dia menyerah dan berjalan menuju halte. Dia tidak ingin cepat sampai di studio nya. Dia ingin menikmati secangkir teh sebelum pulang.

Dia berhenti di sebuah café yang menyediakan tempat duduk di teras. Rani memilih duduk di teras sambil memandangi orang-orang yang berlalu lalang. Suasana sore hari yang menyenangkan. Rani memandang sekitar café, banyak butik dan toko buku serta café dan restaurant. Lalu pandangan nya tertuju pada satu butik yang belum dia datangi tadi, setelah menghabiskan teh nya dia ingin kesana dulu sebelum pulang.

Rani melangkah masuk ke dalam butik dengan interior yang elegan. Dia langsung suka dengan interior butik dan membuatnya yakin jika pakaian yang dia cari pasti ada di butik ini. Butik itu memilik koleksi lengkap untuk pria dan wanita. Rani berkeliling melihat-lihat pakaian untuk wanita.

Hi, may I help you?” tanya seorang wanita cantik sambil mendatangi Rani yang sedang memilih dress. Rani menoleh tersenyum, “Indonesia?” tanya wanita itu langsung begitu berdiri di sebelah Rani.

Rani mengernyitkan kening, entah darimana wanita di depannya ini tahu kalau dia berasal dari Indonesia. “How..?

Wanita itu tersenyum, “My mother is from Indonesia, so I know.” jawabnya membuat Rani mengangguk-anggukkan kepala.

It seems like I’ve seen you before.” ujar Rani pada wanita itu yang juga langsung berpikir dimana mereka pernah bertemu.

BALI!

Mereka berteriak bersamaan. Hening sesaat karena kaget, keduanya lalu terkikik geli. Dan mereka pun mengobrol mengenang masa lalu.

“Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu disini.” ujar Sharry, pemilik butik setelah mereka memperkenalkan diri, sambil menggenggam erat tangan Rani yang balas menggenggamnya.

“Aku juga.” jawab Rani. Mereka lalu hanyut dalam obrolan mengenang saat mereka sama-sama di Bali.

Mereka ternyata sering bertemu secara tidak sengaja di pesta-pesta yang mereka hadiri saat masih di Bali. Sering berada di pesta yang sama karena mereka berteman dengan orang yang sama.

Tanpa mereka sadari sepasang mata tengah menatap mereka dengan heran. Seorang pria berdiri di balik deretan baju yang memisahkannya dengan dua wanita yang tengah mengobrol seru. Ini pertama kalinya bagi pria itu melihat betapa Sharry terlihat sangat senang mengobrol dengan seorang wanita yang tidak di kenalnya.

Dia belum pernah melihat wanita itu sebelumnya. Sepengetahuannya Sharry tidak punya banyak teman dekat hingga bisa membuatnya terlihat sangat bahagia. Dia tersenyum melihat tawa senang Sharry lalu berbalik dan keluar dari butik.

Sir?” Ajudannya bingung sambil mengikuti pria itu keluar dari butik.

Let’s go,” ujar pria itu sambil memasuki mobilnya. Tanpa bertanya lebih lanjut, sang ajudan ikut masuk ke dalam mobil, duduk di samping sopir. “I never knew Sharry can smile like that.” gumam pria itu.

I think we still didn’t know about Lady Sharry.” ujar ajudannya.

Yeah.” jawab pria itu sambil memandang keluar jendela mobil.


###@^.^@###


“Sudah dapat bajunya?” tanya Felton saat makan malam.

Rani mengangguk, “Aku juga bertemu dengan temanku.

“Teman?”

“Iya, teman saat aku di Bali,” jawab Rani membuat Felton merasa lega, “sebelumnya aku tidak pernah berbicara dengannya. Hanya sering bertemu saat ada party. Dia temannya temanku, tadi kami mengobrol banyak sampai lupa waktu. Aku baru saja sampai apartemen saat kamu menelponku tadi.

“Pria atau wanita temanmu itu?” tanya Felton menatap Rani yang langsung menghentikan suapannya dan balas memandang Felton.

Don’t worry, my friend is a woman,” jawab Rani sambil meletakkan kembali sendoknya, “are you will like this forever? Jealous over my friend?

Felton langsung merasa dia salah berucap, “I didn’t mean like that, Rani, but I will lie if I say I didn’t jealous. Don’t you know, every man around you is love you?

