Kamis, 06 Februari 2020

SERIAL RANI - II : NEW LOVE


RANI TURUN DARI TAKSI tepat di depan gerbang kampusnya dulu. Banyak mahasiswa berlalu lalang dengan membawa sekeranjang bunga mawar yang dibungkus dengan plastik satu-satu.

Dengan perlahan dia memasuki gerbang kampus. Melempar senyum pada beberapa mahasiswa yang menyapanya. Dia tidak mengenal satupun dari mereka, namun sikap ramah mereka membuatnya tersenyum sebagai balasan.

Sebuah mobil hitam melintas mendahuluinya. Terlihat siluet seorang pria duduk di kursi penumpang di belakang. Beberapa mahasiswi yang mengenali mobil itu langsung heboh dan langsung mengikuti mobil itu berbondong-bondong.


Pria yang sedari tadi sibuk dengan smartphone nya, mendongak dan memandang keluar jendela mobil yang melaju pelan karena banyaknya pejalan kaki. Pandangannya tertuju pada seorang wanita yang berjalan di depannya.

Dia merasa pernah melihat wanita itu namun dia lupa dimana dia melihatnya. Pandangannya terus saja menatap wanita itu hingga dia melewatinya. Dia menoleh kebelakang untuk melihat wanita itu. Dan seketika jantungnya berdebar.

Pria tampan dengan setelan jas berwarna biru tua itu menegakkan kembali punggungya dan menghadap kedepan. Dia tidak bisa mengontrol debaran jantungnya. Dia belum pernah merasa seperti itu dan itu membuatnya bingung.

Sir?” tanya ajudannya yang berada di balik kemudi.

Tangan kanan pria itu menyentuh dadanya sedangkan tangan kirinya menutup mulutnya. Wajahnya memerah.

Are you ok, Sir?

I just...” pria itu menarik nafas untuk mengatur debaran jantung dan ekspresi mukanya, “I’m ok. It’s nothing.

Ajudannya masih meliriknya melalui kaca tengah, khawatir.

When you wait me today, can you take picture every woman who attend the reunion?

Yes, Sir.” Jawab ajudannya tanpa bertanya alasannya. Karena dia sudah sangat mengenal Tuan nya. Pasti ada yang menarik minat Tuan nya namun Tuan nya tidak mengenalnya. Bukan tidak tapi belum.

Sebagai ajudan dan orang kepercayaan, James Parker, selalu melakukan perintah Tuan nya tanpa cela. James sudah di latih dari kecil untuk melayani Tuan nya. Dari sepuluh anak yang terpilih, James selalu berada di urutan pertama untuk segala hal. Karena itu lah dia terpilih untuk mengawal Tuan nya.


Setelah menuliskan namanya, dan mendapat marchendise, Rani memasuki aula tempat di adakannya acara. Dia melihat seorang pria ber-jas hitam berdiri di samping pintu dengan smartphone di tangannya. Sikapnya tegas namun cuek dan seakan seperti batu.

Namun Rani tidak lama-lama memandang pria itu. Dia memasuki ruangan yang sudah di tata apik dengan meja-meja bundar dengan kursi-kursi berselimut kain mengelilinginya. Sebuah vas bunga kecil berisi mawar putih cantik terletak di tengah tiap meja bundar. Di sekelilingnya terdapat napkin yang terlipat dan nomor-nomor.

Rani memandang nomor di tangannya lalu mencari kursinya dengan pandangan mata. Di sebuah meja bundar di sudut ruangan terdapat nomor yang sama dengan yang ada di tangannya. Dan di sana sudah duduk seorang pria dengan setelan jas biru tua yang sedang sibuk dengan tablet di tangannya.

Dia menarik nafas untuk menetralkan hatinya yang berdesir saat melihat pria itu. Berjalan pelan menuju kursinya, sambil sesekali menarik nafas. Dia gugup entah karena apa. Dia tidak yakin.

Excuse me.” Rani menyapa sambil menarik kursi karena tempat duduknya tepat di sebelah pria itu.

Pria dengan rambut hitam kemerahan itu kontan mendongak karena kaget lalu tertegun saat melihat wanita yang berdiri di sebelahnya.

Oh, I’m so sorry, I didn’t mean to startled you.” Sesal Rani sambil memandang pria itu dengan ekspresi meminta maaf.

Pria itu tersentak lalu menggeleng dan tersenyum kepada Rani, “It’s ok. I just too focus with my tablet. Don’t worry.” Ujarnya sambil berdiri. Sopan santun seseorang terhadap orang lain yang hendak duduk.

Rani mengucapkan terima kasihnya saat pria itu menyilahkannya duduk dengan membantunya menata kursi Rani agar dia bisa duduk dengan nyaman. Setelah itu pria itu kembali duduk di sebelah Rani dan menyimpan tablet nya.

