“RYUUICHIROU! Kamu harus segera menikah dan memberi seorang pewaris untuk keluarga kita!” kata Ryuuji, Ayah Ryuuichirou, sang kepala keluarga Isaka.
“Sudah kukatakan aku tidak akan menikah!”
BRAAKK!!
Ryuuji menggebrak meja dengan keras, “Apa maksudmu dengan tidak akan menikah? Kamu satu-satunya anak laki-laki di keluarga ini. Dan tugasmu adalah memberikan keturunan agar Keluarga Isaka tetap ada!”
“Tsk!” keluh Ryuuichirou kesal. Ini sudah kesekian kalinya ayahnya menyuruh untuk segera menikah.
Bukan inginnya untuk membantah namun dia sama sekali tidak tertarik dengan perempuan. Selama ini dia hanya menganggap perempuan yang di kenalkan padanya hanya sebatas rekan bisnis. Tak ada rasa sedikitpun pada mereka.
Perasaannya saat ini tertuju pada asisten pribadinya, Asahina Kaoru. Seorang pria tampan dengan tinggi 177cm dan ekspresi dingin. Mereka tumbuh besar bersama. Dan perlahan namun pasti dia menyimpan rasa pada Asahina.
Dia tahu hubungan mereka terlarang namun dia tidak bisa menghapus rasa yang sudah tertanam di hatinya. Karena itulah dia berusaha menolak perintah ayahnya untuk segera menikah. Dia tidak ingin mengkhianati perasaannya.
“Ryuuichirou-sama.” Panggil Asahina membuyarkan lamunan Ryuuichirou. “Satu jam lagi ada meeting dengan staff produksi.”
“Baiklah.” Jawab Ryuuichirou sambil bangkit lalu berjalan mendekati Asahina. Diciumnya bibir Asahina dengan penuh hasrat. Asahina membalas ciuman Ryuuichirou tak kalah bernafsu.
Tanpa mereka sadari, sepasang mata melihat apa yang mereka lakukan. Namun sang pemilik mata hanya bisa menghela nafas. Dia tidak tahu lagi harus bagaimana untuk memaksa anaknya segera menikah.
###@^.^@###
“Ryuu-kun!” panggil seorang wanita dengan rambut pendek sambil melambaikan tangannya.
“Ran-chan, nande kokoni?” tanya Ryuuichirou berjalan mendekat dan diikuti Asahina.
Amakusa Ran, seorang wanita cantik dengan rambut pendek dibawah telinga yang menambah kecantikannya. Mereka berteman sejak duduk di bangku sekolah dasar hingga sekolah menengah.
“Saat aku tiba di Tokyo, mereka bilang ada Pesta Kembang Api hari ini, jadi aku langsung kesini.” Jawab Amakusa.
“Huh? Memangnya selama ini kamu dimana?” tanya Ryuuichirou.
“Hah? Selama ini kamu tidak tahu aku kuliah di Cambridge?”
“Shiranakata.” Jawab Ryuuichirou berbohong. Dia tahu yang sebenarnya hanya saja dia suka menggoda Amakusa Ran.
Jawaban pria tampan dengan rambut sedikit panjang didepannya membuat Amakusa cemberut. Ryuuichirou tertawa sambil mengacak rambut Amakusa.
“Kaoru-kun genki?” sapa Amakusa pada Asahina yang menjawabnya dengan anggukan kepala dan senyum manis.
Setelah menanyakan kabar, mereka kembali berjalan menikmati pasar malam yang di gelar untuk memeriahkan Pesta Kembang Api. Amakusa menggandeng lengan Ryuuichirou erat.
Amakusa memang menyukai pewaris tunggal Keluarga Isaka, namun dia tahu diri untuk tidak terlalu jauh mencintainya. Karena dia yakin hubungan mereka tak akan mendapat restu dari Keluarga Isaka dan juga Ryuuichirou tak mungkin mencintainya. Dia sudah tahu itu sejak sekolah menengah pertama.
