Rani berdiri memandang hamparan Sungai
Thames yang membentang membelah kota London. Matanya melihat London Eye
yang tengah berputar pelan, menunjukkan pemandangan Kota
London yang indah kepada turis yang duduk di dalamnya.
Dia menghela nafas. Saat nekat
pergi ke London dia tidak berpikir jernih. Dia hanya ingin mendatangi undangan
reuni yang dia terima dari kampusnya dulu. Sebelum berangkatpun dia tidak
memikirkan akan tinggal dimana dengan serius. Yang ada di benaknya hanyalah
mendatangi reuni dan mencari kerja. Karena dia tidak ingin berlama-lama
menganggur dan menjadi beban kedua orang tuanya.
Sepulangnya dari Korea
Selatan, dia hanya berada di rumah tanpa melakukan apa-apa. Sesekali dia
membuka website lowongan pekerjaan namun tidak ada yang menarik
minatnya. Entah kenapa dia merasa tidak nyaman jika harus bekerja dekat dengan
rumah.
Kedua orang tuanya
tidak meminta Rani untuk cepat bekerja kembali. Mereka ingin menikmati waktu
kebersamaan mereka lebih lama. Selama ini Rani sudah tidak tinggal bersama
mereka sejak masuk sekolah menengah. Karena itu lah saat Rani memutuskan untuk
pulang setelah lima tahun bekerja di Korea Selatan, kedua orang tua Rani sangat
senang.
“Where should I go?”
gumamnya galau. Dia benar-benar pusing.
Dulu saat masih kuliah
di Cambridge Univercity dia mendapat sebuah studio apartment dari saudara
angkatnya, Daniel Radcliffe. Meskipun studio apartment nya itu sudah atas
nama nya tapi tetap saja Daniel Radcliffe yang lebih berhak. Dan karena sudah
hampir sepuluh tahun dia tidak datang lagi ke London, besar kemungkinan studio
nya sudah di jual oleh saudara angkatnya.
Dia tidak ingin
bertanya kepada Daniel karena dia tidak ingin kedatangannya kali ini di ketahui
oleh mereka. Dia ingin bernostalgia di London tanpa gangguan dari orang-orang
di masa lalunya. Dia ingin membuka lembaran baru untuk masa depannya.
Setelah memikirkannya
masak-masak, Rani menyeret kopernya menuju studio apartmentnya yang dulu. Dia
akan bertanya pada resepsionis gedung apakah studionya masih miliknya apa sudah
jadi milik orang lain. Kalaupun dia mendapatkan kemungkinan terburuk bahwa
studio nya sudah bukan lagi miliknya, dia akan mencari losmen murah yang
dekat dengan kampusnya.
Dia memasuki lobby
apartment dengan harap-harap cemas. Karena hari sudah beranjak malam dan dia belum
mendapatkan tempat tinggal. Begitu sampai di meja resepsionis, Rani melihat
seorang wanita tengah asik menelpon. Rani menyapa, membuat wanita itu sedikit
terlonjak karena kaget.
Rani
tersenyum sambil meminta maaf. Kemudian mengutarakan maksud kedatangannya.
Wanita itu meminta identitas Rani untuk memastikan bahwa unit yang di maksud
Rani memang masih milik Rani.
Rani menunggu
sambil melihat sekeliling lobby. Dia memperhatikan bahwa tidak banyak perubahan
yang di lakukan pemilik gedung. Wanita recepsionis itu mengiyakan pernyataan
Rani dengan mengatakan bahwa sang pemilik gedung memang tidak banyak merubah
apa yang ada di lobby. Hanya perbaikan kecil untuk beberapa tempat yang memang
membutuhkan perbaikan.
Si
resepsionis telah memastikan bahwa unit yang ditanyakan Rani masih atas namanya. Kemudian wanita
itu memberikan kunci yang dia simpan di kotak dengan nomor unit milik Rani.
Wanita itu juga menyerahkan secarik kertas nota berisi pesan jika suatu saat Rani
kembali untuk di serahkan kepada Rani. Rani menerimanya dengan bingung namun
tetap berterima kasih kepada si resepsionis karena telah menjaga unitnya. Si
resepsionis menjawabnya dengan senyum manis.
Rani berjalan
menuju lift yang akan mengantarnya ke lantai dimana unitnya berada. Dia lega
karena tidak harus banyak mengeluarkan uang untuknya
tidur. Dia hanya perlu memikirkan untuk segera mendapatkan kerja yang sesuai
dengan kemapuannya. Dia berharap saat reuni nanti ada job fair, agar dia
tidak pusing untuk melamar kerja di mana.
Rani membuka
pintu studio nya. Bau sedikit apak langsung menyerbu hidungnya. Buru-buru dia menutup pintu
setelah memasukkan kopernya lalu membuka jendela agar sirkulasi udara di
studionya bergerak.
Setelah
membuka semua jendela, Rani membuka kain putih penutup furniture di
studionya. Seingatnya dia tidak sempat menutup barang-barang di studionya
dengan kain. Namun dia tidak terkejut jika ada kain penutupnya. Mungkin Daniel
yang melakukannya. Karena saat dia kembali ke Indonesia dia menyerahkan kunci
studionya pada Daniel.
Selama tiga
jam lebih Rani membersihkan studionya. Membuka semua kain penutup, melipat
kainnya dan menyimpannya ke dalam sebuah kardus, lalu menyimpan kardusnya,
menyedot semua debu di seluruh studionya, mengepel lantainya, mengelap semua
meja dan jendela, membersihkan counter dapur, mengecek isi lemari es, membuka
semua pintu counter dan lemari agar tidak terlalu berbau apak nanti saat
dia meletakkan barang-barangnya.
Setelah
selesai, Rani merebahkan tubuhnya di kamar yang berisi audio visual dan sebuah sofa
bed. Dua buah rak tinggi mengapit televisi berukuran empat puluh inchi yang
di tempelkan di dinding. Di bawahnya terdapat compact disc player yang
lengkap dengan speaker home theater.
Rak-rak yang
mengapit nya berisi koleksi musik-musik dan film-film serta drama favorit Rani
-yang kebanyakan drama korea- di sebelah kiri dan koleksi novel-novel kesukaan
Rani di sebelah kanan. Kebanyakan musik favorit Rani adalah K-Pop, khusunya Big
Bang. Entah kenapa sejak Rani mengenal Big Bang, dia tidak bisa lepas dari
lagu-lagu mereka. Menurut Rani, lagu-lagu milik Big Bang lebih mencerminkan apa
yang dia rasakan selama ini. Karena itu dia sangat menyukai mereka.