Nice to meet you. I’m Evanz, Rani Evanz from Indonesia.” Rani memperkenalkan diri pada pria itu sambil mengulurkan tangannya.

Nice to meet you, too,” jawab pria itu sambil menyambut uluran tangan Rani, “Wycliffe, Louis Wycliffe.” Imbuh Louis memperkenalkan diri.

Dan mereka pun mengobrol. Mengenang masa-masa saat mereka masih kuliah dan kenapa mereka tidak pernah bertemu sebelumnya. Sesaat setelah Rani bercerita kalau dia kembali ke London untuk mencari pekerjaan, smartphone nya berdering.

Rani meminta maaf pada Louis sebelum mengangkat telepon, “Moshi-moshi?” sapa Rani menggunakan bahasa Jepang karena dia melihat kode area Jepang.

Louis melirik Rani yang sedang berbicara dengan bahasa Jepang dengan begitu lancar dan cepat hingga dia tidak bisa mengikuti. Pengetahuannya tentang bahasa Jepang masih sangat minim. Sekalipun dia sudah memanggil guru privat untuk mengajarinya bahasa Jepang, tetap saja dia kesulitan untuk mempelajarinya. Tidak seperti bahasa Perancis dan Jerman serta Italia yang begitu mudah dia pelajari.

Setelah sepuluh menit menelpon, akhirnya Rani menyudahi sambungan teleponnya. Namun baru saja dia meletakkan smartphone nya kedalam tas, benda itu kembali berdering.

Yeobseo?” sapa Rani kali ini menggunakan bahasa Korea dengan lihai membuat Louis menoleh dan terang-terangan memandang Rani dengan takjub. Rani merasakan tatapan Louis dan balik memandangnya. Keduanya saling bertatap mata dalam diam.

Wanita itu tersentak saat si penelpon memanggilnya dengan sedikit keras. Cepat-cepat dia palingkan wajahnya dari Louis dan kembali berbicara pada si penelpon.

Louis masih memandang Rani yang sedikit salah tingkah sebelum akhirnya dia tersenyum dan mengalihkan tatapannya sambil meraih smartphone nya dari saku jas nya. Dia mengetik pesan dan mengirimnya ke sekertarisnya di kantor.

Tak lama kemudian, Rani mengakhiri sambungan telepon. Kembali meminta maaf pada Louis karena telah menganggu obrolan mereka sebelumnya. Louis menggeleng dengan senyum menawan. Rani seakan tersihir saat melihat senyum itu. Dan jantungnya pun berdebar kencang.

“Aku kagum betapa mudahnya kamu berbicara menggunakan kedua bahasa itu. Sudah satu bulan ini aku belajar kedua bahasa itu tapi tetap saja aku tidak bisa selancar itu.” Aku Louis.

“Itu karena aku pernah tinggal disana selama beberapa tahun.” Jawab Rani.

That’s nice.” Kata Louis, “It’s too difficult to me to learn them. Especially Korean. I know little bit Japanese but nothing on Korean.” Keluh Louis.

Rani tertawa renyah membuat Louis terpana, “You are right. Korean is more difficult than Japanese. I can speak Japanese with ease because we, Indonesian, spell every word in the same way. But Korean is diffirent.

Kemudian Rani menjelaskan sedikit tentang bagaimana mengucapkan kata-kata dalam bahasa Korea. Louis memperhatikan Rani dengan seksama. Dia mendapatkan tambahan pengetahuan.

Fortunately, I have friend to help me. He help me with everything so I can quickly speak in local language. Because not all local people know English, so I need to learn their language.”

When in Rome, do as the Romans.” Ucap Louis.

Exactly.” Jawab Rani lalu keduanya tertawa.

Tawa mereka membuat beberapa wanita iri. Mungkin hanya Rani yang tidak mengenal Louis. Karena semua wanita di Inggris, terlebih Surrey, sangat mengenal siapa Louis Wycliffe.

Louis Wycliffe adalah seorang bangsawan yang juga seorang pewaris tunggal Wycliffe Corp. dan semua wanita mendamba menjadi istri Louis. Dengan begitu mereka tidak perlu lagi capek bekerja tapi uang tetap mengalir ke dompet mereka. Namun Louis bagaikan gunung es yang tidak bisa di jangkau.


###@^.^@###


James menyerahkan hasil jepretannya pada Louis begitu mereka sampai di kantor. Yang sebenarnya Louis tidak memerlukannya lagi karena dia sudah mendapatkan nama serta kontak wanita yang membuat jantungnya berdebar.

Namun dia tetap menghargai usaha James. Selain foto Rani, dia membuang foto-foto yang lain. Dia memandangi foto Rani yang entah kenapa dimatanya terlihat sangat cantik.

Sebuah ketukan pintu terdengar. Louis menaruh foto Rani di mejanya saat sekertarisnya masuk dengan membawa banyak berkas yang meminta persetujuannya.