Karenanya dia memanfaatkan pertemanannya dengan Ryuuichirou denga terus menjadi temannya tanpa embel-embel cinta ataupun harta. Ryuuichirou serta Asahina tahu jika sebenarnya Amakusa menyukai Tuan Muda Isaka, namun karena Amakusa tidak pernah mengungkapkannya dan tetap menjadi teman mereka, mereka tidak ambil pusing dengannya.
Seorang wanita tua berdiri mematung memandang pemandangan di depannya. Dia tidak menyangka jika dapat menyaksikan Tuan Mudanya berjalan bergandengan tangan dengan seorang perempuan tanpa merasa risih sekalipun ada Asahina.
Dia meminta pelayan yang lebih muda yang sedari tadi bersamanya untuk memotret pemandangan langka itu. Menurutnya dia harus memberitahu Tuan Besarnya akan hal ini. Karena mungkin saja Tuan Mudanya menyukai wanita yang saat ini tengah menggandeng tangannya, dan menolak untuk menikahi semua perempuan yang dijodohkan dengannya.
###@^.^@###
“Apa sudah kamu selidiki siapa wanita itu?” tanya Ryuuji pada asistennya.
“Hai.” Jawab Oda, “Amakusa Ran. 23 tahun. Saat ini sedang studi di Cambridge University dan sedang berlibur di Jepang. Dia sudah berteman dengan Ryuuichirou-bocchama sejak sekolah dasar. Keluarga Amakusa membuka bisnis ekspor-impor. Namun sayang, orang tua Ran meninggal dalam kecelakaan pesawat saat Ran masih duduk di kelas menengah atas.
“Dan sejak saat itu dia di asuh oleh Pamannya, Amakusa Yuto, yang juga mengambil alih bisnis orang tua Ran. Serta alasan kenapa Ran bisa kuliah di Inggris adalah karena Yuto.”
“Hmm?”
“Sejujurnya, Yuto ingin menguasai semua aset milik Ran yang dia warisi dari orang tua nya.”
“Apa Yuto punya anak?”
“Dua orang. Laki-laki.”
“Hmm.” Ryuuji memandangi beberapa foto dan berkas di atas meja kerjanya. Dia tidak boleh gegabah dalam mengambil keputusan. Terutama menghadapi Amakusa Yuto yang serakah.
“Hubungi Amakusa dan undang dia makan malam di Hamadaya. Pesan Hamadaya hanya untuk pertemuan kita. Aku tidak ingin ada orang lain.”
“Hai, wakarimashita!” jawab Oda lalu keluar dan langsung menelpon Hamadaya untuk memesan sebelum membuat undangan untuk Amakusa Yuto.
Kurang lebih Oda tahu apa yang akan di bicarakan Tuan Besarnya dengan Amakusa Yuto. Dan dia harus menyiapkan segala sesuatunya agar rencana Tuan Besarnya bisa terlaksana. Serta dia juga harus menyiapkan rencana cadangan untuk itu.
###@^.^@###
Oda memperintahkan anak buahnya untuk membawa Asahina ke hadapannya. Dia sudah memberikan instruksi pada orang kepercayaannya untuk melaksanakan rencananya yang sudah di setujui oleh Tuan Besar.
Begitu Asahina menghadap, tangan kanan Oda langsung membekap mulut dan hidung Asahina dengan handuk yang sudah dilumuri dengan obat bius. Asahina yang lengah, tidak kuat melawan karena efek obat bius yang sangat kuat. Samar-samar dia mendengar ucapan Oda.
“Tidurlah sebentar. Jangan mengganggu.”
Dan kemudian gelap. Asahina tertidur karena obat bius.
Oda memperintahkan anak buahnya untuk mengikat kaki dan tangan Asahina lalu membawa Asahina ke gudang paling belakang kediaman Isaka.
Meskipun tahu Asahina tidak akan dengan mudah terbangun, tapi tetap saja Oda memerintahkan anak buahnya untuk mengikat tangan dan kaki asisten pribadi Tuan Mudanya sekadar untuk berjaga-jaga. Karena dia lah yang melatih Asahina karena terpilih untuk mengawal sang Tuan Muda.