Bahkan mereka
saling mengenal dan sering bertukar kabar di waktu senggang. Rani harus
berterima kasih kepada Shim Seunghyun untuk itu karena telah mempertemukannya
dengan Big Bang saat dia masih berada di Korea Selatan. Saat itu, Shim
Seunghyun yang mengetahui kalau Rani sangat menyukai Big Bang, mengundang
Big Bang untuk datang ke cafe miliknya untuk mempromosikan cafenya.
Dan sejak
saat itulah pertemanan terjalin di antara mereka. Terkadang Kwon Jiyong atau
yang lebih dikenal dengan G-Dragon, datang ke cafe Seunghyun hanya untuk
sekadar mengobrol dengan Seunghyun dan Rani untuk melepas penat karena
kesibukannya.
Sambil
beristirahat, Rani menyalakan lagu milik Big Bang. Dia tiduran dengan masih
mengenakan apron dan penutup rambut sambil memainkan ponselnya. Jendela kamar
yang lebar dan tinggi, menampilkan suasana kota London yang mulai gelap.
Lampu-lampu jalan membuat suasana malam di London terkesan romantis jika di
lihat dari lantai tiga belas, tempat studio Rani berada.
Berada di
London, membuat Rani merindukan sosok kekasih hatinya yang sudah lama tidak dia
temui. Pertemuan terakhir mereka terjadi di tahun keduanya di Korea Selatan.
Saat itu tanpa sepengetahuan Rani, kekasih hatinya menyusul ke Korea Selatan
demi bertemu dengannya. Meskipun saat itu terjadi insiden yang membuatnya ingin
berpisah untuk selamanya dengan sang kekasih hati, tapi tetap saja hatinya
tidak bisa di bohongi betapa dia masih sangat mencintai kekasihnya itu.
Sudah
beberapa kali berusaha melepas bayang-bayang sang kekasih dengan berganti-ganti
pacar, namun tetap saja tidak ada yang bisa membuatnya berpaling dari sang
kekasih. Hal itu membuatnya sedikit frustasi. Dia benar-benar ingin
melupakannya namun tidak bisa. Membuatnya seakan terikat dengannya.
Tanpa dia
sadari karena terlarut dalam lamunan dan rasa rindu, dia mengirim email kepada
sang kekasih mengajaknya untuk bertemu. Setelah dia memencet icon send
di emailnya, dia tertidur karena lelah setelah seharian berada di dalam pesawat
dan dia langsung membersihkan studionya begitu sampai.
Rani
terbangun karena dering ponselnya. Dengan masih mengantuk dia meraih ponselnya
dan menjawab telponnya. Sebuah suara yang sangat dia rindukan membuat matanya
langsung terbuka. Dengan sedikit gugup Rani menjawabnya.
Si penelpon mengajak
Rani untuk bertemu di sebuah café. Rani mengiyakan lalu memutuskan sambungan
dan beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia merutuki kebodohannya
karena memberitahukan keberadaannya di London. Namun nasi sudah menjadi bubur.
Mau tidak mau dia harus menemui kekasihnya.
Dia sudah mengira akan
begini jadinya. Karena dia memang sangat merindukan kekasihnya itu. Meskipun
dia berusaha keras untuk tidak menghubunginya, tetap saja saat berada di
London, dia ingin bertemu dengannya walau cuma sebentar.
Selesai membersihkan
diri, Rani bersiap untuk pergi. Dia mengenakan celana jeans ketat di padu
dengan tshirt putih lengan pendek. Tak lupa pula dia mengenakan jaket panjang
hingga lutut berwarna coklat serta scraf warna orange kesukaannya
melingkar cantik di lehernya. Karena sudah memasuki musim gugur, udara semakin
dingin.
Rambut lurus sebahunya
di biarkan tergerai. Dia memakai sepatu sneaker dan mengoleskan lip balm
sebelum keluar dari studio agar bibirnya tidak terlalu kering karena dinginnya
udara malam hari.
Rani menghentikan
sebuah taksi yang melintas di depan studionya. Mengatakan kemana dia pergi
sebelum sopir taksi itu menjalankan taksinya. Rani membuka email-email nya yang
belum sempat dia buka seharian ini. Beberapa email menawarinya asuransi jiwa
dan lowongan pekerjaan. Satu email dari adiknya yang memintanya untuk segera
menghubunginya begitu sampai di London. Satu email dari Shim Seunghyun
menanyakan kabarnya. Dan satu email dari Kwon Jiyong yang juga sama menanyakan
kabarnya serta memberitahu bahwa Big Bang sedang mengadakan World Tour dan jika
Rani sedang tidak sibuk, Kwon Jiyong memintanya untuk datang ke konser karena
dia ingin bertemu.
Rani tersenyum saat
membaca email dari Kwon Jiyong. Leader Big Bang yang entah kenapa dia
sangat suka berada di dekatnya. Kwon Jiyong membuatnya nyaman. Saat berada di
dekatnya, beban kesedihan yang dia rasa langsung menguap. Seakan dia
mendapatkan suntikan energi hanya dengan mengobrol santai dengannya.
Rani membalas email
dari Kwon Jiyong, mengatakan bahwa dirinya saat ini berada di London sampai
tiga bulan kedepan jika dia belum juga mendapatkan pekerjaan. Tak lupa pula dia
mengatakan dengan senang hati akan menemuinya saat konser di London.
Tak perlu menunggu
lama, balasan email dari Kwong Jiyong sudah masuk ke inbox Rani. Rani membuka
email itu yang mengatakan kalau Kwon Jiyong senang dengan jawaban Rani yang
sesuai harapannya. Dia juga melampirkan undangan khusus untuk Rani yang akan
ditunjukkan kepada panitia konser di London agar Rani bisa masuk ke ruang
ganti.
Setelah dia mengirim
balasan berterima kasih, taksi yang membawanya sudah sampai di tujuan. Rani
memberikan ongkos taksi kepada sopir lalu turun dan memasuki café setelah
terdiam cukup lama sambil memandangi nama café yang terletak di atas pintu
masuk.