Is that Rani?” tanya sang sekertaris saat matanya tak sengaja melihat foto Rani.

You know her, Maria?” Louis balik bertanya dengan heran.

Sekertarisnya, Maria, mengambil foto Rani dan mencermatinya, “This is Rani Evanz, right?

Yes. How do you know her?

She’s my classmate.

I didn’t know that.

When this picture taken?

Today.

At reunion?” tanya Maria memandang Louis yang mengangguk.

Hmmm... so she’s back.” Gumam Maria.

Louis memandang Maria yang terlihat sedang mengingat sesuatu. “You know something about her?”

I do. But... why you ask? You like her?

Louis membuka mulut hendak menjawab namun terhenti. Dia terdiam berpikir, “I don’t know. I never felt like this before.” Jawab Louis

Maria dan James bertukar pandang. Mereka memikirkan hal yang sama. Louis telah jatuh cinta.

“Apa kita ada tempat untuk memperkerjakan satu orang lagi?” tanya Louis tiba-tiba.

Why?” tanya Maria. Namun Louis tidak menjawab dan hanya melamun sambil memandangi foto Rani. Maria menghela nafas, “you can add more secretary if you want. But make sure to tell Sir William.

I know.” Jawab Louis, “if we hire her, she can help with our branch in Japan and South Korea.

Understand. I will make proposal to add more worker.

Kemudian Maria keluar dari ruangan Louis. Dia senang jika Louis akhirnya bisa membuka hatinya pada wanita lain. Dia harus membantu Louis untuk bisa dekat dengan Rani.

Maria Stephen adalah sekertaris Louis di perusahaannya. Mereka sudah berteman sedari kecil. Namun tidak ada rasa di antara mereka karena ayah Maria merupakan ajudan kepercayaan ayah Louis hingga sekarang. Hubungan mereka terbatas pada majikan dan pelayan. Namun sama halnya seperti James, Maria sangat mengerti Louis.


###@^.^@###



Rani merebahkan tubuhnya di sofa bed di kamar audio. Dia memikirkan pertemuannya dengan Louis. “Pria yang menawan.” Gumamnya tanpa sadar.

Dan dia memikirkan bagaimana bisa dia tidak mengenal Louis sebelumnya kalau pria itu sangat menggoda. Pria setampan Louis tak mungkin terlewatkan begitu saja.

Betapapun dia memikirkannya tetap saja dia tidak bisa menemukan keberadaan Louis dalam memorinya. Dia merutuki kebodohan dirinya karena melewatkan Louis dan kini dia terjebak dalam dilema.

Rani tidak menyadari kedatangan Felton. Dia tersentak kaget dan hampir saja berteriak saat sebuah tangan merengkuh tubuhnya. Felton memandangnya dengan heran.

What’s matter?

You startled me.

What are you thinking until you didn’t recognize my arrival?

Rani terdiam. Dia tidak mungkin menceritakan tentang pertemuannya dengan Louis kepada Felton. Bisa-bisa kekasihnya mengamuk. “I just think of work.

What work?

When I get one, I mean.” Jawab Rani, “Hari ini aku mengirim banyak lamaran kerja. Tapi aku tidak tahu aku akan di terima dimana. Semoga saja ada yang mau menerimaku bekerja sebelum tiga bulan.”

You will get one. You are profesional.

But its ok, right, if I’m working here?

Felton memandang Rani yang menatapnya dengan ekspresi memelas, “Alright you can work. But remember dont make me jealous. No overwork!

But I can’t promise about overwork. You know it, right?

Felton menghela nafas, “Baiklah, aku akan maklumi itu tapi ingat, tetap memberi kabar setiap saat.”

SIR, YES, SIR!” ucap Rani lantang sambil memberi hormat dengan menempelkan tangannya ke pelipisnya kepada Felton yang mendengus namun tersenyum.

Rani terkikik lalu memeluk Felton manja.


###@^.^@###



Sejak saat itu, Rani dan Louis sering bertukar pesan. Tentu saja Rani melakukannya dengan sembunyi-sembunyi. Bukan karena dia takut namun untuk menghindari pertengkaran.

Beberapa kali Louis mengajaknya untuk makan malam tapi selalu di tolak oleh Rani dengan berbagai alasan, namun Rani menjanjikan dia mau saja makan siang bersama tapi harinya Rani yang akan menentukan. Meskipun sedikit merasa kecewa, Louis menerima janji Rani yang akan mengajaknya makan siang.

Setelah itu mereka kembali membahas hal yang lainnya. Terutama membahas les Bahasa Jepang dan Bahasa Korea yang sedang dijalani oleh Louis. Pria tampan itu sering menggoda Rani dengan menanyakan arti dari kata-kata romantis. Rani sering tertawa sendiri sambil membaca pesan-pesan dari Louis.