Rani diam tidak menjawab. Dia menghela nafas berat, menggelengkan kepala lalu beranjak meninggalkan Felton. Dia bosan terus-menerus membahas hal ini dengan Felton. Berapa kali pun dia bilang kalau dia hanya menganggap mereka teman, Felton tetap saja cemburu buta dan akan terus menuduhnya berselingkuh.

Sepeninggal Rani, Felton meremas rambutnya kesal. Baru juga satu hari mereka bertemu, mereka sudah bertengkar. Seharusnya dia tidak mengatakan itu pada Rani, namun tetap saja dia cemburu jika melihat Rani dengan pria lain. Karena Rani tidak pernah terlihat tertawa begitu lepas saat bersamanya. Seakan hubungan mereka adalah sebuah hubungan keterpaksaan.

Felton mendekati Rani yang duduk di sofa sambil memainkan smartphone nya. Dia duduk di sebelah Rani yang masih mendiamkannya. Dia bisa merasakan bahwa Rani sudah banyak berubah.

Dulu jika sedang marah atau jengkel, Rani pasti meledak-ledak dan merajuk. Semua yang terlintas di otaknya dia lontarkan dengan penuh emosi, namun sekarang Rani hanya akan diam tak menanggapinya. Dan setelah beberapa lama, Rani akan tersenyum kembali meskipun dia tahu senyum Rani senyum terpaksa.

“Rani,” panggil Felton merayu sambil merangkul Rani yang hanya memnjawabnya dengan hmmm dan masih asik dengan smartphone nya, “dont mad. I just..

Rani menoleh menatapnya lalu tersenyum sambil menyentuh pipi Felton, “I know.” jawab Rani lalu kembali ke smartphone nya. Felton tertegun sejenak lalu menghela nafas. Dilepaskan rangkulannya lalu duduk diam di samping Rani.

Felton menyadarkan kepalanya. Dia tidak tahu harus berbuat apa jika Rani sudah seperti ini. Dia hanya harus menunggu hingga Rani mendekatinya, hal itu membuatnya merasa tertekan. Raninya dulu selalu ceria dan dia lebih menyukai Rani yang saat emosi bisa meledak-ledak daripada diam seperti ini.

Saat pikirannya berkelana memikirkan Rani saat pertama kalinya mereka bertemu, dia merasakan tangan Rani tengah melingkar di tubuhnya dan Rani sedang menciumi leher dan dada bidangnya. Felton tidak ingin menghentikan Rani, jujur dia suka dengan sentuhan Rani. Sebelumnya Rani belum pernah seperti ini, agresif, dulu Rani lebih pasif dan sedikit membosankan.


Felton memandang wajah Rani yang terlelap di pelukannya. Dia mengusap-usap pipi Rani penuh dengan kelembutan. Tidak dapat di pungkiri dia jatuh cinta pada Rani. Jika sebelumnya dia hanya mengambil keuntungan karena Rani yang sangat mencintainya, sekarang dia bisa merasakan debaran jatungnya saat menatap Rani. Dia tidak ingin kehilangan Rani, dia ingin Rani hanya untuknya, miliknya selamanya.

Rani bergerak dari tidurnya, dengan perlahan matanya terbuka. Dia melihat Felton tengah menatapnya dengan penuh cinta. Rani terpana sesaat namun sedetik kemudian senyumnya mengembang. Dia merapatkan pelukannya, membenamkan kepalanya di dada Felton.

Why are you looking at me like that?” tanya Rani meskipun dia sebenarnya tahu, dia hanya ingin memastikan.

You look so beautiful.” jawab Felton mendekap Rani yang tertawa senang. Felton lega mendengarkan suara tawa Rani. Dia takut tidak akan bisa mendengarkan suara tawanya lagi.

You have schedule today?” tanya Rani mendongak memandang Felton yang mengangguk.

Yeah. Do you want to come along?” tanya Felton sambil menyisir rambut Rani dengan penuh cinta.

Can I?

Of course.

What if Daniel know?

I dont care. As long as you love me, I dont care with Daniel.” jawab Felton tersenyum. Membuat Rani kembali menyusupkan kepalanya di dada bidang Felton dan Felton menyukainya. Dia mengeratkan pelukannya.


Saat Rani memasuki mobil Felton, dia melihat Felton tengah menelpon manajernya. Felton memberitahu manajernya yang juga kakak ketiganya bahwa dia akan datang bersama Rani.