Rani memilih tempat
duduk di sudut ruangan agar dia tidak terlalu di perhatikan oleh pengunjung
yang lain. Seorang pramusaji mendatanginya, menuangkan air putih di gelas kaca
yang sudah tersedia di meja, memberinya daftar menu lalu meninggalkan Rani
untuk memilih menu yang dia inginkan.
Saat Rani tengah asik
membolak-balikkan menu, seorang pria duduk di depan Rani. Respon Rani biasa
saja karena dia tahu siapa yang duduk di depannya meskipun dia menutupi wajahnya
dengan masker hitan dan topi serta kerah jaket nya yang di tinggikan.
“Sudah lama menunggu?”
tanya pria itu. Rani menggeleng.
“Baru aja.” jawab Rani lalu
menyerahkan menu kepada pria itu untuk memilih makanan. Pria itu menerima menu
dari Rani.
Tangan Rani terangkat
sebagai isyarat bahwa dia membutuhkan seorang pramusaji untuk mencatat
pesanannya. Seorang pramusaji dengan cekatan mendatangi Rani. Menuang air putih
untuk pria di depan Rani lalu mencatat pesanan Rani.
“Kenapa tidak
memberitahuku kalau kamu akan ke London?” tanya pria itu sambil melepas
maskernya, “Apa yang kamu lakukan di London?”
“Dapat undangan dari
kampus,” jawab Rani lalu meminum air putihnya, “Sebenarnya malas sih datang,
paling juga acara nya begitu-begitu aja. Tapi karena tidak ada kegiatan lain,
disini lah aku sekarang.”
“Sudah tidak lagi
kerja di Korea?” tanya Tom Felton, kekasih Rani.
“Kontrakku di sana
sudah habis. Aku tidak ingin melanjutkannya lagi.” jawab Rani sambil
menggeleng.
“Kenapa?”
Rani mengedikkan
bahunya, “sudah bosan di sana” Felton mengernyit memandang Rani heran, “Aku ingin
mencari pengalaman yang lain, makanya aku tidak melanjutkan kontrak” tambah
Rani menutup pembahasan kenapa dia tidak melanjutkan lagi bekerja di Korea
Selatan.
Felton pun tidak ingin
membahasnya lagi. Dia merasa sedikit lega saat Rani bilang tidak ingin lagi ke
Korea Selatan. Bahkan memikirkan Rani di sana saja membuat hatinya di bakar
cemburu. Kedekatannya dengan Shim Seunghyun membuatnya marah.
Meskipun dia tahu Rani
hanya menganggap Shim Seunghyun hanya teman, tetap saja dia cemburu. Siapapun
pria yang dekat dengan Rani sudah pasti memiliki perasaan khusus untuk Rani.
Sekalipun Rani tidak menyadari itu. Kedekatan Rani dengan Shim Seunghyun
membuatnya naik pitam sehingga membuat Rani harus di larikan ke rumah sakit
karena pendarahan.
Sejak saat itu sikap
Rani kepada Felton sedikit lebih dingin. Rani masih menyukai dan mencintai
Felton namun tidak seperti sebelumnya. Seakan rasa cintanya pada Felton sedikit
demi sedikit menguap. Dia masih merindukan Felton, hanya saja tidak harus saat
itu juga bertemu. Tidak seperti sebelumnya yang tiap kali dia merindukan
Felton, dia meminta Felton untuk menemuinya di Singapore, hanya untuk melepas
rindu.
Setelah menghabiskan
makan malam mereka dalam diam, mereka beranjak pergi. Rani meminta Felton untuk
mengantarnya ke Tesco Hypermarket untuk belanja kebutuhan nya selama di
London. Felton dengan senang hati mengantar Rani.
Mereka membeli semua
barang yang mereka butuhkan. Di sela-sela belanja, Felton menelpon kakaknya
yang juga manajer nya. Memberitahunya bahwa dia tidak akan pulang malam ini dan
akan langsung ke lokasi shooting esok hari.
Selesai belanja,
mereka langsung menuju studio apartemen Rani. Ini pertama kalinya Felton ke
studio Rani. Felton memarkir mobilnya di basement gedung lalu membuka pintu
bagasi mobil sebelum mematikan mesin mobilnya. Rani turun dari mobil dan
mengambil belanjaannya di bantu oleh Felton.
Dalam perjalanan
mereka menuju studio Rani, mereka hanya terdiam dengan pikiran masing-masing.
Mereka sama-sama rindu hanya saja mereka enggan untuk menunjukkannya. Dan
Felton masih menunjukkan rasa bersalah karena teringat kejadian empat tahun
lalu saat dia tanpa sengaja mendorong Rani saat bertengkar. Membuat Rani harus
di larikan ke rumah sakit dan harus rawat inap selama beberapa hari.
Rani meletakkan
belanjaannya di counter dapur, begitu juga dengan Felton. Saat Rani
hendak membongkar belanjaannya, Felton menarik Rani. Merengkuhnya dalam dekapan
hangatnya. Rani melingkarkan tangannya di tubuh Felton.
“I miss you.” bisik Felton.
“I miss you, too.” balas Rani.
Felton melepaskan
pelukannya. Meletakkan tangannya di kedua pipi Rani. Mata mereka beradu pandang.
Sorot mata mereka menunjukkan betapa mereka saling merindukan satu sama lain.
Dengan perlahan mereka mendekat. Bibir mereka bertemu, mereka melepaskan rasa
rindu yang menggebu.
###@^.^@###
Rani menggeliatkan
tubuhnya. Di raihnya smartphonenya yang tergeletak di atas nakas di
samping tempat tidurnya. Petunjuk waktu di smartphonenya menunjukkan
pukul delapan pagi. Rani beringsut turun dari tempat tidur dengan perlahan. Tak
ingin membangunkan Felton yang masih terlelap.
Setelah mencuci muka,
dia menata barang belanjaannya semalam yang masih tergeletak di counter.
Tak lupa dia membuat sarapan untuk dirinya dan Felton. Dia memanggang roti dan
membuat omelet telur serta menggoreng beberapa saussage.
Felton membuka
matanya. Suara berisik dari dapur membuatnya terbangun. Setelah memandang
berkeliling dia teringat kalau dia berada di studio apartemen Rani. Senyumnya
mengembang. Dia senang dengan kedatangan Rani.