###@^.^@###


Maria, come with me.” Ujar seorang pria paruh baya sambil memasuki ruangan Louis yang tengah kosong karena Louis sedang keluar makan siang. Maria yang tengah memeriksa berkas-berkas langsung mendongak dan berdiri lalu mengikuti pria itu masuk ke ruangan Louis.

James? Why you here?” tanya pria paruh baya itu saat mendapati James tengah sibuk dengan tabletnya. James tersentak kaget dan langsung berdiri.

Sir Louis ask me to stay here.

Why?

James dan Maria bertukar pandang resah. Mereka belum memberitahu pria paruh baya di depan mereka tentang ketertarikan Louis pada Rani. Bagaimana Louis begitu tergila-gila pada Rani.

What happen? Explain?!” tanya pria itu setelah duduk di kursi kerja Louis.

I think, Louis is falling in love.” Jawab Maria.

Pria yang sudah berumur namun masih keliatan muda itu tertegun. Memandangi Maria dan James bergantian. “Falling in love? With who? Not Sophia again!

Not Sophia, Sir.” Jawab Maria, “she was my classmate during collage. She’s nice and beautiful. I can guess why Louis could be attracted to her. She has calming aura and so cheerful. And I’m sure that she don’t know who Louis is.

You know her?” tanyanya pada Maria yang mengangguk, “Do you already check her background?” kali ini dia bertanya pada James yang mengangguk lalu menyerahkan tabletnya yang sudah terpampang identitas Rani kepada pria itu.

Evanz?” gumam pria itu saat membaca nama panjang Rani. “Is this all you got?” tanyanya lagi pada James yang mengangguk, “do detail background check, everything.” Katanya pada ajudan pribadinya yang berdiri di belakangnya sambil menyerahkan tablet James.

Alright, then what this proposal mean?” tanya pria itu pada Maria sambil menunjukkan proposal yang Maria kirim beberapa hari lalu.

Louis said he find a perfect person to help us supervise Asia Branch. According to Louis, Rani is fluent in Japanese and Korean language.

Hmmm...” pria itu meninmbang-nimbang.

Memang benar bahwa saat ini cabang perusahaan mereka yang di kedua negara itu sedikit bermasalah. Manajer di kedua cabang memang lancar berbahasa inggris namun tetap saja ada sesuatu yang mengganjal tiap kali laporan bulanan masuk ke kantor pusat.

Let me think of it.” Jawab pria itu lalu berdiri, “Where is Louis now?

Lunch with Rani.” Jawab Maria.

Pria itu menghela nafas, “don’t tell him I do background check his woman. I don’t want any woman with bad influence around Louis.”

Understood, Sir!” jawab Maria dan James.

Kemudian pria itu meninggalkan kantor Louis dan kembali ke kediamannya. Nama Evanz mengingatkan dirinya akan teman karibnya dulu. Sahabat baiknya semasa kuliah. Namun setelah lulus, mereka hilang kontak. Bahkan saat dia berada di Bali selama sepuluh tahun pun dia tidak bisa menemukan temannya itu.

Can you do it before nine?” tanya pria itu pada ajudannya.

Yes, Sir.” Jawab ajudannya.


Malam harinya

Frank Stephen, ayah Maria yang juga ajudan kepercayaan William Wycliffe, ayah Louis, memberikan laporannya. Dia melakukan detail cek semua informasi terkait Rani. Namun hanya kisah cinta Rani saja yang tidak dapat dia akses. Serta tragedi di Seoul.

Saat Rani dilarikan ke rumah sakit, Shim Seunghyun mendaftarkan Rani atas namanya sendiri, karena dia lupa membawa paspor Rani. Dia tidak punya waktu lagi untuk kembali ke kontrakan Rani, akhirnya dia memakai identitasnya agar Rani dapat segera di tangani oleh dokter.

Frank menyerahkan foto keluarga Evanz kepada William yang langsung tersenyum senang. Frank mengernyitkan dahi.

It’s Michael Evanz! My bestfriend!!” ujar William, “so she is his daughter. No wonder I feel familiar with her photo.

Also Ms. Evanz is Lady Sharry friend.

Are you sure?” tanya William. Frank menyerahkan selembar foto yang berisi empat wanita muda tengah tersenyum lebar sambil memandang kamera, “Sharry?

Yes, Dad? Did you call me?” tanya seorang wanita cantik yang tiba-tiba masuk ke ruang kerja William.

Oh hi dear, just got home?

Yeah.” Jawab Sharry sambil berjalan mendekati William, ayahnya. “this is Rani.” Ujarnya saat melihat foto dirinya bersama Rani saat berpesta di Bali, “why you check on her, Dad?” tanya Sharry sambil memandang ayahnya sedikit takut.

William tahu sorot mata Sharry. Dia tersenyum menenangkan, “Louis is fall in love with her.

He WHAT?!!” Sharry terkejut, “no no no, not Rani. She’s way too good to be with Louis!