Semua keluarga Felton tahu siapa itu Rani, karena Rani sudah sering ikut makan malam bersama keluarga Felton. Ibu Felton bahkan sering menanyakan Rani saat mereka putus hubungan, membuat Felton bingung bagaimana harus menjelaskan kepada ibunya.

Selesai menelpon, Felton memandang Rani dengan tersenyum dan menanyakan apakah Rani sudah siap. Rani menjawabnya dengan mengangguk dengan senyum manis, membuat Felton langsung mendekatkan wajahnya ke wajah Rani lalu mencium bibir Rani penuh gairah. Rani mendorong Felton pelan dan mengingatkannya kalau mereka sudah terlambat. Felton mengalah lalu menyalakan mobilnya dan menjalankannya menuju lokasi shooting.

Perjalanan menuju lokasi shooting membutuhkan waktu dua sampai tiga jam. Untuk mengusir kebosanan selama perjalanan, Rani memainkan musik dari smartphone nya. Dia juga mengecek emailnya, dan dilihatnya sebuah email dari Kwon Jiyong lagi.

Saat dia hendak membuka emailnya, sebuah panggilan masuk. Setengah nyengir dia menjawab panggilan itu.

MWOHAENGEOYA?!!! (APA YANG KAU LAKUKAN?!!!)” teriak si penelpon membuat Rani langsung menjauhkan smartphone nya dari telinga nya.

Mian, mian. (Maaf, maaf.)” jawab Rani sambil terkekeh.

Why you didn’t call? Mom is so worry!

I’am busy.

Pfffttt.. your reunion is in Saturday. What your busy right now?

Well, I forgot to bring dress so I need to buy. Also I meet him.”

Are you crazy? You said you won’t meet him anymore.”

I know, but I can’t avoid, too. You how I feeling,” Terdengar helaan nafas, Rani tersenyum, “don’t worry, I know what I’m doing.”

Jiyong-oppa is asking me, why you in London.”

What you tell him then?

I said you working in London. I can’t say anything than that. You know his feeling toward you, right?

but you know, I can’t.” bantah Rani.

Just be with him, he will be very happy.

I don’t want to make him misunderstood when I do that,” jawab Rani, “don’t discuss this issue again. I will do what I have to do. I need to go.

Don’t forget to call Mom. I’m at Singapore right now with them.”

Araseo, (baiklah)” jawab Rani, “say hi to them from me.” ujar Rani lalu mematikan panggilan dan menghela nafas.

Who is calling?” tanya Felton setelah memarkirkan mobilnya dan mematikan mesin.

Billa. I forgot to call her and my Mom. I should call them when I’m arrived.”

And may I know who you two talking about?” tanya Felton hati-hati.

My friend, boygroup I like.” jawab Rani. Felton tahu dia tidak seharusnya bertanya lebih lanjut. Mereka sudah di lokasi shooting, dia tidak ingin crew film melihat mereka bertengkar, terlebih lagi dia tidak ingin Daniel.

Come on, Chris is waiting us.” ajak Felton sambil membuka sabuk pengamannya dan membuka pintu mobil diikuti oleh Rani yang tersenyum karena Felton tidak bertanya lebih lanjut.

Karena dia sendiri bingung dengan perasaannya menyangkut Kwon Jiyong. Dia tahu Kwon Jiyong menyukainya, dan dia juga menyukainya, tapi entah kenapa dia tidak ingin memiliki ikatan dengan Kwon Jiyong. Dia hanya ingin berteman dengan mereka agar tidak ada rasa canggung jika nanti mereka berpisah.

Jauh di lubuk hatinya, dia menyukai Kwon Jiyong, sangat suka, hanya saja Kwon Jiyong is Korean Idol, dia punya banyak penggemar yang mengharuskan dia untuk tidak terlibat skandal, terutama tentang skandal percintaan. Rani tidak ingin terlibat dalam lingkaran mereka.

Rani mengenakan topi untuk menyembunyikan wajahnya agar tidak di kenali, dia bersikap seperti layaknya seorang staff. Namun penampilannya itu tidak bisa mengelabui mata Daniel.

Semenjak dia turun dari mobil, dia bisa merasakan pandangan tajam terus tertuju padanya, dia memandang sekeliling dan dilihatnya Daniel tengah memandanginya dengan tatapan tajam menusuk seakan ingin membunuhnya. Tanpa sadar Rani mendekatkan dirinya pada Felton dan menggamit lengan Felton.

Felton yang kaget saat Rani menggandengnya memandang Rani yang masih melihat ke arah Daniel, dan mengikuti pandangan Rani. Dia melihat Daniel yang menatapnya dengan tangan terkepal. Felton menyunggingkan senyum sinis penuh kemenangan pada Daniel yang langsung tersulut emosi.

Sebuah tangan menghentikan langkah Daniel yang akan mendekati Felton dan Rani. Daniel menoleh, dilihatnya Emma tengah memandang dan menggeleng, Daniel memandang ke sebelah Emma, Rupert pun tengah memandangnya dan memberinya isyarat agar tidak gegbah.

Not now.” ujar Emma

But.

I know, we need Rani explaination but not now, Dan, a lot people watching.

I’m agree.” ujar Rupert.

Daniel pun mengalah. Dia kembali duduk dan membaca script nya dengan perasaan marah.

Rani duduk bersama Chris selama Felton shooting. Chris menanyainya banyak hal, termasuk apa yang dia lakukan selama ini dan alasan mereka putus. Rani menceritakan semua kegiatannya kecuali kisah cinta nya setelah berpisah dengan Felton, karena Chris tidak perlu tahu itu.

Shooting hari ini berjalan hingga hampir tengah malam. Begitu sutradara mengatakan bahwa shooting akan di lanjutkan esok hari, Rani langsung mengajak Felton untuk pulang. Karena dia sudah lelah sekali berada disana dan tidak melakukan apa-apa selain menunggu, meskipun dia menyibukkan diri dengan berbalas email dengan Kwon Jiyong, adiknya dan temannya yang lain tapi tetap saja menunggu itu melelahkan.

Saat Rani hendak membuka pintu mobil, tangannya di tarik seseorang. Rani berbalik dan mendapati Daniel berdiri di depannya dengan tatapan meminta penjelasan. Rani bergeming balas memandang Daniel.

What are you doing?” tanya Felton tidak suka. Saat dia membuka pintu mobil, dia melihat Daniel mendatangi Rani dan langsung menariknya. Di bantingnya pintu mobil dan mendekati Rani dan Daniel yang hanya diam saling pandang.

Felton melepas paksa tangan Rani dari genggaman Daniel yang menoleh padanya dengan marah. Felton menempatkan diri di depan Rani, dia tidak ingin Daniel menyakiti Rani dan juga dia ingin membuktikan pada Daniel kalau dia bisa melindungi Rani.

I need to talk with Rani, don’t interfere.” ujar Daniel dengan penuh penekanan pada Felton.

She don’t want to talk with you.” jawab Felton dengan senyum sinis.

Rani merasa dia harus melakukan sesuatu jika tidak kedua pria di depannya pasti akan berkelahi. Dia tahu dampaknya akan seperti apa jika mereka berdua berkelahi. Lalu dengan mantap dia menyentuh lengan Felton yang langsung menoleh ke arahnya.

You can go home first. I will go home with Daniel.” ujar Rani.

But...

Don’t worry, Daniel will do nothing to me.” tambah Rani menenangkan Felton yang tidak ingin Rani pergi bersama Daniel. Rani mengangguk meyakinkan Felton yang akhirnya menyingkir dari depan Rani dan membiarkan Rani naik ke mobil Daniel.

Sempat dilihatnya senyum mengejek Daniel sebelum Daniel memasuki mobilnya, membuat tangannya terkepal karena marah. Dia tahu Daniel sangat menyayangi Rani dan dia pun tahu kalau Daniel juga menyukai Rani, namun Rani tidak sadar bahwa Daniel mencintainya. Dia hanya menganggap Daniel sebagai saudara tidak lebih.


Why you with him again?” tanya Daniel, pandangannya lurus menatap kedepan dan sesekali dia melirik Rani yang duduk di sebelahnya.

I have a reason.” jawab Rani tanpa mengalihkan pandangan.

But why?

Don’t ask me why, I just have the reason why I’m with him. Again.” ujar Rani tegas, “Don’t worry, I’m not the old Rani. I know what I’m doing. Don’t try to stop me.

Daniel memandang Rani lama lalu menghela nafas, “I know who you are, I can see your action toward him is different. I’m not gonna stop you, but just be careful, you know him so well, didn’t you?

I did.

If you need my help, just say, I’ll help you.

I know. Right now I still can handle it by my self.” ujar Rani.