Dia menggeliatkan
tubuhnya lalu turun dari tempat tidur. Membuka tirai jendela kamar dan langsung
di suguhkan pemandangan bangunan-bangunan tinggi yang berjejer di kota London.
Dia meraih bedrobe-nya, memakainya sambil berjalan
keluar kamar.
“Good Morning.” ucap Felton sambil
memeluk Rani yang sedang memasak dari belakang. Dia menyandarkan kepalanya di
bahu Rani.
“Morning.” jawab Rani sambil
menyentuh pipi Felton sekilas lalu melanjutkan memasak kembali, “cuci muka dulu
sana lalu sarapan. Kamu ada jadwal kan pagi ini?” tanya Rani sambil menuang telur
ke piring yang sudah dia siapkan.
Setelah mengecup pipi
Rani, Felton melepaskan pelukannya dan menuju kamar mandi. Dia memang ada
jadwal pagi hari ini. Karena itu meskipun dia enggan berpisah dengan Rani,
tetap saja dia harus pergi. Selesai mandi dan bersiap, Felton duduk di meja
makan.
“Hari ini kamu mau
kemana?” tanya Felton.
“Mau ke butik. Aku
lupa tidak membawa dress yang cocok untuk acara reuni.”
“Kapan acaranya?”
“Sabtu depan.”
“Setelah itu apa
rencanamu?”
“Aku ingin kerja. Tapi
jika sampai tiga bulan aku tidak dapat kerja aku terpaksa kembali.”
“Kalau kamu tidak
dapat kerja disini, kamu rencana nya mau mencari kerja di mana?”
“Aku belum berpikir
sejauh itu,” jawab Rani menerawang, “mungkin aku akan mencoba ke Bali atau
Jepang?” imbuh Rani santai sambil mengedikkan bahunya.
“Aku senang kamu
kembali ke London,” ujar Felton sungguh-sungguh, “dan aku berharap kamu bisa
bekerja disini. Aku tidak ingin jauh darimu lagi.” Rani tersenyum
mendengar kata-kata Felton.
Meskipun dia
menyunggingkan senyum manis, tetap saja hatinya serasa hambar. Dia belum bisa
menentukan apakah dia sudah benar-benar tidak mencintai Felton lagi atau masih
ada cinta untuk Felton. Dia masih bingung dengan apa yang dia rasakan terhadap
Felton.
Selesai sarapan,
Felton beranjak dari kursi, mengambil kunci mobil dan smartphonenya lalu
pamit pada Rani yang mengantarnya sampai pintu. Setelah mengecup kening Rani,
Felton berangkat menuju lokasi shooting. Rani menutup pintu sambil menghela
nafas.
Dia membersihkan
piring kotor bekas sarapannya di meja makan. Kemudian dia masuk ke kamar audio.
Menyalakan televisi dan duduk santai di sofa. Dia tidak yakin ingin menonton
apa. Dia hanya mengganti chanel-chanel televisi. Saat sudah bosan, dia
mematikan televisi dan menyetel musik. Alunan musik yang merasuk ke telinganya
membuatnya melamun.
Rani begitu
larut dalam lamunan hingga dia tidak menyadari kalau hari sudah semakin siang.
Rani tersadar dari lamunan saat sebuah notifikasi masuk di smartphonenya.
Dengan malas dia meraih smartphonenya. Di lihatnya sebuah email baru
masuk di smartphone nya.
Dilihatnya
siapa yang yang mengiriminya pesan. Sedikit mengernyitkan kening, dia membalas
nya dengan menyertakan nomor ponselnya yang baru. Karena dia mengganti nomor
ponselnya begitu landing di London kemarin. Entah apa yang diingankan temannya
saat meminta nomor ponselnya, namun tetap saja dia memberikan nomor ponselnya.
Rani beranjak
dari sofa menuju kamar mandi, setelah membersihkan diri dia bersiap pergi ke
butik. Dia tidak punya langganan butik di London, karena itu dia akan
memilih-milih baju di beberapa butik sampai dia menemukan yang cocok. Untuk itu
hari ini Rani memakai baju yang sedikit lebih santai agar dia bebas bergerak
dan tidak capek jika harus berjalan jauh.
Rani berjalan dengan
santai sambil sesekali masuk ke butik pakaian yang dia lihat. Dia belum
menemukan pakaian yang cocok untuknya menghadiri reuni. Dia menyerah dan
berjalan menuju halte. Dia tidak ingin cepat sampai di studio nya. Dia ingin
menikmati secangkir teh sebelum pulang.
Dia berhenti di sebuah
café yang menyediakan tempat duduk di teras. Rani memilih duduk di teras sambil
memandangi orang-orang yang berlalu lalang. Suasana sore hari yang
menyenangkan. Rani memandang sekitar café, banyak butik dan toko buku serta
café dan restaurant. Lalu pandangan nya tertuju pada satu butik yang belum dia
datangi tadi, setelah menghabiskan teh nya dia ingin kesana dulu sebelum
pulang.
Rani melangkah masuk
ke dalam butik dengan interior yang elegan. Dia langsung suka dengan interior
butik dan membuatnya yakin jika pakaian yang dia cari pasti ada di butik ini.
Butik itu memilik koleksi lengkap untuk pria dan wanita. Rani berkeliling
melihat-lihat pakaian untuk wanita.
“Hi, may I help
you?” tanya seorang wanita cantik sambil mendatangi Rani yang sedang
memilih dress. Rani menoleh tersenyum, “Indonesia?” tanya wanita itu
langsung begitu berdiri di sebelah Rani.
Rani mengernyitkan
kening, entah darimana wanita di depannya ini tahu kalau dia berasal dari
Indonesia. “How..?”
Wanita itu tersenyum,
“My mother is from Indonesia, so I know.” jawabnya membuat
Rani mengangguk-anggukkan kepala.
“It seems like I’ve
seen you before.” ujar Rani pada wanita itu yang juga langsung berpikir
dimana mereka pernah bertemu.
“BALI!”
Mereka berteriak
bersamaan. Hening sesaat karena kaget, keduanya lalu terkikik geli. Dan mereka
pun mengobrol mengenang masa lalu.
“Aku tidak menyangka
bisa bertemu denganmu disini.” ujar Sharry, pemilik butik
setelah mereka memperkenalkan diri, sambil menggenggam erat tangan Rani yang
balas menggenggamnya.