Ayah Sharry terkekeh melihat reaksi anak perempuannya, “I know. But I like her too. She is my friend’s daughter.

Your friend?

My long lost friend. We are best friend during college. But after graduation, he went back to his hometown and I lost contact of him. I search him but can not find him, but I found your Mom.” Ujar William pada Sharry yang langsung memeluk ayahnya.

Sharry memang lahir bukan dari istri sah William. Tapi dari istri keduanya saat dia berada di Bali. Sharry mulai menetap di London lima belas tahun yang lalu setelah ibunya meninggal. Beruntung bagi Sharry karena istri William mau menerima dan menyayanginya. William dan istri sahnya hanya di karuniai satu anak laki-laki yaitu Louis. Karena itulah William sangat pemilih untuk pasangan Louis.


###@^.^@###


Felton memasuki apartment Rani dan dia tidak mendapati wanitanya di dapur seperti biasanya. Samar-samar dia mendengar suara Rani di kamar audio. Dia mendekat dengan perlahan tanpa menimbulkan suara.

“Baiklah, aku akan kesana kalau aku bisa. Wembley Arena. Hotel Hilton. Ok...”

BRAAAKK!!

Felton membuka pintu dengan kencang. Raut mukanya penuh amarah. Rani menoleh kaget sambil cepat-cepat mematikan teleponnya. Dia berdiri menghadap Felton yang sudah kalap.

I, I can explain... it’s not like what you think...” Rani berusaha untuk meredakan amarah Felton, “my friends, boy group that I like is having concert in London, so they ask me to come to help... look...” Rani menyerahkan id card dan surat pernyataan yang mengatakan bahwa Rani resmi menjadi staff sementara.

Felton terus saja mendekati Rani dengan amarah. Rani mundur hingga menabrak dinding kaca. Dia takut, benar-benar takut. Lalu terjadi lagi. Felton memperkosa Rani dengan beringas. Meninggalkan lebam-lebam di wajah dan tubuh Rani.


TING.

Smartphone nya berdenting. Memberitahu si empu nya kalau ada pesan masuk. Dengan malas Rani meraih smartphone di atas nakas samping tempat tidurnya. Dia hanya mengenakan selimut untuk menutupi tubuhnya yang telanjang. Sedangkan Felton sudah pergi dari pagi buta karena jadwal shootingnya.

Rani membaca pesan dari Louis yang mengajaknya untuk bertemu karena dia ingin memberitahukan kabar baik untuknya. Setelah menarik nafas, Rani membalas pesan Louis bahwa dia akan datang ke tempat janjian mereka sekitar dua jam lagi. Tak menunggu lama balasan dari Louis dia terima yang mengatakan bahwa dia setuju.

Dengan rambut awut-awutan dan tubuh penuh lebam, Rani beranjak dari tempat tidur dan menuju kamar mandi. Dia tertegun saat mendapati secangkir kopi yang sudah dingin dan sepiring omelette telur dengan sosis panggang, serta sebuah note permintaan maaf di meja makan.

Dia duduk menghadap makanan di depannya. Mengambil note dengan tangan kiri dan sendok di tangan kanan. Diirisnya omelette dengan sendok lalu disuapkan ke bibirnya yang bergetar menahan tangis.

Sudah dua kali dalam dua minggu Felton menyakitinya. Hal itu semakin membulatkan niatnya untuk segera mengakhiri hubungan mereka. Namun dia tidak bisa jika harus kembali ke Indonesia, Felton pasti tahu.

Dia harus segera mendapatkan pekerjaan dan kemudian pindah dari apartmentnya. Dia berharap semoga kabar baik dari Louis menyangkut tentang pekerjaan yang kemarin sempat Rani tanyakan.

Biasanya Rani tidak ingin mendapatkan pekerjaan dari campur tangan orang dalam, namun jika kondisinya seperti ini, mau tidak mau dia harus melakukannya. Asalkan dia segera mendapatkan pekerjaan. Setelah beberapa bulan, dia akan pindah ke apartment yang tidak dapat di jangkau oleh Felton dengan tabungan gajinya.

Cepat-cepat dia selesaikan sarapannya yang sudah dingin. Menaruh piring dan cangkir ke tempat cuci lalu mandi dan berdandan. Dia harus memakai bedak sedikit lebih tebal untuk menutupi lebam di sudut matanya. Kalau hanya memakai concelar saja dia takut tidak bisa menutupinya dengan sempurna.


Rani memasuki sebuah cafe. Dia memandang sekeliling ruangan cafe untuk mencari Louis namun dia tidak menemukannya. Dikirimnya pesan pada Louis menanyakan dimana dia. Sebuah balasan datang dalam hitungan detik menyuruh Rani untuk naik ke lantai atas.

Setelah membaca pesan Louis, Rani berjalan menuju lantai atas sambil sesekali membetulkan kacamata hitamnya. Dia memakai kacamata hitam bukan untuk bergaya namun untuk menutupi lebam.