Setelah memastikan Asahina terikat kuat dan pintu serta jendela gudang tertutup rapat tanpa celah, Oda meninggalkan bangunan kecil tempat dia menahan Asahina untuk sementara.
Dia memperintahkan empat anak buahnya yang terkuat untuk menjaga bangunan itu. Oda berpesan apapun yang terjadi sebelum dia kembali, jangan sampai Asahina keluar dari gudang. Dia juga mengatakan kalau semua ini untuk kesuksesan rencana Tuan Besar mereka. Jadi tidak boleh sampai terjadi hal yang tidak diinginkan.
“Sudah kau lakukan tugasmu?” tanya Ryuuji tanpa menoleh saat Oda sampai di belakangnya.
“Hai.”
“Aku ingin semuanya lancar. Kesempatan ini jangan sampai terlewat.”
“Hai, Ryuuji-sama.” Jawab Oda, “Semua sudah sesuai dengan apa yang kita inginkan.”
“Bagus.” Ucap Ryuuji, “Sudah saatnya untuk kita berangkat.”
“Hai.”
Sebuah Toyota Century berwarna hitam kelam dengan emblem khas keluarga Isaka, berhenti di depan Ryuuji dan Oda yang langsung membukakan pintu untuk sang Tuan Besar. Setelah menutup pintu, Oda berjalan memutar untuk memasuki mobil dan duduk di kursi sebelah sopir.
Iring-iringan mobil membelah jalanan kota Tokyo. Rombongan mobil itu menuju sebuah hotel tempat diadakannya sebuah pesta. Sebuah pesta yang di selenggarakan Amakusa Yuto untuk ulang tahun Amakusa Ran sebelum kembali ke London.
Mobil yang membawa Ryuuji sampai, namun belum sampai dia keluar dari mobil, sebuah Audi Sport V8 berwarna merah darah berhenti dengan kasar di depan mobil Ryuuji. Sebersit senyum terukir di bibir Ryuuji yang melihat putranya kebingungan.
Beberapa pengawal langsung menamengi Ryuuji.
Namun saat tahu bahwa yang mengendarai mobil sport adalah Tuan Muda mereka, mereka kembali berbaris di belakang Ryuuji dan membungkuk hormat pada Ryuuichirou.
“Otou-sama! Mana Kaoru?!” tanya Ryuiichirou langsung sambil mendekati Ryuuji.
“Jaga sikapmu!!” bentak Ryuuji tapi Ryuuichirou tidak peduli.
“Mana Kaoru?!”
Ryuuji menghela nafas, “Aku mengutusnya untuk menjalankan tugas rahasia.” Jawab Ryuuji.
“Tugas apa?” cecar Ryuuichirou.
“Kamu tak perlu tahu itu.”
“Tou-sama!” Ryuuichirou geram. Dia hendak berbalik namun Oda langsung menghalangi jalannya. “Minggir!”
“Mau kemana kamu?”
“Aku akan mencari Kaoru.”
“Jangan bertindak bodoh. Kaoru baik-baik saja. Bukankah kedatanganmu kesini untuk menghadiri pesta temanmu?”
“Aku tidak...”
“Ryuu-kun!” panggil sebuah suara yang amat di kenal Ryuuichirou.
“Ran-chan?”
Amakusa Ran berlari mendekati Ryuuichirou yang terpana melihat Amakusa yang terlihat mempesona dengan gaun tanpa lengan berwarna biru cerah.
“Syukurlah kamu sudah datang. Aku kira kamu tidak akan datang.” Ujar Amakusa sambil melingkarkan tangannya ke lengan Ryuuichirou yang masih terpana memandang Amakusa.
Tanpa berkata apa-apa dan hanya tersenyum, Ryuuji meninggalkan anaknya diikuti oleh Oda dan pengawalnya yang lain.
“Tou-sama!” panggil Ryuuichirou pada ayahnya yang pura-pura tidak mendengar panggilannya dan terus berjalan memasuki hotel.