“Aku juga.” jawab Rani. Mereka
lalu hanyut dalam obrolan mengenang saat mereka sama-sama di Bali.
Mereka ternyata sering
bertemu secara tidak sengaja di pesta-pesta yang mereka hadiri saat masih di
Bali. Sering berada di pesta yang sama karena mereka berteman dengan orang yang
sama.
Tanpa mereka sadari
sepasang mata tengah menatap mereka dengan heran. Seorang pria berdiri di balik
deretan baju yang memisahkannya dengan dua wanita yang tengah mengobrol seru.
Ini pertama kalinya bagi pria itu melihat betapa Sharry terlihat sangat senang
mengobrol dengan seorang wanita yang tidak di kenalnya.
Dia belum pernah
melihat wanita itu sebelumnya. Sepengetahuannya Sharry tidak punya banyak teman
dekat hingga bisa membuatnya terlihat sangat bahagia. Dia tersenyum melihat
tawa senang Sharry lalu berbalik dan keluar dari butik.
“Sir?”
Ajudannya bingung sambil mengikuti pria itu keluar dari butik.
“Let’s go,” ujar pria itu sambil
memasuki mobilnya. Tanpa bertanya lebih lanjut, sang ajudan ikut masuk ke dalam
mobil, duduk di samping sopir. “I never knew Sharry can smile like that.” gumam pria itu.
“I think we still
didn’t know about Lady Sharry.” ujar ajudannya.
“Yeah.” jawab pria itu
sambil memandang keluar jendela mobil.
###@^.^@###
“Sudah dapat bajunya?”
tanya Felton saat makan malam.
Rani mengangguk, “Aku
juga bertemu dengan temanku.”
“Teman?”
“Iya, teman saat aku
di Bali,” jawab Rani membuat Felton merasa lega, “sebelumnya aku tidak pernah
berbicara dengannya. Hanya sering bertemu saat ada party. Dia temannya temanku,
tadi kami mengobrol banyak sampai lupa waktu. Aku baru saja sampai apartemen
saat kamu menelponku tadi.”
“Pria atau wanita
temanmu itu?” tanya Felton menatap Rani yang langsung menghentikan suapannya
dan balas memandang Felton.
“Don’t worry, my
friend is a woman,” jawab Rani sambil meletakkan kembali sendoknya, “are you
will like this forever? Jealous over my friend?”
Felton langsung merasa
dia salah berucap, “I didn’t mean like that, Rani, but I will lie if I say I
didn’t jealous. Don’t you know, every man around you is love you?”
Rani diam tidak
menjawab. Dia menghela nafas berat, menggelengkan kepala lalu beranjak
meninggalkan Felton. Dia bosan terus-menerus membahas hal ini dengan Felton.
Berapa kali pun dia bilang kalau dia hanya menganggap mereka teman, Felton
tetap saja cemburu buta dan akan terus menuduhnya berselingkuh.
Sepeninggal Rani,
Felton meremas rambutnya kesal. Baru juga satu hari mereka bertemu, mereka
sudah bertengkar. Seharusnya dia tidak mengatakan itu pada Rani, namun tetap
saja dia cemburu jika melihat Rani dengan pria lain. Karena Rani tidak pernah
terlihat tertawa begitu lepas saat bersamanya. Seakan hubungan mereka adalah
sebuah hubungan keterpaksaan.
Felton mendekati Rani
yang duduk di sofa sambil memainkan smartphone nya. Dia duduk di sebelah
Rani yang masih mendiamkannya. Dia bisa merasakan bahwa Rani sudah banyak
berubah.
Dulu jika sedang marah
atau jengkel, Rani pasti meledak-ledak dan merajuk. Semua yang terlintas di
otaknya dia lontarkan dengan penuh emosi, namun sekarang Rani hanya akan diam
tak menanggapinya. Dan setelah beberapa lama, Rani akan tersenyum kembali
meskipun dia tahu senyum Rani senyum terpaksa.
“Rani,”
panggil Felton merayu sambil merangkul Rani yang hanya memnjawabnya dengan hmmm
dan masih asik dengan smartphone nya, “dont mad. I just..”
Rani menoleh
menatapnya lalu tersenyum sambil menyentuh pipi Felton, “I know.” jawab
Rani lalu kembali ke smartphone nya. Felton tertegun sejenak lalu
menghela nafas. Dilepaskan rangkulannya lalu duduk diam di samping Rani.
Felton
menyadarkan kepalanya. Dia tidak tahu harus berbuat apa jika Rani sudah seperti
ini. Dia hanya harus menunggu hingga Rani mendekatinya, hal itu membuatnya
merasa tertekan. Raninya dulu selalu ceria dan dia lebih menyukai Rani yang
saat emosi bisa meledak-ledak daripada diam seperti ini.
Saat
pikirannya berkelana memikirkan Rani saat pertama kalinya mereka bertemu, dia
merasakan tangan Rani tengah melingkar di tubuhnya dan Rani sedang menciumi
leher dan dada bidangnya. Felton tidak ingin menghentikan Rani, jujur dia suka
dengan sentuhan Rani. Sebelumnya Rani belum pernah seperti ini, agresif, dulu
Rani lebih pasif dan sedikit membosankan.
Felton
memandang wajah Rani yang terlelap di pelukannya. Dia mengusap-usap pipi Rani
penuh dengan kelembutan. Tidak dapat di pungkiri dia jatuh cinta pada Rani.
Jika sebelumnya dia hanya mengambil keuntungan karena Rani yang sangat
mencintainya, sekarang dia bisa merasakan debaran jatungnya saat menatap Rani.
Dia tidak ingin kehilangan Rani, dia ingin Rani hanya untuknya, miliknya
selamanya.
Rani bergerak
dari tidurnya, dengan perlahan matanya terbuka. Dia melihat Felton tengah
menatapnya dengan penuh cinta. Rani terpana sesaat namun sedetik kemudian
senyumnya mengembang. Dia merapatkan pelukannya, membenamkan kepalanya di dada
Felton.
“Why are
you looking at me like that?” tanya Rani meskipun dia sebenarnya tahu, dia
hanya ingin memastikan.
“You look
so beautiful.” jawab Felton mendekap Rani yang tertawa senang. Felton lega
mendengarkan suara tawa Rani. Dia takut tidak akan bisa mendengarkan suara
tawanya lagi.