Begitu sampai di lantai dua, Rani mendapati Louis tengah duduk menantinya di sudut ruangan berpenyekat. Tempat VIP dicafe tersebut. Dia berjalan cepat menuju tempat duduk Louis yang tidak melihatnya, dan langsung duduk di depan Louis yang terkejut.

Why you wearing glasses?” tanya Louis setelah mengatasi keterkejutannya.

I have to.” Jawab Rani.

Why?

I...” suara Rani tercekat, “I can’t show you.” Jawabnya sambil berpaling dari tatapan Louis yang tajam.

Show me!” paksa Louis sambil melepas kacamata Rani dengan pelan dan memegang dagu Rani, menghadapkan wajah Rani kepadanya. Ekspresinya langsung mengeras saat dilihatnya lebam yang berusaha Rani tutupi di sudut matanya.

Rani tak sanggup lagi dan langsung menunduk. Berusaha keras agar tidak menangis di depan Louis.

Your boyfriend doing this?” tanya Louis lirih penuh penekanan.

Rani sudah menceritakan semuanya pada Louis saat terakhir kali mereka bertemu kalau dia sudah mempunyai kekasih. Dan alasan kenapa dia ingin segera mendapatkan pekerjaan.

“Rani...”

Please...” jawab Rani menahan isak tangisnya.

Louis menghela nafas, “Ok, I won’t ask.” Ujarnya lalu terdiam. Memberi ruang pada Rani agar tenang. Dia memesankan secangkir cappuccino hangat dan choco-cheesecake untuk Rani.

Setelah sepuluh menit berlalu dalam keheningan, akhirnya Rani mendongak dan memberikan senyum manisnya pada Louis yang memandangnya dengan khawatir.

Thank you, Louis.

No problem. Feeling better?” tanya Louis yang di jawab dengan anggukan oleh Rani. “If you need anything, just tell me. I will help you.

Rani tersenyum mendengar kata-kata Louis, “Ok.” Ujar Rani, “then what news do you want to tell me?

Oh I almost forgot,” kata Louis sambil menegakkan punggungnya, “my father, I mean, Directur want to interview you. There is spot for you in my office.

Really? So fast.

Actually, I request the spot just for you,” jawab Louis dengan wajah merona, “we have branch in Japan dan South Korea, that’s why I try to learn the language. After I know you fluent in both language I discussed it with Directur. And he accepted my request and asking when he can interview you.

Rani senang mendengarnya. Senyumnya mengembang namun sedetik kemudian menyurut. Dia menarik nafas dilema.

Why? What happen?” tanya Louis yang mengetahui perubahan ekspresi Rani, “you don’t like it?

That’s not what I mean,” jawab Rani, “tiga minggu lagi temanku ada konser disini. Dan mereka memintaku untuk membantu mereka sampai konser selesai.”

“Konser apa?”

“Temanku adalah grup penyanyi Korea Selatan.”

“Oh.” Louis kelihatan kecewa.

“Maafkan aku, Louis, tapi bisakah kamu memundurkan wawancara sampai tiga minggu lagi?” pinta Rani menatap Louis yang balas menatapnya dan terdiam.

Louis menghela nafas berat, “Baiklah akan ku lakukan.” Ujarnya kemudian, “tapi bagaimana jika Direktur ingin mewawancaraimu segera?”

“Akan ku lakukan.” Jawab Rani.

Kemudian keduanya terdiam. Keheningan kali ini terasa sedikit menyesakkan. Rani tahu dia seharusnya tidak menawar, namun dia tidak punya pilihan lain. Dia sudah terlanjur berjanji pada teman-temannya akan membantu mereka, dan mereka sudah bersusah payah meyakinkan panitia acara untuk menambahkan dirinya di jajaran staff.

Rani tahu betapa susahnya itu. Karena dia sudah pernah melihatnya langsung bagaimana teman-temannya meminta ijin agar dirinya diikutsertakan.

“Louis...” panggil Rani pelan.

Louis mendongak dari tabletnya dan memandang Rani. Saat mereka bertemu pandang, Louis bisa melihat betapa Rani berada dalam dilema. Louis langsung merasa bersalah karena memaksakan kehendaknya.

Dia sangat menginginkan Rani berada disampingnya setiap hari. Namun saat Rani memberitahunya bahwa dia saat ini memiliki kekasih membuatnya patah hati. Dan pada saat bersamaan Rani menanyainya tentang pekerjaan, harapan Louis kembali. Setidaknya dia bisa bertemu dengan Rani setiap hari jika Rani bekerja padanya.

Rasa kecewa tentu saja dia rasakan saat Rani memberitahunya bahwa dia tidak bisa dengan segera untuk bekerja di kantornya. Namun saat Rani memandangnya dengan ekspresi sedih, resah dan perasaan bersalah, dia tahu dia tidak boleh egois. Dia harus sabar jika ingin mendapatkan Rani.