Keduanya lalu terdiam, larut dalam pikiran mereka masing-masing. Daniel mengendarai mobilnya dengan santai, dia ingin berlama-lama dengan Rani. Karena sejak terakhir kali mereka bertemu, mereka tidak pernah bertukar kabar. Rani mengganti alamat emailnya sehingga Daniel tidak pernah bisa menghubunginya lagi. Dan Rani pun enggan menghubungi Daniel, karena menurutnya Daniel selalu mengekangnya sedangkan dia tidak ingin di kekang.


Daniel menghentikan mobilnya di depan pintu lobby apartment Rani. Rani mengucapkan terima kasih dan selamat malam pada Daniel sebelum turun, dia juga mengatakan akan menelponnya. Daniel bertanya apa Rani masih menyimpan nomornya, Rani mengangguk dan mengatakan kalau dia di beri nota berisi nomor Daniel oleh resepsionis apartment.

Setelah berpamitan, Daniel langsung menjalankan mobilnya meninggalkan gedung apartment Rani dengan diiringi lambaian tangan Rani. Rani memandang mobil Daniel sampai menghilang dari pandangan lalu masuk ke lobby apartment setelah menghela nafas.

Begitu dia masuk ke studionya, dilihatnya Felton tengah menunggunya di sofa dengan pandagan tajam menusuk meminta penjelasan. Rani hanya menghela nafas, meletakkan tas nya di sofa dan berjalan menuju dapur. Dia membuka lemari es, mengambil kaleng bir lalu kembali ke ruang tengah dan duduk di depan Felton.

What happen?” tanya Rani.

What happen?! What happen, you said?!” Felton marah, “You know I don’t like it when you go with another man...

Its just Daniel.” jawab Rani datar.

He like you. Don’t you know it?!” Felton semakin geram dengan sikap acuh Rani, “he always wants to separate us. He wants to have you, to be his own...

Just like you, right?” Felton langsung terdiam, “never mind. I’m tired.” ujar Rani lalu bangkit dan berjalan menuju kamar, merebahkan tubuh lelahnya di atas tempat tidur. Namun dia tidak segera tidur melainkan memainkan smartphone nya.

Sementara itu Felton masih duduk terdiam di sofa. Kata-kata terakhir Rani menusuknya. Dia sadar kalau dia hanya menginginkan Rani untuk dirinya sendiri, dia tidak suka jika Rani bersama dengan pria lain meskipun dia hanya memanfaatkan perasaan Rani padanya.

Perubahan sikap Rani padanya sedikit mengganggunya. Dia bisa melihat kalau Rani seakan tidak peduli padanya, Rani tidak pernah lagi merajuk saat dia marah padanya karena cemburu. Rani terkesan lebih cuek dan menunggu Felton untuk memutuskan mereka. Tapi hal itu tidak akan pernah Felton lakukan. Dia akan mengikat Rani selamanya.

Felton beranjak menuju kamar. Saat dia hendak membuka pintu kamar, didengarnya suara Rani tengah bicara dengan seseorang dengan ceria. Emosinya yang semula sudah berangsur reda kini tersulut kembali. Dibuka nya pintu kamar dengan kasar, membuat Rani tersentak kaget.

Who you talking to?” tanya Felton marah. Dia mendekati Rani dengan langkah menghentak lalu menekan leher Rani dengan tangannya.

My friend.” jawab Rani sambil berusaha melepaskan cengkeraman Felton dari lehernya, “Its Seunghyun... let me go...” pinta Rani meletakkan smartphone nya tanpa memutuskan sambungan telepon karena dia sudah merasa tercekik. Tangannya memukul-mukul tangan Felton agar melepaskan cengkeramannya.

“Aku sudah bilang kan, jangan bicara dengan pria lain jika aku bersamamu!” ujar Felton mengancam Rani dengan sorot mata penuh kemarahan.

“Ba, baiklah... tak akan ku ulangi lagi... lepaskan...” Rani memohon, tapi Felton masih memandangnya dengan beringas seperti sedang kerasukan, “Tom.

Felton dengan kasar melumat bibir Rani yang tidak bisa bernafas. Tangannya memukul-mukul dada Felton yang menindih tubuh Rani. Felton menangkap tangan Rani dan menahannya dan terus mencumbu Rani dengan beringas.