“You have
schedule today?” tanya Rani mendongak memandang Felton yang mengangguk.
“Yeah. Do
you want to come along?” tanya Felton sambil menyisir rambut Rani dengan
penuh cinta.
“Can I?”
“Of course.”
“What if
Daniel know?”
“I dont
care. As long as you love me, I dont care with Daniel.” jawab Felton
tersenyum. Membuat Rani kembali menyusupkan kepalanya di dada bidang Felton dan
Felton menyukainya. Dia mengeratkan pelukannya.
Saat Rani
memasuki mobil Felton, dia melihat Felton tengah menelpon manajernya. Felton
memberitahu manajernya yang juga kakak ketiganya bahwa dia akan datang bersama
Rani.
Semua
keluarga Felton tahu siapa itu Rani, karena Rani sudah sering ikut makan malam
bersama keluarga Felton. Ibu Felton bahkan sering menanyakan Rani saat mereka
putus hubungan, membuat Felton bingung bagaimana harus menjelaskan kepada
ibunya.
Selesai
menelpon, Felton memandang Rani dengan tersenyum dan menanyakan apakah Rani
sudah siap. Rani menjawabnya dengan mengangguk dengan senyum manis, membuat
Felton langsung mendekatkan wajahnya ke wajah Rani lalu mencium bibir Rani
penuh gairah. Rani mendorong Felton pelan dan mengingatkannya kalau mereka
sudah terlambat. Felton mengalah lalu menyalakan mobilnya dan menjalankannya
menuju lokasi shooting.
Perjalanan
menuju lokasi shooting membutuhkan waktu dua sampai tiga jam. Untuk mengusir
kebosanan selama perjalanan, Rani memainkan musik dari smartphone nya.
Dia juga mengecek emailnya, dan dilihatnya sebuah email dari Kwon Jiyong lagi.
Saat dia
hendak membuka emailnya, sebuah panggilan masuk. Setengah nyengir dia menjawab
panggilan itu.
“MWOHAENGEOYA?!!! (APA YANG KAU LAKUKAN?!!!)”
teriak si penelpon membuat Rani langsung menjauhkan smartphone nya dari
telinga nya.
“Mian,
mian. (Maaf, maaf.)” jawab Rani sambil terkekeh.
“Why you
didn’t call? Mom is so worry!”
“I’am
busy.”
“Pfffttt..
your reunion is in Saturday. What your busy right now?”
“Well, I
forgot to bring dress so I need to buy. Also I meet him.”
“Are you
crazy? You said you won’t meet him anymore.”
“I know,
but I can’t avoid, too. You how I feeling,” Terdengar helaan nafas, Rani
tersenyum, “don’t worry, I know what I’m doing.”
“Jiyong-oppa
is asking me, why you in London.”
“What you
tell him then?”
“I said
you working in London. I can’t say anything than that. You know his feeling
toward you, right?”
“but you
know, I can’t.” bantah Rani.
“Just be
with him, he will be very happy.”
“I don’t
want to make him misunderstood when I do that,” jawab Rani, “don’t discuss
this issue again. I will do what I have to do. I need to go.”
“Don’t
forget to call Mom. I’m at Singapore right now with them.”
“Araseo, (baiklah)”
jawab Rani, “say hi to them from me.” ujar Rani lalu mematikan panggilan
dan menghela nafas.
“Who is
calling?” tanya Felton setelah memarkirkan mobilnya dan mematikan mesin.
“Billa. I
forgot to call her and my Mom. I should call them when I’m
arrived.”
“And may I
know who you two talking about?” tanya Felton hati-hati.
“My
friend, boygroup I like.” jawab Rani. Felton tahu dia tidak seharusnya
bertanya lebih lanjut. Mereka sudah di lokasi shooting, dia tidak ingin crew
film melihat mereka bertengkar, terlebih lagi dia tidak ingin Daniel.
“Come on,
Chris is waiting us.” ajak Felton sambil membuka sabuk pengamannya dan
membuka pintu mobil diikuti oleh Rani yang tersenyum karena Felton tidak
bertanya lebih lanjut.
Karena dia
sendiri bingung dengan perasaannya menyangkut Kwon Jiyong. Dia tahu Kwon Jiyong
menyukainya, dan dia juga menyukainya, tapi entah kenapa dia tidak ingin
memiliki ikatan dengan Kwon Jiyong. Dia hanya ingin berteman dengan mereka agar
tidak ada rasa canggung jika nanti mereka berpisah.
Jauh di lubuk
hatinya, dia menyukai Kwon Jiyong, sangat suka, hanya saja Kwon Jiyong is Korean
Idol, dia punya banyak penggemar yang mengharuskan dia untuk tidak terlibat
skandal, terutama tentang skandal percintaan. Rani tidak ingin terlibat dalam
lingkaran mereka.
Rani
mengenakan topi untuk menyembunyikan wajahnya agar tidak di kenali, dia
bersikap seperti layaknya seorang staff. Namun penampilannya itu tidak bisa
mengelabui mata Daniel.
Semenjak dia
turun dari mobil, dia bisa merasakan pandangan tajam terus tertuju padanya, dia
memandang sekeliling dan dilihatnya Daniel tengah memandanginya dengan tatapan
tajam menusuk seakan ingin membunuhnya. Tanpa sadar Rani mendekatkan dirinya
pada Felton dan menggamit lengan Felton.
Felton yang
kaget saat Rani menggandengnya memandang Rani yang masih melihat ke arah
Daniel, dan mengikuti pandangan Rani. Dia melihat Daniel yang menatapnya dengan
tangan terkepal. Felton menyunggingkan senyum sinis penuh kemenangan pada
Daniel yang langsung tersulut emosi.
Sebuah tangan
menghentikan langkah Daniel yang akan mendekati Felton dan Rani. Daniel
menoleh, dilihatnya Emma tengah memandang dan menggeleng, Daniel memandang ke
sebelah Emma, Rupert pun tengah memandangnya dan memberinya isyarat agar tidak
gegbah.
“Not now.”
ujar Emma
“But.”
“I know,
we need Rani explaination but not now, Dan, a lot people watching.”
“I’m agree.”
ujar Rupert.
Daniel pun
mengalah. Dia kembali duduk dan membaca script nya dengan perasaan
marah.
