Selasa, 18 Februari 2020

YOU ARE MINE


CHOI RANHEE TAHU SIAPA PEMILIK rumah baru di ujung jalan. Pemiliknya adalah seorang aktor tampan yang sudah menjadi idolanya sejak lama. Semenjak dia tahu kalau rumah itu sudah di tempati, dia sering melintas di depannya atau memata-matainya dari dalam kamarnya. Sekadar ingin melihat sang idola.

Dan satu bulan kemudian, rumah baru di sebelah rumah sang idola pun di tempati. Juga oleh seorang aktor tampan yang baru-baru ini dia sukai. Kendati demikian idolanya tetap nomor satu di hatinya.

Namun kedua rumah itu selalu tertutup rapat. Dan tidak pernah terlihat ada kehidupan di dalamnya. Sering Ranhee bertanya dalam hati, apa kedua rumah itu belum di tempati, ataukah hanya untuk investasi semata.


Pada suatu siang yang panas, Ranhee berjalan menuju minimarket yang berada di blok sebelah. Gadis manis itu berjalan santai sambil bersenandung. Kegemarannya akan jaket, membuatnya selalu memakai jaket dengan tudung. Bahkan di musim panas pun dia selalu memakai jaket jika keluar rumah.

Setelah membeli apa yang dia inginkan, Ranhee berjalan pulang dengan bersiul. Dan dengan terang-terangan dia memandangi rumah sang idola dan rumah di sebelahnya. Saat dia kembali memandang ke depan dia kaget saat dilihatnya sang idola berjalan menuju arahnya.

Aktor tampan itu mengenakan kaos putih polos dipadu dengan celana jeans berwarna biru serta kemeja denim biru tua tanpa di kancingkan. Terlihat sangat mempesona di mata Ranhee.

Ranhee tersentak dan salah tingkah. Dia berusaha menghindar namun tidak ada tempat untuk bersembunyi. Akhirnya dia hanya menghadap pagar tembok dan tudung jaketnya di rapatkan. Meskipun dia mengidolakan si aktor, namun entah kenapa dia jadi salah tingkah jika berhadapan langsung.

Dia berharap sang idola tidak akan memperhatikannya. Tapi ternyata dugaannya salah. Tanpa dia sangka, sang idola menarik lengannya, membuatnya langsung berhadapan dengannya. Dan si aktor tampan itu langsung mencium bibirnya dengan mesra. Membuat Ranhee terpana.

Si aktor tampan menghentikan ciumannya lalu menatap Ranhee yang masih bengong. Pandangan mereka bertemu dan aktor tampan itu tersenyum saat dia melihat keheranan Ranhee. Lalu tanpa berkata apa-apa lagi, si aktor tampan menarik tangan Ranhee masuk ke rumahnya.

Dan tersadarlah Ranhee. Dia berusaha melepaskan tangannya namun, cengkeraman si aktor tampan terlalu kuat. Akhirnya dia hanya bisa mengikuti langkah sang idola dengan jantung berdebar.

“Anu...”

Si aktor tampan menyudutkan Ranhee di dinding. Kedua tangannya menempel di dinding, guna menghalangi gadis manis itu pergi. “Apa kamu tahu siapa aku?” tanya sang aktor.

“Err... anda... adalah... aktor... Lee Joongi...” jawab Ranhee terbata.

“Hanya itu yang kamu tahu?”

Nyali Ranhee menciut. Memang benar dia menyukai pria di depannya itu. Namun bukan berarti dia harus di pojokkan seperti ini. Dan entah kenapa dia merasa bahwa pria di depannya ini sangat mengenal dirinya sehingga tanpa basa-basi dia langsung mencium dirinya. Padahal Ranhee yakin kalau dirinya tidak mungkin di kenal oleh seorang aktor ternama.

“Saya... tidak... tahu... maksud... anda...” ujar Ranhee masih terbata-bata karena takut.

Lee Joongi membelalakkan mata setelah mendengar jawaban Ranhee, “Berhenti bersikap formal kepadaku. Dan kau tahu betul siapa aku.”