Amakusa kaget dan langsung melepaskan tangannya. Namun kemudian dia kembali melingkarkan tangannya saat Ryuuichirou hendak mengejar ayahnya.
“Ryuu-kun...”
Ryuuichirou menyadari suara Amakusa bergetar dan langsung menoleh memandang wanita cantik dengan rambut yang di gelung indah itu.
“Ran-chan?”
“Kowaiyo, Ryuu-kun.”
“Doushite?”
“Pesta ini membuatku takut.”
“Nande?”
“Watashi....”
“Ran-chan!” panggil sebuah suara laki-laki memotong kata-kata Amakusa yang langsung gemetar. Ryuuichirou merasakan eratnya pegangan tangan Amakusa di lengannya dan tanpa sadar dia meletakkan tangannya di atas tangan Amakusa untuk menenangkan. “Ternyata kamu disini. Ayo masuk, acara akan segera dimulai.” Kata laki-laki itu dengan senyum.
“Hai, Nii-san.” Jawab Amakusa Ran lirih lalu dengan perlahan melepaskan tangannya dari lengan Ryuuichirou.
“Tunggu!” ucap Ryuuichirou menahan langkah Amakusa dan laki-laki yang dipanggil kakak oleh Amakusa.
Laki-laki itu menoleh masih dengan senyuman, “Kore wa kore wa, Isaka-bocchama, mari silahkan masuk.”
Sebenarnya dia enggan untuk ikut berpesta, namun dia tidak tega saat melihat sorot ketakutan Amakusa terhadap sang kakak sepupu. Dia memutuskan untuk menemani Amakusa sampai acara selesai baru kemudian dia akan mencari Asahina. Meskipun perasaannya sedikit tidak tenang tentang keberadaan Asahina, tapi dia memaksakan diri untuk percaya pada Asahina bahwa tak terjadi apapun padanya.
Dan pria tampan itu pun merasa bahwa ada sesuatu hal yang akan terjadi nanti pada Amakusa. Namun dia tidak tahu apa itu, dia hanya merasakannya. Ekspresi palsu kakak sepupu Amakusa membuatnya resah. Serta keberadaan sang ayah di hotel yang sama pun membuat feeling-nya tidak enak. Suatu hal yang buruk pasti akan terjadi nanti.
Pesta berlangsung meriah. Amakusa terlihat senang dan bahagia di kelilingi oleh teman-temannya. Meskipun jauh, Ryuuichirou yang berdiri sendiri di dekat jendela tetap mengawasi Amakusa.
“Isaka-san?” sapa seorang pria sambil mendekati Ryuuichirou yang langsung menoleh. Memandang pria yang memanggilnya.
“Toudou?” tebak Ryuuichirou. “Osashiburi. Apa yang kamu lakukan disini?” tanyanya.
“Amakusa mengundang kami semua.” Jawab pria dengan setelan jas berwarna coklat susu itu.
Dan mereka pun mengobrol. Mengenang masa sekolah mereka sambil sesekali Ryuuichirou melihat ke arah Amakusa. Wanita cantik itu sedang tertawa. Terlihat mempesona di mata Ryuuichirou.
Saat sedang berbicara, dari sudut matanya, Ryuuichirou melihat ada yang tidak beres dengan Amakusa. Dia pun menoleh dan kata-katanya pun terhenti. Dia melihat Amakusa tengah memegang kepalanya dan terlihat hampir pingsan.
Seorang pria yang berdiri di sebelah Amakusa langsung menahan tubuh Amakusa yang limbung, lalu memapah Amakusa dan membawanya keluar ruang pesta.
Ryuuichirou tercengang, dia menyerahkan gelasnya pada temannya lalu berjalan setengah berlari menyusul Amakusa yang audah tak terlihat.
Sepeninggal Ryuuichirou, seorang laki-laki mendekati Toudou lalu menyelipkan cek ke saku jas Toudou, “Gokurousan.” Ujar laki-laki itu.