Louis memberikan senyumnya pada Rani, “I’m not mad. I just hope that you will work with me as soon as possible.

I’m sorry, Louis, I don’t know that you will give me a good news very fast. I already make a promised to my friends that I will help them.” Kata Rani.

I understand, Rani, please don’t be sad. I will wait until you ready.” Ujar Louis, “I’m sorry for forcing you. I just can’t wait to work with you.” Imbuh Louis menenangkan Rani.

Tanpa sadar Louis menggenggam tangan Rani. Membuat wanita manis itu tersipu namun enggan melepaskan tangan Louis. Tatapan mata mereka kembali bertemu. Semakin menambah benih-benih cinta di antara keduanya bertumbuh subur.

Suasana romantis mereka terpecah saat smartphone Rani berdering. Mereka tersentak kaget dan langsung melepaskan tangan dengan wajah merona. Selagi Rani menerima telepon, Louis menyibukkan diri dengan tabletnya untuk mengatasi rasa gugup.

Dochakaesseoyo? (Sudah sampai?)” ujar Rani langsung pada si penelpon, “ooo araseo, gidalyeo. Gwenchanhaeyo. Ne ne, jigeum ganda. Araseoyeo, Wembley Arena. (iya aku tahu, tunggu ya. Tidak apa kok. Iya iya, aku pergi sekarang. Aku tahu, Wembley Arena.)” kemudian Rani mematikan teleponnya dan menghela nafas.

Louis memperhatikan sikap Rani sedari tadi. Wanita di depannya terlihat senang namun juga gelisah. Dia tidak mengerti apa yang sedang wanita itu bicarakan, namun dia tahu dari sikap Rani bahwa temannya menyuruhnya untuk segera datang.

“Louis, aku...”

It’s ok. I have to go back to office, too. I’ll take you there.” Ujar Louis membuat Rani merasa tidak enak hati.

Mereka beranjak dari cafe. Setelah membayar, Louis mengajak Rani menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari cafe. Mereka berjalan menuju mobil dalam diam.


Saat mobil Louis memasuki area Wembley Arena, Rani melihat temannya berdiri menunggunya di pintu masuk sendirian dengan sesekali melihat smartphone nya.

He sure don’t have any patient.” Ujar Rani sambil menghela nafas.

Louis meliriknya sekilas lalu memandang apa yang sedang dilihat Rani. Seorang pria Asia berwajah tampan yang mengenakan cardigan hitam dan celana jeans berdiri di pintu masuk.

Your friend?

I would like to say that he is more than a friend. He is like my younger brother.

Don’t say more than a friend, I’ll get more jealous.” Ujar Louis membuat Rani menoleh memandangnya, “hearing you already have boyfriend is already make me jealous and broken heart. But now, thinking you will surrounded by handsome looking man, makes me more jealous and anxious.

Eh, Louis?

Louis terdiam dan menatap Rani lekat. “I like you, Rani.” Aku Louis membuat Rani tercengang, “I was planning to wait until you work with me, but seeing you surrounded by man is make me can’t wait anymore to confess.

Rani terkesiap dan terdiam beberapa saat lalu menunduk dalam, “you know I have a boyfriend, right?

I do.

I can’t return your feeling right now.” Kata Rani masih menunduk, “I mean I do like you, and I never felt like this before,” ganti Louis yang terpana menatap Rani, “I’m very happy when we change text or having lunch together. But, I already told you that I have boyfriend, and I wont cheat on him. For all this time, I assume that we are just friend...

I’ll wait you, Rani.” Potong Louis, “I know you want to break up with your boyfriend. And his action toward you is terrible. He is not man, he is a loser. He is...

He not a loser, he just jealous!

You can lie with your mouth but you know exactly who he is.

Rani tercekat. Dia tidak bisa membalas argumen Louis yang membenarkan apa yang dia rasakan selama hampir sepuluh tahun ini terhadap Felton. “I...I..., he love me.” Gumamnya lirih tapi Louis bisa mendengarnya.

That is not love. That is obsessed!

Please, Louis, don’t say anymore...

I just want you to see it. How much time you want to be with him until you break apart? Do you want to die before you can accomplish your life’s goal? Do you really want that?!

Please stop.” Rani terisak. Dia tidak sanggup lagi untuk mendengarkan perkataan Louis. Apa yang dikatakan Louis memang benar, namun dia tidak sanggup membayangkan berpisah dengan Felton. Sekalipun dia sudah hampir tidak ada rasa lagi untuknya, tapi keberadaan Felton disisinya bagai candu tersendiri dalam hidupnya.

Louis meraih Rani dan memeluknya untuk menenangkan. Dia merasa bersalah sudah membuat Rani menangis, “I’m so sorry.” Ucapnya membuat Rani semakin tersedu di dalam pelukan Louis.