“Saya... benar-benar... tidak... tahu...”

Pria itu memotong ucapan Ranhee dengan mencium bibirnya lagi. Namun kali ini Ranhee berusaha untuk mengelaknya. Dia berusaha mendorong tubuh Joongi. Namun pria itu bergeming dan tetap melumat bibir Ranhee dengan penuh nafsu.

“Tolong... emh... hentikan...” pinta Ranhee yang akhirnya di turuti oleh Joongi.

“Mulai hari ini tinggallah bersamaku. Aku membeli rumah ini karena aku ingin dekat denganmu.”

“Mungkin Anda salah orang. Saya benar-benar tidak tahu siapa Anda sebenarnya.”

“Berhenti bersikap formal kepadaku.” Ujar Joongi, “kita dulu pernah berjanji untuk selalu bersama.”

“Sa, saya... aku... tidak ingat.”

“Tidak masalah bagiku kamu ingat atau tidak. Janji itu sudah tertanam di hatiku dan aku ingin mewujudkannya.” Kata Joongi, “Selama ini aku berharap kamu mengingatnya. Aku sering melihatmu melintas sambil memandang rumah ini. Ku kira kamu mengingatku.”

“Saya... aku melihat kesini karena aku senang bertetangga dengan aktor terkenal, dan aku mengidolakannya.” Jawab Ranhee, “tapi maafkan aku karena aku tidak ingat pernah membuat janji bersamamu.”

“Sudah ku bilang tidak masalah bagiku. Aku hanya ingin bersamamu.” Kata Joongi lalu mendekatkan lagi wajahnya hendak mencium.

Dengan sigap Ranhee menahan Joongi. “Beri aku waktu untuk mengingatnya.”

“Kamu pasti akan melarikan diri jika ku turuti. Aku tidak akan membiarkanmu pergi.”

Ranhee terkesiap. Dia memang berencana untuk menjauh karena dia benar-benar takut. Image aktor tampan di depannya sungguh berbeda dengan sifat aslinya. “A, aku tidak akan melarikan diri. Aku janji.”

“Bohong.” Balas Joongi lalu mencium Ranhee kemudian dia menggendong Ranhee dan membawanya ke kamar.

Dengan sekuat tenaga Choi Ranhee berontak untuk melepaskan diri. Namun tetap sia-sia saja. Perbedaan kekuatan mereka terlalu jauh.


###@^.^@###


Hari berganti minggu dan minggu pun berganti bulan. Tanpa terasa sudah satu tahun lamanya Choi Ranhee tinggal bersama Lee Joongi. Tidak bisa di pungkiri bahwa dia senang tinggal bersama idolanya.

Pada mulanya dia memang terpaksa mau tinggal bersama. Namun karena sikap dan perhatian Joongi padanya yang semakin lembut mampu membuat hatinya luluh. Meskipun dia sering ditinggal sendiri karena kesibukan Joongi, dia tidak pernah berpikir untuk melarikan diri dari Joongi.

Dia menjaga rumah Joongi selama ditinggal. Dan saat ditinggal Joongi itulah dia bisa berkenalan langsung dengan tetangga sebelah rumah. Biasa nya mereka menghabis kan waktu dengan mengobrol di atap rumah Joongi yang memang di desain khusus untuk bersantai.

Bahkan terkadang, Lee Joongi ikut mengobrol dengan mereka. Apalagi profesi nya sama dengan si tetangga, memudahkan mereka untuk mencari topik. Dan hal itu membuat mereka dekat bahkan Ranhee sering merasa tidak di hiraukan oleh keduanya.


“Hyoseop sepertinya baru selesai shooting.” Ujar Joongi sambil melihat keluar jendela dapur yang menghadap rumah sebelah sambil memegang secangkir kopi.

Shooting kali ini lebih lama ya.” Timpal Ranhee yang sedang mengiris sayuran.

“Iya. Dia bilang dia sedang berperan di dua drama sekaligus.”