Toudou membungkuk hormat lalu meninggalkan laki-laki itu yang tersenyum memandang pintu dimana Ryuuichirou menghilang.
“Tou-san.” Sebuah panggilan membuatnya menoleh.
“Bagaimana?”
“Semua sesuai rencana. Nii-san sedang memantau keadaan. Sebentar lagi pasti dia datang.”
“Bagus. Setelah ini kita tidak perlu takut dengan keberadaan Ran. Semua akan jadi milik kita hahaha.”
“Omodettou, Tou-san.”
Dua pasang mata sedang mengawasi tingkah bapak dan anak yang sedang tertawa senang dari atas balkon yang tertutup dari pandangan orang-orang yang berada di bawah.
“Pastikan semuanya sesuai rencana. Dan setelah ini, aku tidak ingin mereka mengusikku dengan berbagai alasan.”
“Hai!”
“Untuk berjaga-jaga, perintahkan Shima untuk membersihkan villa di Okinawa. Ganti semua barang jika di perlukan.”
“Hai!” jawab Oda lalu menghubungi kepala pelayan keluarga Isaka, Shima, dan menyalurkan perintah Tuan Besarnya.
###@^.^@###
Ryuuichirou merasakan kepalanya tiba-tiba pusing serta tubuhnya panas dan nafasnya memburu. Namun dia tetap mencari keberadaan Amakusa. Dia takut terjadi suatu hal yang tidak diinginkan.
Pria yang tadi membawa Amakusa keluar, dia tidak mengenalnya. Bahkan dia belum pernah melihatnya sekalipun. Dia sangat mengenal teman-teman Amakusa yang juga adalah teman-temannya dari sekolah dasar hingga sekolah menengah.
Dia membuka semua pintu kamar hotel di lantai itu. Mencari Amakusa yang menghilang dari pengawasannya.
Saat dia membuka pintu terakhir, dia mendapati Amakusa tengah tertidur di ranjang dengan pakaian terbuka. Dengan sempoyongan, Ryuuichirou mendekati Amakusa dan berusaha membangunkannya.
Namun saat Ryuuichirou baru masuk, pintu kamar langsung tertutup. Sontak Ryuuichirou berbalik dan berusaha membuka pintu namun pintu terkunci dari luar. Dia tidak bisa membuka pintu dari dalam karena pintu kamar itu sudah di otak-atik sedemikian rupa agar tidak bisa di buka dari dalam.
Ryuuichirou merasakan kepalanya bertambah pusing. Dia menyerah menggedor pintu dan meraih ponselnya. Dia menghubungi ponsel Asahina namun tidak tersambung. Lalu dia ingat kalau ayahnya berada di hotel yang sama, dan dia pun menghubungi ayahnya guna meminta tolong untuk membukakan pintu.
Selesai menelpon ayahnya, dia mendekati ranjang dengan tubuh serasa terbakar. Tangannya berusaha membuka dasi serta kancing kemejanya.
Dia melihat ada satu teko air putih di nakas samping tempat tidur. Dengan tangan gemetaran dia meraih teko dan gelas. Dituangnya air kedalam gelas lalu dia meneguknya dengan rakus.
Setelah meletakkan gelas, dia memandang Amakusa. Entah apa yang ada dalam pikirannya namun gadis cantik yang tertidur dengan wajah memerah itu sungguh mengundang hasratnya.
Didekatinya tubuh gadis yang hilang kesadaran itu dengan perlahan. Tangannya yang gemetar terulur ke wajah Amakusa. Dielusnya pipi gadis itu lalu dengan perlahan dia mendekatkan wajahnya dan dia mencium bibir Amakusa.
Kecupan pertama seakan tombol untuk membangkitkan hasratnya. Saat dia merasakan bahwa kecupannya mendapat respon dari Amakusa, diapun kembali mencium bibir Amakusa. Kali ini dengan penuh nafsu. Dan dengan ganas dia menyetubuhi Amakusa yang ternyata masih perawan.
“Efek obat perangsangnya bekerja.” Gumam seorang pria yang mencuri dengar dari luar pintu.