Sementara itu, Seunghyun yang masih terhubung dengan Rani tetap mendengarkan apa yang sedang terjadi dengan Rani. Dia mencemaskan Rani saat ini, dia tahu Felton bisa sangat membahayakan Rani jika dia tidak segera di hentikan. Namun apalah daya dia tidak bisa menolong Rani saat ini karena dia ada di belahan bumi yang lain. Saat dia sudah tidak mendengar apa-apa lagi, dia memutuskan sambungan teleponnya dengan rasa bersalah dan khawatir.


###@^.^@###


Rani bangun dari tidurnya dengan meringis kesakitan. Di lihatnya pergelangan tangannya yang membiru dan saat dia memandang tubuhnya yang tanpa busana, dia melihat luka lebam di beberapa tempat. Dia menoleh memandang Felton yang masih terlelap.

Tidak ingin membangunkan Felton, Rani turun dari tempat tidur dengan pelan dan langsung menuju kamar mandi untuk membasuh tubuhnya. Setelah selesai mandi, dia mengambil cangkir dan menuangkan kopi yang sudah dia buat sebelum memasuki kamar mandi, lalu berjalan menuju ruang audio. Dia menyalakan musik lalu duduk di depan jendela, memandang pemandangan kota London sebelum matahari terbit.

Setitik air matanya jatuh saat dia menghayati arti lagu yang sedang berputar. Fisiknya sakit namun hatinya lebih sakit. Dia sebenarnya tahu Felton bisa melakukan hal ini padanya hanya saja dia tidak siap menghadapinya semalam. Sorot mata penuh kemarahan dan ketakutan akan kehilangan Rani, membuat nyali Rani menciut, dan keinginannya untuk meninggalkan Felton sedikit menguap karena takut. Rani pun menangis tanpa suara.

Felton menggeliat. Dia tidak merasakan Rani di sebelahnya dan langsung membuka matanya. Dengan perasaan sedikit takut dia langsung berdiri, memakai bedrobe nya dan keluar kamar. Samar didengarnya alunan musik dari ruang audio, setengah berlari dia menuju ke ruang audio. Dia mendapati Rani tengah menangis sesenggukan, dengan rasa bersalah dia mendekat pelan dan langsung memeluk Rani dari belakang membuat Rani berjengit kaget.

Felton membisikkan permintaan maaf dengan lembut di telinga Rani, membuat Rani langsung tersedu dan berbalik memeluk Felton yang merengkuhnya erat penuh penyesalan. Felton membiarkan Rani menangis di pelukannya hingga lelah dan tertidur, dia bersandar pada sofa dan ikut memejamkan matanya saat dia merasa kalau Rani sudah tertidur.


Rani mengerjapkan matanya lalu mencoba untuk duduk tegak. Felton yang merasakan gerakan Rani ikut membuka matanya. Mereka saling pandang, lalu Rani tersenyum dan beranjak ke kamar mandi untuk mencuci mukanya yang basah karena air mata. Felton mengikuti Rani ke kamar mandi.

Setelah mencuci mukanya, Rani membuatkan sarapan untuk Felton dan dirinya. Saat dia tengah menggoreng sosis, dia mendengar dering telepon milik Felton. Begitu Felton keluar dari kamar mandi, Rani memberitahunya kalau ponselnya berbunyi, Felton mengucapkan terima kasihnya dengan mengecup leher Rani. Rani mendengar Felton tengah berbicara dengan Chris. Rani tahu itu pasti karena Felton belum juga sampai di lokasi shooting.

Saat Felton kembali ke dapur, dia sudah terlihat rapi. Dia duduk di meja makan sambil sibuk dengan smartphone nya, berkirim pesan dengan Chris.

“Sudah di tunggu?” tanya Rani sambil meletakkan piring di depan Felton yang mengangguk, “Maaf yaa.” ujar Rani yang membuat Felton langsung meletakkan smartphone nya, meraih tangan Rani lembut dan mengecupnya.

“Aku yang harusnya meminta maaf.

Rani tersenyum memandang Felton yang balas memandangnya. Felton menyadari sorot mata Rani berbeda dari sebelumnya. Namun dia tidak bisa mengelak. Dia tahu dia salah telah memperlakukan wanitanya dengan kasar.

Setelah menghabiskan sarapannya, Felton berangkat ke lokasi shooting. Dan sepeninggal Felton, Rani langsung mencari smartphone nya lalu menelpon Seunghyun. Meminta maaf telah memutuskan sambungan telpon secara sepihak semalam.


###@^.^@###