“Benarkah? Pasti berat.”

“Dia pendatang baru yang menjanjikan. Tinggi dan berwajah tampan.”

“Oppa juga tampan kok.” Puji Ranhee memandang Joongi dengan senyum.

Lee Joongi memandang Ranhee terpana sesaat lalu balas tersenyum. “Benar.”

“Mau ajak Hyoseop makan bersama kita?” tanya Ranhee sambil menyiapkan masakannya di meja makan.

“Boleh juga.” Jawab Joongi, “aku panggil dia dulu.” Imbuhnya lalu meletakkan cangkirnya dan berjalan keluar menuju atap rumah yang biasa mereka pakai untuk bersantai yang juga terhubung dengan balkon rumah sebelah.

Tak berapa lama kemudian, Joongi kembali bersama Ahn Hyoseop. Ranhee sudah menunggu di meja makan. Ranhee menyambut Hyoseop dengan senyum hangat membuat wajah Hyoseop memerah.

Keduanya duduk di tempat yang sudah disediakan. Joongi duduk di sebelah Ranhee yang dengan sigap mengambilkan sup untuk keduanya. Hyoseop dengan hati-hati tidak menunjukkan wajah merahnya kepada Joongi. Dia takut Joongi nantinya salah paham.

Mereka makan sambil mengobrol. Kebanyakan mereka mengobrolkan tentang kejadian-kejadian di tempat shooting. Ranhee hanya mendengarkan sambil sesekali bertanya hal yang tidak tahu dan dengan sabar Joongi menjawabnya.

Hyoseop bisa melihat betapa Joongi sangat mencintai Ranhee, begitu pula sebaliknya. Interaksi diantara mereka sangat santai namun juga penuh kasih sayang. Belum pernah dia melihat atau mendengar Joongi berkata kasar dan keras pada Ranhee.


###@^.^@###


Choi Ranhee terbangun karena haus. Dia melirik jam dinding, pukul dua pagi. Dengan perlahan dia menggeser tangan Joongi yang melingkar di tubuhnya lalu bangkit dan menuju dapur.

Saat dia sedang meminum air putih, dia bisa melihat sebuah siluet seseorang tengah duduk mendongak memandang langit malam di atap. Ranhee mendekati jendela untuk memastikan siapa itu dan dia melihat Hyoseop disana.

Ranhee membuka pintu dapur dan mendekati Hyoseop yang sedang melamun. “Tidak tidur, Hyoseop-ah?” tanya Ranhee sambil duduk di sebelah cowok tampan itu.

“Oh, Ranhee-noona.” Hyoseop kaget mendapati wanita yang dia sukai tiba-tiba duduk di sampingnya, “tidak bisa tidur.”

“Kenapa? Ada masalah?”

“Tidak ada, hanya...” Hyoseop menarik nafas, “entahlah Noona, aku tidak tahu ada apa sebenarnya.”

“Hmm?”

“Noona, boleh aku tanya sesuatu yang lebih pribadi?”

“Boleh.”

“Apa yang akan Noona lakukan jika seandainya Joongi-sunbae cinta lokasi dengan aktris yang menjadi pasangannya?”

Ranhee menoleh memandang Hyoseop yang balas memandangnya dengan muka serius. Sedetik kemudian Ranhee tertawa membuat Hyoseop mengernyitkan kening.

“Jadi yang sebenarnya, apakah kamu jatuh cinta dengan lawan mainmu?” tanya Ranhee langsung membuat Hyoseop merona, “memang sih, Ryu Hwayoung itu cantik dan mempesona. Tidak heran jika kamu jatuh cinta beneran.”

“Bukan seperti itu! Yang aku sukai hanya Ranhee-noona!”

Choi Ranhee terkesiap. Pernyataan cowok disampingnya membuatnya terdiam. “Gomawoyo, Hyoseop-ah.” Ucapnya dengan senyum sambil mengacak-acak rambut Hyoseop.

Keduanya lalu terdiam. Dan hanya suara binatang malam yang terdengar.