Oda berjalan mendekati kamar yang di sepakati bersama beberapa pengawal. Pria yang tengah mencuri dengar itu langsung berdiri tegak saat melihat Oda.
Setelah berbasa-basi sebentar, pria itu meninggalkan Oda dan pengawalnya yang langsung sigap menjaga di depan pintu kamar.
“Sebelum Ryuuichirou-bocchama atau Ran-sama meminta dibuka kan pintu, jangan sekali-sekali kalian buka pintunya. Ini perintah Tuan Besar!”
“Hai!” jawab empat pengawalnya serentak.
Kemudian Oda meninggalkan pengawalnya dan kembali ke ruangan Ryuuji menunggunya.
###@^.^@###
Asahina membuka matanya dengan perlahan. Pandangannya masih buram. Namun dia bisa merasakan ada orang lain di dekatnya.
Setelah dia bisa memfokuskan pandangannya dia melihat Oda tengah duduk di depannya, memandangnya dengan ekspresi datar.
“Oda-san!”
“Sudah bangun yaa.”
“Kenapa anda melakukan ini?”
“Keluarga Isaka membutuhkan pewaris.”
“Apa mak...” Asahina memandang Oda dengan marah, “Apa yang Anda lakukan pada Tuan Muda?! Lepaskan aku!!”
“Tidak sebelum semuanya selesai.”
Asahina berteriak frustasi. Dia berusaha melepaskan ikatan tangannya sekuat tenaga. Dan sepasang tangan menahan gerakannya.
“LEPASKAN!! LEPASKAN AKU!!!”
Pintu gudang terbuka dan seorang pengawal masuk. Pengawal itu mendekati Oda dan membisikkan sesuatu di telinga kepala pengawal Keluarga Isaka itu.
“Lepaskan dia.” Kata Oda yang langsung dilaksanakan.
Begitu ikatan Asahina terlepas, pria tampan itu langsung menghajar dua orang yang melepaskan ikatan tangannya. Oda hanya diam memandangi mereka yang sedang berkelahi.
Asahina lalu berpaling pada Oda dan langsung mencengkeram kerah pria yang selalu menampilkan ekspresi datar itu. Oda mengangkat tangannya untuk menghentikan pengawal yang lain mendekat.
“Jika terjadi sesuatu dengan Tuan Muda, aku tidak akan segan untuk menghajar anda!” ancam Asahina.
“Tuan Muda mu baik-baik saja. Namun apa yang Keluarga Isaka inginkan sudah terlaksana. Rencana kami sukses.” Jawab Oda.
Asahina menggeram marah lalu melepaskan cengkeramannya dengan emosi dan berlari menuju pavilliun tempat dimana Tuan Mudanya tinggal.
“Ryuuichirou-sama!” Asahina membuka pintu dengan kasar.
“Kaoru...” panggil Ryuuichirou lirih. Asahina mendekati tuan mudanya yang terduduk dengan ekspresi bersalah.
“Apa yang terjadi?” tanya Asahina mendekat dan berjongkok di depan Ryuuichirou.
“Maafkan aku...”
“Ryuuichirou-sama...”
“Maafkan aku...” Ryuuichirou menutup mukanya dengan tangannya, “aku telah mengkhianatimu... aku... aku menyetubuhi Ran-chan...”
Asahina terpana. ‘Jadi ini yang di maksud Oda-san tadi. Brengsek!’ ujarnya dalam hati.
“Keluarlah. Aku ingin sendiri.” Kata Ryuuichirou membuat Asahina tersentak.
“Ryuuichirou-sama!”
“PERGI!!” teriak Ryuuichirou mengusir Asahina yang mau tidak mau harus menurut meskipun dia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Setelah dia menutup pintu pavilliun, dia langsung meninju tiang kayu sambil mengumpat. Lalu dia berlari mencari Oda.
Dia menemukan Oda yang sedang memberikan instruksi pada beberapa pengawal di halaman.
Tanpa peringatan, dia langsung melayangkan pukulan pada Oda yang tidak siap. Sebuah pukulan telak mengenai pipi Oda yang terhuyung karena kaget.