Rani duduk
bersama Chris selama Felton shooting. Chris menanyainya banyak hal,
termasuk apa yang dia lakukan selama ini dan alasan mereka putus. Rani
menceritakan semua kegiatannya kecuali kisah cinta nya setelah berpisah dengan
Felton, karena Chris tidak perlu tahu itu.
Shooting
hari ini berjalan hingga hampir tengah malam. Begitu sutradara mengatakan bahwa
shooting akan di lanjutkan esok hari, Rani langsung mengajak Felton
untuk pulang. Karena dia sudah lelah sekali berada disana dan tidak melakukan
apa-apa selain menunggu, meskipun dia menyibukkan diri dengan berbalas email
dengan Kwon Jiyong, adiknya dan temannya yang lain tapi tetap saja menunggu itu
melelahkan.
Saat Rani
hendak membuka pintu mobil, tangannya di tarik seseorang. Rani berbalik dan
mendapati Daniel berdiri di depannya dengan tatapan meminta penjelasan. Rani
bergeming balas memandang Daniel.
“What are
you doing?” tanya Felton tidak suka. Saat dia membuka pintu mobil, dia
melihat Daniel mendatangi Rani dan langsung menariknya. Di bantingnya pintu
mobil dan mendekati Rani dan Daniel yang hanya diam saling pandang.
Felton
melepas paksa tangan Rani dari genggaman Daniel yang menoleh padanya dengan
marah. Felton menempatkan diri di depan Rani, dia tidak ingin Daniel menyakiti
Rani dan juga dia ingin membuktikan pada Daniel kalau dia bisa melindungi Rani.
“I need to
talk with Rani, don’t interfere.” ujar Daniel dengan penuh penekanan pada
Felton.
“She don’t
want to talk with you.” jawab Felton dengan senyum sinis.
Rani merasa
dia harus melakukan sesuatu jika tidak kedua pria di depannya pasti akan berkelahi.
Dia tahu dampaknya akan seperti apa jika mereka berdua berkelahi. Lalu dengan
mantap dia menyentuh lengan Felton yang langsung menoleh ke arahnya.
“You can
go home first. I will go home with Daniel.” ujar Rani.
“But...”
“Don’t
worry, Daniel will do nothing to me.” tambah Rani menenangkan Felton yang
tidak ingin Rani pergi bersama Daniel. Rani mengangguk meyakinkan Felton yang
akhirnya menyingkir dari depan Rani dan membiarkan Rani naik ke mobil Daniel.
Sempat
dilihatnya senyum mengejek Daniel sebelum Daniel memasuki mobilnya, membuat
tangannya terkepal karena marah. Dia tahu Daniel sangat menyayangi Rani dan dia
pun tahu kalau Daniel juga menyukai Rani, namun Rani tidak sadar bahwa Daniel
mencintainya. Dia hanya menganggap Daniel sebagai saudara tidak lebih.
“Why you
with him again?” tanya Daniel, pandangannya lurus menatap kedepan dan
sesekali dia melirik Rani yang duduk di sebelahnya.
“I have a
reason.” jawab Rani tanpa mengalihkan pandangan.
“But why?”
“Don’t ask
me why, I just have the reason why I’m with him. Again.” ujar Rani tegas, “Don’t
worry, I’m not the old Rani. I know what I’m doing. Don’t try to stop me.”
Daniel
memandang Rani lama lalu menghela nafas, “I know who you are, I can see your
action toward him is different. I’m not gonna stop you, but just be careful,
you know him so well, didn’t you?”
“I did.”
“If you
need my help, just say, I’ll help you.”
“I know.
Right now I still can handle it by my self.” ujar Rani.
Keduanya lalu
terdiam, larut dalam pikiran mereka masing-masing. Daniel mengendarai mobilnya
dengan santai, dia ingin berlama-lama dengan Rani. Karena sejak terakhir kali
mereka bertemu, mereka tidak pernah bertukar kabar. Rani mengganti alamat
emailnya sehingga Daniel tidak pernah bisa menghubunginya lagi. Dan Rani pun
enggan menghubungi Daniel, karena menurutnya Daniel selalu mengekangnya
sedangkan dia tidak ingin di kekang.
Daniel
menghentikan mobilnya di depan pintu lobby apartment Rani. Rani
mengucapkan terima kasih dan selamat malam pada Daniel sebelum turun, dia juga
mengatakan akan menelponnya. Daniel bertanya apa Rani masih menyimpan nomornya,
Rani mengangguk dan mengatakan kalau dia di beri nota berisi nomor Daniel oleh
resepsionis apartment.
Setelah
berpamitan, Daniel langsung menjalankan mobilnya meninggalkan gedung apartment
Rani dengan diiringi lambaian tangan Rani. Rani memandang mobil Daniel sampai
menghilang dari pandangan lalu masuk ke lobby apartment setelah menghela
nafas.
Begitu dia
masuk ke studionya, dilihatnya Felton tengah menunggunya di sofa dengan
pandagan tajam menusuk meminta penjelasan. Rani hanya menghela nafas,
meletakkan tas nya di sofa dan berjalan menuju dapur. Dia membuka lemari es,
mengambil kaleng bir lalu kembali ke ruang tengah dan duduk di depan Felton.
“What
happen?” tanya Rani.
“What
happen?! What happen, you said?!” Felton marah, “You know I don’t like
it when you go with another man...”
“Its just
Daniel.” jawab Rani datar.
“He like
you. Don’t you know it?!” Felton semakin geram dengan sikap acuh Rani, “he
always wants to separate us. He wants to have you, to be his own...”
“Just like
you, right?” Felton langsung terdiam, “never mind. I’m tired.” ujar
Rani lalu bangkit dan berjalan menuju kamar, merebahkan tubuh lelahnya di atas
tempat tidur. Namun dia tidak segera tidur melainkan memainkan smartphone nya.
Sementara itu Felton
masih duduk terdiam di sofa. Kata-kata terakhir Rani menusuknya. Dia sadar
kalau dia hanya menginginkan Rani untuk dirinya sendiri, dia tidak suka jika
Rani bersama dengan pria lain meskipun dia hanya memanfaatkan perasaan Rani
padanya.
Perubahan sikap Rani
padanya sedikit mengganggunya. Dia bisa melihat kalau Rani seakan tidak peduli
padanya, Rani tidak pernah lagi merajuk saat dia marah padanya karena cemburu.