“Hyoseop-ah, menurutmu apa itu cinta?” tanya Ranhee mendongak memandang langit malam.

“Eh?” Hyoseop menoleh memandang Ranhee, “aku tidak tahu maksud Noona.”

Ranhee tersenyum, “Jika seandainya suatu hari Oppa sudah tidak mencintaiku lagi, aku akan mundur tanpa syarat apapun. Karena bagiku cinta tak harus memiliki. Asalkan orang yang kita cintai bahagia, sudah lebih dari cukup.

“Kita tidak boleh memaksakan perasaan seseorang. Jika kita memaksa, bisa jadi boomerang bagi kita. Bahagia bisa kita rasakan jika orang yang kita cintai membalas cinta kita. Namun bisa juga sebaliknya. Neraka yang akan di dapat jika kita terlalu memaksa.”

“Jadi jika nanti Joongi-sunbae meninggalkan Noona, Noona tidak akan mempermasalahkannya?”

“Seperti yang aku bilang tadi, aku tidak bisa memaksa Oppa untuk terus mencintaiku. Jika Oppa sudah menemukan cinta baru untuknya, aku tidak akan memaksanya untuk tetap bersamaku. Jika dia bahagia, kenapa aku harus menahannya.”

Hyoseop memandang Ranhee terpana dan juga heran. Dia tidak menyangka bahwa wanita yang dia sukai sedari kecil itu bisa berkata demikian. “Apa itu berarti Noona sebenarnya tidak mencintai Joongi-sunbae?”

Ranhee menoleh, “Kenapa kamu bertanya seperti itu?”

“Karena Noona sepertinya tidak ingin memperjuangkan Joongi-sunbae.”

“Hahaha... bukan begitu maksudku, Hyoseop-ah.” Jawab Ranhee, “jika orang yang kita cintai sudah tidak mencintai kita lagi, untuk apa di pertahankan lagi? Malah kita yang akan sakit hati. Tidak terpikirkah kamu saat sudah sepenuh hati mempertahankan dan memperjuangkannya, tapi dia sama sekali sudah tidak peduli lagi pada kita?”

Hyoseop membuka mulut hendak membantah namum tidak ada kata yang keluar. Setelah dia mendengar argumen terakhir Ranhee, dia tidak bisa membantah lagi. Apa yang dibilang Ranhee memang benar. Namun dia masih ingin membantah, hanya saja dia tidak tahu harus berkata apa lagi.

“Sudah mau pagi. Sebaiknya kamu tidur, Hyoseop-ah. Bukankah kamu ada shooting nanti?”

“Iya tapi aku masih belum ngantuk.”

“Tidurlah.” Paksa Ranhee yang akhirnya membuat Hyoseop tak bisa membantah.

Mereka berdiri bersamaan, dan Ranhee menunggu sampai Hyoseop memasuki rumahnya sebelum dia sendiri memasuki rumah. Dan dia langsung berdiri tegang saat dia melihat Joongi berdiri tak jauh dari pintu dengan ekspresi marah.

Dengan kasar Joongi menarik Ranhee kembali ke kamar. Sesampainya di dalam kamar, Joongi melemparkan Ranhee ketempat tidur. Ranhee sedikit kaget saat Joongi memperlakukannya begitu kasar. Selama ini Joongi selalu bersikap lembut padanya dan tidak pernah marah sedikitpun.

“O, Oppa...”

“Apa kau berencana meninggalkanku? Itu tidak akan pernah terjadi!” bentak Joongi sambil menarik pakaian Ranhee hingga sobek.

“Oppa salah paham. Aku tidak bermaksud meninggalkan Oppa.” Ranhee berusaha menyadarkan Joongi yang sedang kalap.

“Aku tidak akan pernah memaafkanmu jika kamu meninggalkanku!”

“Aku tidak akan meninggalkan Oppa.”

“Karena itu sebagai jaminan kamu tidak akan meninggalkanku, kamu harus mengandung anakku!” Kata Joongi lalu mencumbu Ranhee dengan beringas. Ranhee pun hanya bisa pasrah.