Rani merasa nyaman berada dalam pelukan Louis yang hangat. Dan tanpa sadar pun dia menangis, meluapkan perasaan tertekan yang selama ini dia rasakan. Ditambah bisikan kata maaf dari Louis, membuat air mata Rani semakin deras mengalir.

Sambil menunggu tangis Rani reda, Louis melempar pandang keluar mobil. Dilihatnya si pria tampan memandangi mobilnya dengan rasa ingin tahu. “Your friend is waiting.” Kata Louis membuat Rani tersadar dimana dia sekarang.

Cepat-cepat dia lepas pelukannya sambil mengucapkan terima kasih lalu membersihkan sisa air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Dia meraih kaca dari dalam tas kecilnya dan memeriksa wajahnya.

Louis tersenyum lalu keluar sambil mengatakan bahwa dia akan menunggu di luar selagi Rani membenahi make up nya. Dia berdiri di samping pintu mobil sambil mengedarkan pandang. Dia melihat si pria Asia menarik nafas kecewa saat melihatnya lalu memalingkan pandangannya ke gerbang masuk tempat parkir Arena.

Setelah siap, Rani membuka pintu, namun langsung diambil alih oleh Louis yang membukakan pintu untuk Rani dan mengulurkan tangan untuknya. Rani tersenyum malu mendapat perlakuan seperti itu.

Thank you for everything, Louis.” Ucap Rani setelah berdiri di samping Louis yang baru saja menutup pintu dan menghadapnya. “I’ll send you VIP seat for the concert if you want.

I would very happy to receive it.” Jawab Louis, “I should go, your friend is coming. If you need anything, just text me.” Imbuhnya saat dia melihat si pria Asia berjalan mendatangi Rani.

Thank you so much. Do you want me to introduce you with him?” Tanya Rani yang juga melihat kedatangan temannya.

Louis tersenyum dan menggeleng, “another time. Well then, see you later, Rani.” Ujar Louis lalu berbalik, memasuki mobilnya dan menjalankan mobilnya meninggalkan Rani yang memandanginya hingga hilang dari pandangan.

“Noona.”

Mianhae, Jiyong-ah.”

“Kenapa pake kacamata hitam?” tanya Kwon Jiyong

“Tidak apa-apa. Hanya ingin.”

Dan sekali lagi, Rani harus memperlihatkan lebam di matanya pada orang yang dia tidak ingin mereka tahu.

“Siapa yang melakukannya?” tanya Jiyong langsung, ketara kalau dia marah, “apa pria yang tadi?”

Rani menggeleng, “bukan, dia atasanku.”

“Lalu? Pacar Noona?”

Rani terdiam tidak bisa menjawab.

“Noona!”

“Jiyong-ah, sebaiknya kita masuk kedalam dan melihat persiapannya.”

“Seunghyun-Hyung memberitahu ku terakhir kali dia menelpon Noona, ada sesuatu yang terjadi pada Noona.” Ujar Jiyong sambil menahan langkah Rani yang hendak memasuki gedung, “apa selalu terjadi hal seperti ini? Kenapa Noona masih bertahan?! Tinggalkan dia!!”

Jebal (Ku mohon), Jiyong-ah, aku tidak ingin membicarakan ini.”

“Noona, aku tidak ingin melihatmu seperti ini.”

“Terima kasih sudah mengkhawatirkanku tapi aku tahu apa yang aku lakukan.” Jawab Rani tersenyum memandang Jiyong. “ayo kita temui yang lain.”

Rani berjalan lebih dulu. Meninggalkan Jiyong yang hanya bisa menghela nafas berat. Pertama kalinya dia mendengar cerita Shim Seunghyun yang menelpon Rani beberapa minggu lalu, membuatnya khawatir. Di tambah lagi dengan cerita Seunghyun yang membawa Rani ke rumah sakit di Seoul dengan pendarahan hebat.

 Dia tidak ingin orang yang disayanginya menderita hanya karena seorang laki-laki pengecut yang ringan tangan terhadap kekasihnya sendiri. Tidak seharusnya seorang laki-laki memukul seorang wanita.

Namun dia juga tidak bisa memaksa Rani untuk meninggalkan kekasihnya. Jika dia bersikeras, dia tidak lebih baik daripada kekasih rahasia Rani. Kenapa dia menjulukinya dengan kekasih rahasia karena dia tidak pernah bertemu langsung dengan kekasih Rani. Hanya Shim Seunghyun yang tahu dan dia pun tidak memberitahukan itu pada nya.

Jiyong-ah, kaja! (ayo!)” panggil Rani yang berbalik dan mendapati Jiyong sedang melamun.

Setelah menarik nafas, Jiyong mengikuti Rani dan memutuskan untuk mengikuti kehendak Rani.


###@^.^@###

Tidak ada komentar:

Posting Komentar