Namun pukulan-pukulan Asahina berikutnya berhasil dia tangkis. Bahkan dia bisa memberikan pukulan balasan pada Asahina yang dikuasai amarah.
“Ayo, pukul lagi. Mana semangatmu yang tadi?” ejek Oda. Asahina meradang dan dengan beringas dia melayangkan tinju-tinjunya pada Oda yang dengan santai bisa menangkisnya.
Saat Asahina terlihat lengah, Oda berbalik menghajarnya tanpa ampun. Pukulan dan tendangannya melayang pada tubuh Asahina yang tidak kuasa menahannya.
“Kenapa? Sudah?” tanya Oda sambil memandang remeh Asahina yang tersungkur dengan darah menetes dari sudut bibirnya.
“Apa hanya segini kemampuanmu, calon kepala pengawal? Jika begitu bagaimana bisa kamu melindungi Pewaris Isaka kelak? Berlatih lagi. Jangan hanya memuaskan nafsumu saja!
“Keluarga Isaka membutuhkan pewaris demi kelangsungan keluarga kita. Seharusnya kamu tahu itu dan bagaimana harus menyingkapinya. Bukan malah menahannya. Ingat, hidup adikmu di tangan Keluarga Isaka. Berterima kasihlah karena Tuan Besar tidak membunuhmu dan adikmu.” Ucap Oda sambil berjongkok di depan Asahina yang mengepalkan tangannya.
Oda berdiri dan meninggalkan Asahina. Para pengawal yang sedari tadi menonton mereka langsung membubarkan diri begitu Oda berjalan menjauh.
###@^.^@###
Dua bulan berlalu sejak malam pesta itu. Ryuuichirou dan Amakusa terlihat sama-sama murung di tempat mereka masing-masing.
Ryuuichirou yang merasa sangat bersalah pada Amakusa, tidak bisa mengenyahkan bayangan Amakusa yang menangis saat mendapati dia sudah di perkosa oleh Ryuuichirou. Hal itu membuat hubungannya dengan Asahina menjadi dingin.
Sedangkan Amakusa mengurung diri di kamarnya. Pamannya marah besar saat dia pulang setelah pesta. Dia tidak bisa membela diri karena pamannya tidak pernah mau mendengarkannya.
Pamannya memberi dia pilihan, tetap di Jepang atau kembali ke London, namun dia harus menyerahkan semua aset yang dimilikinya.
Setelah berpikir masak-masak, Amakusa akhirnya memilih untuk kembali ke London. Dia merasa berada di London lebih baik daripada di tanah kelahirannya namun dia tidak pernah merasa tenang.
Seminggu setelah dia memberikan aset-asetnya pada pamannya, dia di antar oleh kedua kakak sepupunya ke bandara. Setelah memastikan Amakusa memasuki pesawatnya, kedua kakak sepupunya pulang dengan tawa penuh kemenangan.
Tanpa mereka sadari, apa yang mereka lakukan terpantau oleh Oda. Dia menyuruh polisi yang bekerjasama dengan dirinya untuk menjemput dan membawa keluar Amakusa dari bandara.
Dengan ekspresi bingung dan takut, Amakusa mengikuti dua polisi yang menahannya. Entah apa kesalahannya namun dia ikut saja.
Kedua polisi itu membawa Amakusa kesebuah heliport tak jauh dari Narita Airport. Sebuah helikopter tanpa tanda sudah menunggu. Beberapa bodyguard berdiri di depan pintu masuk helikopter itu.
Amakusa meminta penjelasan pada polisi yang membawanya namun kedua polisi itu hanya diam.
“Ran-sama, anda tidak perlu takut. Kami disini untuk melindungi anda dari keluarga anda.” Ujar seorang wanita yang berpakaian seperti boduguard.
“Siapa kalian?”
“Maafkan saya, saya Hiyashi Noriko siap melayani anda.” Ujar wanita bernama Hiyashi itu memperkenalkan diri.
“Siapa yang menyuruh kalian?”
“Kami hanya bertugas untuk melindungi dan melayani anda. Anda tidak perlu khawatir tentang keluarga anda, kami tidak akan membiarkan mereka menyakiti anda mulai sekarang.” Jawab Hiyashi.
Amakusa merasa percuma mengorek keterangan tentang siapa yang menyuruh Hiyashi untuk melindunginya. Namun dia yakin bahwa Hiyashi tidak ada hubungan apapun dengan Paman dan kedua kakak sepupunya. Dan diapun akhirnya melangkah memasuki helikopter yang akan membawanya entah kemana.
“Ran-sama, maafkan saya tapi kami harus menutup mata anda.” Ujar Hiyashi sambil menunjukkan masker mata.
Amakusa menurut. Dia memejamkan matanya agar Hiyashi bisa dengan mudah memasangkan masker mata ditangannya.
“Boleh aku memanggilmu Noriko?”
“Silahkan, Ran-sama.”
“Aku percayakan hidupku dan calon anakku di tanganmu, Noriko. Jika terjadi sesuatu denganku kelak, tolong rawat anakku.”
“Jangan khawatir, Ran-sama, tidak akan terjadi apapun pada anda dan Tuan Muda.” Janji Hiyashi.
“Arigatou.”
Setelah itu tidak ada lagi yang berbicara. Hiyashi memberikan laporan melalui pesan kepada Oda.
###@^.^@###
Satu tahun berlalu tanpa terasa. Amakusa sudah melahirkan seorang bayi lelaki yang tampan dan mirip sekali dengan Ryuuichirou.
Amakusa terlihat sangat bahagia sejak kelahiran anaknya. Meskipun sesekali dia memikirkan Ryuuichirou, namun dia tidak mungkin bisa meminta ayah dari anaknya untuk bertanggung jawab.
Selain tidak ingin Pamannya mengambil keuntungan darinya, dia juga tidak yakin dengan keluarga Isaka mau menerimanya.
Sekalipun anaknya sangat mirip dengan Ryuuichirou, tetap saja dia takut akan penolakan yang dia terima nanti saat dia menuntut pertanggungjawaban. Baginya hanya dengan memiliki anak dari Ryuuichirou sudah lebih dari cukup.
Dia memberi nama anaknya, Amakusa Ryuuya. Seperti usul Hiyashi yang sebenarnya adalah perintah dari Ryuuji saat dia diberitahu tentang kelahiran anak Amakusa.
Meskipun marganya masih menggunakan marga Amakusa, Ryuuji tidak mempermasalahkannya karena saat waktunya tiba nanti, dia bisa mengganti nama marga cucunya menjadi Isaka Ryuuya. Sang pewaris keluarga Isaka.
====END====
Glosarium :
Chan/Kun : panggilan yang biasa digunakan kepada teman sebaya atau lebih muda.
San : panggilan yang biasa digunakan kepada teman atau orang yang lebih tua.
Sama : panggilan kepada orang yang dihormati.
Bocchama : Tuan Muda
'Nande kokoni?' : 'kok ada disini?'
'Shiranakata' : 'aku tidak tahu'
'Genki?' : 'apa kabar?'
'Hai' : 'iya'; 'siap'
'Wakarimashita' : 'saya mengerti'
Hamadaya : sebuah restaurant mewah yang berada di atas kapal yang mengelilingi Tokyo di atas sungai-sungai besar yang membentang di daerah Tokyo.
'Kowaiyo' : 'aku takut'
'Doushite' : 'kenapa'
'Nande' : 'kenapa'
'Watashi' : 'aku'
'Kore wa kore wa' : 'wah wah' (pokok e ngunu lah🤭)
'Osashiburi' : 'lama tak berjumpa'
'Gokurousan' : 'terima kasih kerja sama nya'
'Omodettou' : 'selamat'
Nii-san : kakak laki-laki
Otou-sama / Tou-sama / Tou-san : Ayah
'Arigatou' : 'terima kasih'
Tidak ada komentar:
Posting Komentar