Meskipun Ranhee masih belum bisa mengingat tentang janji mereka dahulu, tapi dia tahu akan ketakutan Joongi jika dia meninggalkannya. Entah karena apa, Joongi begitu takut jika Ranhee meninggalkan dirinya. Namun jika Ranhee ingat-ingat lagi, pertemuan pertama mereka adalah saat Joongi yang tiba-tiba menciumnya di depan rumah yang sekarang menjadi rumahnya.


###@^.^@###


Choi Ranhee melipat baju-baju keringnya sambil menonton televisi. Sesekali dia melirik jam dinding di atas pintu dapur. Sudah waktunya Joongi pulang namun ada tanda-tanda kedatangannya.

Wanita itu menghela nafas. Sudah lebih dari sebulan ini sikap Joongi sedikit berubah. Aktor tampan itu tidak lagi memberitahunya jika dia pulang terlambat. Bahkan dia semakin sering terlambat pulang. Terkadang dia pulang saat Ranhee sudah terlelap, dan akan pergi sebelum Ranhee terbangun.

Ranhee semakin sering makan sendiri. Namun akhir-akhir ini dia tidak nafsu makan sama sekali. Terkadang jika dia memaksakan diri untuk makan, pasti akan langsung dia muntahkan kembali.

Dia berpikir mungkin dia hanya terlalu banyak berpikir yang tidak-tidak sehingga nafsu makannya hilang. Karenanya dia tidak memeriksakan kesehatannya. Namun jika hal itu masih berlanjut dia akan memeriksakannya.

Tapi jika diingat-ingat lagi, sudah tiga bulan sejak terakhir kali Joongi menyetubuhinya. Dan selama ini dia belum mendapat tamu bulanan seperti biasanya. Dia berencana untuk membeli test pack setelah dia selesai dengan pekerjaan rumahnya.


Choi Ranhee hendak membuka gerbang rumah saat dia melihat mobil Lee Joongi menghampirinya. Cepat-cepat dia membuka gerbang lebar-lebar agar mobil kekasihnya bisa masuk kedalam.

Setelah mobil masuk, Ranhee langsung menutup gerbang dan mendekati kekasihnya yang berdiri menunggunya di samping mobil dengan pandangan tajam.

“Darimana?”

“Dari minimarket di blok sebelah.” Jawab Ranhee sambil menunjukkan kantong plastik di tangannya. Dia sengaja menyembunyikan test pack yang dia beli tadi di dalam kantong jaketnya.

“Sudah ku bilang jangan keluar rumah sendirian. Tunggu aku kalau kamu butuh sesuatu.”

“Mianhae, Oppa.” Jawab Ranhee, “aku bosan sendirian di rumah.”

Joongi tercekat. Dia sadar kalau dia jarang di rumah akhir-akhir ini. Dia masih memikirkan perkataan Ranhee yang dia tak sengaja dengar saat mengobrol dengan Hyoseop. Tapi dia malah membiarkan Ranhee sendirian di rumah dan tanpa sengaja membiasakan Ranhee tanpa dirinya.

“Mian.” Ujar Joongi memandang Ranhee dengan lembut lalu mendekatkan wajahnya dan mencium Ranhee yang membalasnya dengan senang.

Ranhee melingkarkan tangannya di leher Joongi yang langsung mengangkatnya dan membawanya masuk kedalam rumah. Perlakuan Joongi padanya yang kembali lembut dan penuh kasih sayang, membuat Ranhee gembira.

Joongi bisa merasakan kegembiraan Ranhee. Hal itu malah membuatnya semakin merasa bersalah. Apalagi dia sedang merencanakan untuk mengadakan fanmeet di beberapa negara Asia selama beberapa minggu terus menerus. Entah dia sanggup untuk bilang pada Ranhee apa tidak nanti.