Rani terkesan lebih cuek dan menunggu Felton untuk memutuskan mereka. Tapi hal
itu tidak akan pernah Felton lakukan. Dia akan mengikat Rani selamanya.
Felton beranjak menuju
kamar. Saat dia hendak membuka pintu kamar, didengarnya suara Rani tengah
bicara dengan seseorang dengan ceria. Emosinya yang semula sudah berangsur reda
kini tersulut kembali. Dibuka nya pintu kamar dengan kasar, membuat Rani tersentak
kaget.
“Who you talking
to?” tanya Felton marah. Dia mendekati Rani dengan langkah menghentak lalu menekan
leher Rani dengan tangannya.
“My friend.” jawab Rani sambil berusaha
melepaskan cengkeraman Felton dari lehernya, “It’s Seunghyun... let me go...” pinta Rani
meletakkan smartphone nya tanpa memutuskan sambungan telepon karena dia
sudah merasa tercekik. Tangannya memukul-mukul tangan Felton agar melepaskan
cengkeramannya.
“Aku sudah bilang kan,
jangan bicara dengan pria lain jika aku bersamamu!” ujar Felton
mengancam Rani dengan sorot mata penuh kemarahan.
“Ba, baiklah... tak akan ku ulangi
lagi... lepaskan...” Rani memohon, tapi Felton masih memandangnya dengan
beringas seperti sedang kerasukan, “Tom.”
Felton dengan kasar
melumat bibir Rani yang tidak bisa bernafas. Tangannya memukul-mukul dada
Felton yang menindih tubuh Rani. Felton menangkap tangan Rani dan menahannya
dan terus mencumbu Rani dengan beringas.
Sementara itu,
Seunghyun yang masih terhubung dengan Rani tetap mendengarkan apa yang sedang
terjadi dengan Rani. Dia mencemaskan Rani saat ini, dia tahu Felton bisa sangat
membahayakan Rani jika dia tidak segera di hentikan. Namun apalah daya dia
tidak bisa menolong Rani saat ini karena dia ada di belahan bumi yang lain.
Saat dia sudah tidak mendengar apa-apa lagi, dia memutuskan sambungan
teleponnya dengan rasa bersalah dan khawatir.
###@^.^@###
Rani bangun dari
tidurnya dengan meringis kesakitan. Di lihatnya pergelangan tangannya yang
membiru dan saat dia memandang tubuhnya yang tanpa busana, dia melihat luka
lebam di beberapa tempat. Dia menoleh memandang Felton yang masih terlelap.
Tidak ingin
membangunkan Felton, Rani turun dari tempat tidur dengan pelan dan langsung
menuju kamar mandi untuk membasuh tubuhnya. Setelah selesai mandi, dia
mengambil cangkir dan menuangkan kopi yang sudah dia buat sebelum memasuki
kamar mandi, lalu berjalan menuju ruang audio. Dia menyalakan musik lalu duduk
di depan jendela, memandang pemandangan kota London sebelum matahari terbit.
Setitik air matanya
jatuh saat dia menghayati arti lagu yang sedang berputar. Fisiknya sakit namun
hatinya lebih sakit. Dia sebenarnya tahu Felton bisa melakukan hal ini padanya
hanya saja dia tidak siap menghadapinya semalam. Sorot mata penuh kemarahan dan
ketakutan akan kehilangan Rani, membuat nyali Rani menciut, dan keinginannya
untuk meninggalkan Felton sedikit menguap karena takut. Rani pun menangis tanpa
suara.
Felton menggeliat. Dia
tidak merasakan Rani di sebelahnya dan langsung membuka matanya. Dengan
perasaan sedikit takut dia langsung berdiri, memakai bedrobe nya dan
keluar kamar. Samar didengarnya alunan musik dari ruang audio, setengah
berlari dia menuju ke ruang audio. Dia mendapati Rani tengah menangis
sesenggukan, dengan rasa bersalah dia mendekat pelan dan langsung memeluk Rani
dari belakang membuat Rani berjengit kaget.
Felton membisikkan
permintaan maaf dengan lembut di telinga Rani, membuat Rani langsung tersedu
dan berbalik memeluk Felton yang merengkuhnya erat penuh penyesalan. Felton membiarkan Rani
menangis di pelukannya hingga lelah dan tertidur, dia bersandar pada sofa dan
ikut memejamkan matanya saat dia merasa kalau Rani sudah tertidur.
Rani mengerjapkan
matanya lalu mencoba untuk duduk tegak. Felton yang merasakan gerakan Rani ikut
membuka matanya. Mereka saling pandang, lalu Rani tersenyum dan beranjak ke
kamar mandi untuk mencuci mukanya yang basah karena air mata. Felton mengikuti
Rani ke kamar mandi.
Setelah mencuci
mukanya, Rani membuatkan sarapan untuk Felton dan dirinya. Saat dia tengah
menggoreng sosis, dia mendengar dering telepon milik Felton. Begitu Felton
keluar dari kamar mandi, Rani memberitahunya kalau ponselnya berbunyi, Felton
mengucapkan terima kasihnya dengan mengecup leher Rani. Rani mendengar Felton
tengah berbicara dengan Chris. Rani tahu itu pasti karena Felton belum juga
sampai di lokasi shooting.
Saat Felton kembali ke
dapur, dia sudah terlihat rapi. Dia duduk di meja makan sambil sibuk dengan
smartphone nya, berkirim pesan dengan Chris.
“Sudah di tunggu?”
tanya Rani sambil meletakkan piring di depan Felton yang mengangguk, “Maaf yaa.” ujar Rani yang
membuat Felton langsung meletakkan smartphone nya, meraih tangan Rani
lembut dan mengecupnya.
“Aku yang harusnya
meminta
maaf.”
Rani
tersenyum memandang Felton yang balas memandangnya. Felton menyadari sorot mata
Rani berbeda dari sebelumnya. Namun dia tidak bisa mengelak. Dia tahu dia salah
telah memperlakukan wanitanya dengan kasar.
Setelah
menghabiskan sarapannya, Felton berangkat ke lokasi shooting. Dan
sepeninggal Felton, Rani langsung mencari smartphone nya lalu menelpon
Seunghyun. Meminta maaf telah memutuskan sambungan telpon secara sepihak
semalam.
###@^.^@###
Tidak ada komentar:
Posting Komentar