Keesokan harinya saat Ranhee bangun tidur, dia masih mendapati Joongi terlelap di sebelahnya. Ranhee tersenyum, mengusap kepala Joongi sebentar lalu beranjak dari tempat tidur. Dia mengambil test pack yang dia beli kemarin dan membawanya ke kamar mandi. Cukup lama dia dikamar mandi karena dia takut untuk melihat hasilnya.

Dua garis merah terpampang di alat tes kehamilan yang dia pegang. Dia gemetar. Antara bahagia dan takut. Bahagia karena dia mengandung anak kekasihnya namun juga takut jika Joongi tidak menginginkannya lagi.

“Ranhee-ya, apa kamu di dalam?” Joongi mengetuk pintu kamar mandi. Mengagetkan Ranhee yang masih melamun.

Cepat-cepat dia bungkus kembali test packnya lalu dia buang di tempat sampah di kamar mandi karena panik. “Iya. Sebentar.” Jawab Ranhee setelah membuang test pack lalu mencuci muka dan gosok gigi.

Saat dia membuka pintu kamar mandi, dilihatnya Joongi menunggunya dengan raut cemas, “Ada apa? Apa kamu sakit? Kamu lama sekali di kamar mandi.”

“Aku tidak apa-apa, Oppa.” Jawab Ranhee menenangkan Joongi dengan senyuman, “aku siapkan sarapan dulu.”

Joongi masih memandangi punggung Ranhee dengan khawatir. Dia tidak yakin apa yang harus dia lakukan jika dia pergi fanmeeting dan Ranhee mendadak sakit. Dia tidak bisa membayangkannya. Setelah menarik nafas, dia masuk ke kamar mandi.

Begitu dia selesai mencuci muka dan menggosok gigi, tiba-tiba pandangannya tertuju pada tempat sampah. Ada sebuah kotak panjang disana. Karena penasaran di ambilnya kotak itu. Matanya terbelalak saat membaca tulisan yang ada di kotak itu. Cepat-cepat dia buka dan melihat isinya. Bingung dengan adanya garis merah di alat tes itu, dia membaca brosur yang ada di dalam kotak.

Tangannya gemetar memegangi alat tes kehamilan dan brosur. Dia senang. Dia bahagia. Akhirnya apa yang dia inginkan terkabul.

Dengan tergesa dia membuka pintu kamar mandi lalu berlari menuju dapur, mencari Ranhee. Dia langsung memeluk Ranhee yang sedang memasak. Membuat Ranhee terlonjak kaget.

“Gomawo, Ranhee-ya, gomawo.” Ucap Joongi berkali-kali dengan air mata menetes karena bahagia.

“Oppa, ada apa?” tanya Ranhee yang bingung.

Joongi melepaskan pelukannya lalu menunjukkan alat tes kehamilan. Ranhee langsung menutup mulutnya. Dia memandang Joongi yang menatapnya penuh kebahagiaan, lalu menghambur memeluk kekasihnya. Dia menangis.

“Setelah ini kita ke dokter yaa.” Ajak Joongi yang memeluk Ranhee erat. Ranhee hanya mengangguk karena dia tak sanggup berkata-kata.

Ketakutannya akan penolakan Joongi hilang. Dia benar-benar bahagia.


###@^.^@###


Enam bulan kemudian, Ranhee melahirkan seorang bayi laki-laki dan perempuan. Mereka menyambut kelahiran anak mereka dengan bahagia. Keluarga mereka pun dengan suka cita menyambut personel baru. Lee Joongi menamai kedua anaknya, Lee Jinhee dan Lee Younghee.

Kini mereka hidup bahagia selamanya. Membesarkan putra-putri mereka yang menggemaskan. Sesekali Ahn Hyoseop mampir ke rumah mereka untuk bermain dengan anak-anak mereka.


===end===

Glosarium :
Oppa = panggilan kepada kakak laki-laki dari perempuan atau bisa juga untuk memanggil kekasih.
Noona = panggilan kepada kakak perempuan dari laki-laki.
Gomawo/gomawoyo = terima kasih.
Mianhae/Mian = maaf.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar