CHOI RANHEE TAHU
SIAPA PEMILIK rumah baru di ujung jalan. Pemiliknya adalah seorang aktor tampan
yang sudah menjadi idolanya sejak lama. Semenjak dia tahu kalau rumah itu sudah
di tempati, dia sering melintas di depannya atau memata-matainya dari dalam
kamarnya. Sekadar ingin melihat sang idola.
Dan satu bulan
kemudian, rumah baru di sebelah rumah sang idola pun di tempati. Juga oleh
seorang aktor tampan yang baru-baru ini dia sukai. Kendati demikian idolanya
tetap nomor satu di hatinya.
Namun kedua rumah
itu selalu tertutup rapat. Dan tidak pernah terlihat ada kehidupan di dalamnya.
Sering Ranhee bertanya dalam hati, apa kedua rumah itu belum di tempati,
ataukah hanya untuk investasi semata.
Pada suatu siang
yang panas, Ranhee berjalan menuju minimarket yang berada di blok sebelah.
Gadis manis itu berjalan santai sambil bersenandung. Kegemarannya akan jaket,
membuatnya selalu memakai jaket dengan tudung. Bahkan di musim panas pun dia
selalu memakai jaket jika keluar rumah.
Setelah membeli
apa yang dia inginkan, Ranhee berjalan pulang dengan bersiul. Dan dengan
terang-terangan dia memandangi rumah sang idola dan rumah di sebelahnya. Saat
dia kembali memandang ke depan dia kaget saat dilihatnya sang idola berjalan
menuju arahnya.
Aktor tampan itu
mengenakan kaos putih polos dipadu dengan celana jeans berwarna biru serta
kemeja denim biru tua tanpa di kancingkan. Terlihat sangat mempesona di mata
Ranhee.
Ranhee tersentak
dan salah tingkah. Dia berusaha menghindar namun tidak ada tempat untuk
bersembunyi. Akhirnya dia hanya menghadap pagar tembok dan tudung jaketnya di
rapatkan. Meskipun dia mengidolakan si aktor, namun entah kenapa dia jadi salah
tingkah jika berhadapan langsung.
Dia berharap sang
idola tidak akan memperhatikannya. Tapi ternyata dugaannya salah. Tanpa dia
sangka, sang idola menarik lengannya, membuatnya langsung berhadapan dengannya.
Dan si aktor tampan itu langsung mencium bibirnya dengan mesra. Membuat Ranhee
terpana.
Si aktor tampan
menghentikan ciumannya lalu menatap Ranhee yang masih bengong. Pandangan mereka
bertemu dan aktor tampan itu tersenyum saat dia melihat keheranan Ranhee. Lalu
tanpa berkata apa-apa lagi, si aktor tampan menarik tangan Ranhee masuk ke
rumahnya.
Dan tersadarlah
Ranhee. Dia berusaha melepaskan tangannya namun, cengkeraman si aktor tampan
terlalu kuat. Akhirnya dia hanya bisa mengikuti langkah sang idola dengan
jantung berdebar.
“Anu...”
Si aktor tampan
menyudutkan Ranhee di dinding. Kedua tangannya menempel di dinding, guna
menghalangi gadis manis itu pergi. “Apa kamu tahu siapa aku?” tanya sang aktor.
“Err... anda...
adalah... aktor... Lee Joongi...” jawab Ranhee terbata.
“Hanya itu yang
kamu tahu?”
Nyali Ranhee
menciut. Memang benar dia menyukai pria di depannya itu. Namun bukan berarti
dia harus di pojokkan seperti ini. Dan entah kenapa dia merasa bahwa pria di
depannya ini sangat mengenal dirinya sehingga tanpa basa-basi dia langsung
mencium dirinya. Padahal Ranhee yakin kalau dirinya tidak mungkin di kenal oleh
seorang aktor ternama.
“Saya... tidak...
tahu... maksud... anda...” ujar Ranhee masih terbata-bata karena takut.
Lee Joongi
membelalakkan mata setelah mendengar jawaban Ranhee, “Berhenti bersikap formal
kepadaku. Dan kau tahu betul siapa aku.”
“Saya...
benar-benar... tidak... tahu...”
Pria itu memotong
ucapan Ranhee dengan mencium bibirnya lagi. Namun kali ini Ranhee berusaha
untuk mengelaknya. Dia berusaha mendorong tubuh Joongi. Namun pria itu
bergeming dan tetap melumat bibir Ranhee dengan penuh nafsu.
“Tolong... emh...
hentikan...” pinta Ranhee yang akhirnya di turuti oleh Joongi.
“Mulai hari ini
tinggallah bersamaku. Aku membeli rumah ini karena aku ingin dekat denganmu.”
“Mungkin Anda
salah orang. Saya benar-benar tidak tahu siapa Anda sebenarnya.”
“Berhenti bersikap
formal kepadaku.” Ujar Joongi, “kita dulu pernah berjanji untuk selalu
bersama.”
“Sa, saya...
aku... tidak ingat.”
“Tidak masalah
bagiku kamu ingat atau tidak. Janji itu sudah tertanam di hatiku dan aku ingin
mewujudkannya.” Kata Joongi, “Selama ini aku berharap kamu mengingatnya. Aku
sering melihatmu melintas sambil memandang rumah ini. Ku kira kamu
mengingatku.”
“Saya... aku
melihat kesini karena aku senang bertetangga dengan aktor terkenal, dan aku
mengidolakannya.” Jawab Ranhee, “tapi maafkan aku karena aku tidak ingat pernah
membuat janji bersamamu.”
“Sudah ku bilang
tidak masalah bagiku. Aku hanya ingin bersamamu.” Kata Joongi lalu mendekatkan
lagi wajahnya hendak mencium.
Dengan sigap
Ranhee menahan Joongi. “Beri aku waktu untuk mengingatnya.”
“Kamu pasti akan
melarikan diri jika ku turuti. Aku tidak akan membiarkanmu pergi.”
Ranhee terkesiap.
Dia memang berencana untuk menjauh karena dia benar-benar takut. Image aktor
tampan di depannya sungguh berbeda dengan sifat aslinya. “A, aku tidak akan
melarikan diri. Aku janji.”
“Bohong.” Balas
Joongi lalu mencium Ranhee kemudian dia menggendong Ranhee dan membawanya ke
kamar.
Dengan sekuat
tenaga Choi Ranhee berontak untuk melepaskan diri. Namun tetap sia-sia saja.
Perbedaan kekuatan mereka terlalu jauh.
###@^.^@###
Hari berganti minggu
dan minggu pun berganti bulan. Tanpa terasa sudah satu tahun lamanya Choi
Ranhee tinggal bersama Lee Joongi. Tidak bisa di pungkiri bahwa dia senang
tinggal bersama idolanya.
Pada mulanya dia
memang terpaksa mau tinggal bersama. Namun karena sikap dan perhatian Joongi
padanya yang semakin lembut mampu membuat hatinya luluh. Meskipun dia sering
ditinggal sendiri karena kesibukan Joongi, dia tidak pernah berpikir untuk
melarikan diri dari Joongi.
Dia menjaga rumah
Joongi selama ditinggal. Dan saat ditinggal Joongi itulah dia bisa berkenalan
langsung dengan tetangga sebelah rumah. Biasa nya mereka menghabis kan waktu
dengan mengobrol di atap rumah Joongi yang memang di desain khusus untuk
bersantai.
Bahkan terkadang,
Lee Joongi ikut mengobrol dengan mereka. Apalagi profesi nya sama dengan si
tetangga, memudahkan mereka untuk mencari topik. Dan hal itu membuat mereka
dekat bahkan Ranhee sering merasa tidak di hiraukan oleh keduanya.
“Hyoseop sepertinya
baru selesai shooting.” Ujar Joongi
sambil melihat keluar jendela dapur yang menghadap rumah sebelah sambil
memegang secangkir kopi.
“Shooting kali ini lebih lama ya.” Timpal
Ranhee yang sedang mengiris sayuran.
“Iya. Dia bilang
dia sedang berperan di dua drama sekaligus.”
“Benarkah? Pasti
berat.”
“Dia pendatang
baru yang menjanjikan. Tinggi dan berwajah tampan.”
“Oppa juga tampan
kok.” Puji Ranhee memandang Joongi dengan senyum.
Lee Joongi
memandang Ranhee terpana sesaat lalu balas tersenyum. “Benar.”
“Mau ajak Hyoseop
makan bersama kita?” tanya Ranhee sambil menyiapkan masakannya di meja makan.
“Boleh juga.”
Jawab Joongi, “aku panggil dia dulu.” Imbuhnya lalu meletakkan cangkirnya dan
berjalan keluar menuju atap rumah yang biasa mereka pakai untuk bersantai yang
juga terhubung dengan balkon rumah sebelah.
Tak berapa lama
kemudian, Joongi kembali bersama Ahn Hyoseop. Ranhee sudah menunggu di meja
makan. Ranhee menyambut Hyoseop dengan senyum hangat membuat wajah Hyoseop
memerah.
Keduanya duduk di
tempat yang sudah disediakan. Joongi duduk di sebelah Ranhee yang dengan sigap
mengambilkan sup untuk keduanya. Hyoseop dengan hati-hati tidak menunjukkan
wajah merahnya kepada Joongi. Dia takut Joongi nantinya salah paham.
Mereka makan
sambil mengobrol. Kebanyakan mereka mengobrolkan tentang kejadian-kejadian di
tempat shooting. Ranhee hanya
mendengarkan sambil sesekali bertanya hal yang tidak tahu dan dengan sabar
Joongi menjawabnya.
Hyoseop bisa
melihat betapa Joongi sangat mencintai Ranhee, begitu pula sebaliknya.
Interaksi diantara mereka sangat santai namun juga penuh kasih sayang. Belum
pernah dia melihat atau mendengar Joongi berkata kasar dan keras pada Ranhee.
###@^.^@###
Choi Ranhee
terbangun karena haus. Dia melirik jam dinding, pukul dua pagi. Dengan perlahan
dia menggeser tangan Joongi yang melingkar di tubuhnya lalu bangkit dan menuju
dapur.
Saat dia sedang
meminum air putih, dia bisa melihat sebuah siluet seseorang tengah duduk
mendongak memandang langit malam di atap. Ranhee mendekati jendela untuk
memastikan siapa itu dan dia melihat Hyoseop disana.
Ranhee membuka
pintu dapur dan mendekati Hyoseop yang sedang melamun. “Tidak tidur,
Hyoseop-ah?” tanya Ranhee sambil duduk di sebelah cowok tampan itu.
“Oh,
Ranhee-noona.” Hyoseop kaget mendapati wanita yang dia sukai tiba-tiba duduk di
sampingnya, “tidak bisa tidur.”
“Kenapa? Ada
masalah?”
“Tidak ada,
hanya...” Hyoseop menarik nafas, “entahlah Noona, aku tidak tahu ada apa
sebenarnya.”
“Hmm?”
“Noona, boleh aku
tanya sesuatu yang lebih pribadi?”
“Boleh.”
“Apa yang akan
Noona lakukan jika seandainya Joongi-sunbae cinta lokasi dengan aktris yang
menjadi pasangannya?”
Ranhee menoleh
memandang Hyoseop yang balas memandangnya dengan muka serius. Sedetik kemudian
Ranhee tertawa membuat Hyoseop mengernyitkan kening.
“Jadi yang
sebenarnya, apakah kamu jatuh cinta dengan lawan mainmu?” tanya Ranhee langsung
membuat Hyoseop merona, “memang sih, Ryu Hwayoung itu cantik dan mempesona.
Tidak heran jika kamu jatuh cinta beneran.”
“Bukan seperti
itu! Yang aku sukai hanya Ranhee-noona!”
Choi Ranhee
terkesiap. Pernyataan cowok disampingnya membuatnya terdiam. “Gomawoyo,
Hyoseop-ah.” Ucapnya dengan senyum sambil mengacak-acak rambut Hyoseop.
Keduanya lalu
terdiam. Dan hanya suara binatang malam yang terdengar.
“Hyoseop-ah,
menurutmu apa itu cinta?” tanya Ranhee mendongak memandang langit malam.
“Eh?” Hyoseop
menoleh memandang Ranhee, “aku tidak tahu maksud Noona.”
Ranhee tersenyum, “Jika
seandainya suatu hari Oppa sudah tidak mencintaiku lagi, aku akan mundur tanpa
syarat apapun. Karena bagiku cinta tak harus memiliki. Asalkan orang yang kita
cintai bahagia, sudah lebih dari cukup.
“Kita tidak boleh
memaksakan perasaan seseorang. Jika kita memaksa, bisa jadi boomerang bagi
kita. Bahagia bisa kita rasakan jika orang yang kita cintai membalas cinta
kita. Namun bisa juga sebaliknya. Neraka yang akan di dapat jika kita terlalu
memaksa.”
“Jadi jika nanti Joongi-sunbae
meninggalkan Noona, Noona tidak akan mempermasalahkannya?”
“Seperti yang aku
bilang tadi, aku tidak bisa memaksa Oppa untuk terus mencintaiku. Jika Oppa
sudah menemukan cinta baru untuknya, aku tidak akan memaksanya untuk tetap
bersamaku. Jika dia bahagia, kenapa aku harus menahannya.”
Hyoseop memandang
Ranhee terpana dan juga heran. Dia tidak menyangka bahwa wanita yang dia sukai
sedari kecil itu bisa berkata demikian. “Apa itu berarti Noona sebenarnya tidak
mencintai Joongi-sunbae?”
Ranhee menoleh,
“Kenapa kamu bertanya seperti itu?”
“Karena Noona
sepertinya tidak ingin memperjuangkan Joongi-sunbae.”
“Hahaha... bukan
begitu maksudku, Hyoseop-ah.” Jawab Ranhee, “jika orang yang kita cintai sudah
tidak mencintai kita lagi, untuk apa di pertahankan lagi? Malah kita yang akan
sakit hati. Tidak terpikirkah kamu saat sudah sepenuh hati mempertahankan dan
memperjuangkannya, tapi dia sama sekali sudah tidak peduli lagi pada kita?”
Hyoseop membuka
mulut hendak membantah namum tidak ada kata yang keluar. Setelah dia mendengar
argumen terakhir Ranhee, dia tidak bisa membantah lagi. Apa yang dibilang
Ranhee memang benar. Namun dia masih ingin membantah, hanya saja dia tidak tahu
harus berkata apa lagi.
“Sudah mau pagi.
Sebaiknya kamu tidur, Hyoseop-ah. Bukankah kamu ada shooting nanti?”
“Iya tapi aku
masih belum ngantuk.”
“Tidurlah.” Paksa
Ranhee yang akhirnya membuat Hyoseop tak bisa membantah.
Mereka berdiri
bersamaan, dan Ranhee menunggu sampai Hyoseop memasuki rumahnya sebelum dia
sendiri memasuki rumah. Dan dia langsung berdiri tegang saat dia melihat Joongi
berdiri tak jauh dari pintu dengan ekspresi marah.
Dengan kasar
Joongi menarik Ranhee kembali ke kamar. Sesampainya di dalam kamar, Joongi
melemparkan Ranhee ketempat tidur. Ranhee sedikit kaget saat Joongi
memperlakukannya begitu kasar. Selama ini Joongi selalu bersikap lembut padanya
dan tidak pernah marah sedikitpun.
“O, Oppa...”
“Apa kau berencana
meninggalkanku? Itu tidak akan pernah terjadi!” bentak Joongi sambil menarik
pakaian Ranhee hingga sobek.
“Oppa salah paham.
Aku tidak bermaksud meninggalkan Oppa.” Ranhee berusaha menyadarkan Joongi yang
sedang kalap.
“Aku tidak akan
pernah memaafkanmu jika kamu meninggalkanku!”
“Aku tidak akan
meninggalkan Oppa.”
“Karena itu
sebagai jaminan kamu tidak akan meninggalkanku, kamu harus mengandung anakku!”
Kata Joongi lalu mencumbu Ranhee dengan beringas. Ranhee pun hanya bisa pasrah.
Meskipun Ranhee
masih belum bisa mengingat tentang janji mereka dahulu, tapi dia tahu akan
ketakutan Joongi jika dia meninggalkannya. Entah karena apa, Joongi begitu
takut jika Ranhee meninggalkan dirinya. Namun jika Ranhee ingat-ingat lagi,
pertemuan pertama mereka adalah saat Joongi yang tiba-tiba menciumnya di depan
rumah yang sekarang menjadi rumahnya.
###@^.^@###
Choi Ranhee
melipat baju-baju keringnya sambil menonton televisi. Sesekali dia melirik jam
dinding di atas pintu dapur. Sudah waktunya Joongi pulang namun ada tanda-tanda
kedatangannya.
Wanita itu
menghela nafas. Sudah lebih dari sebulan ini sikap Joongi sedikit berubah.
Aktor tampan itu tidak lagi memberitahunya jika dia pulang terlambat. Bahkan
dia semakin sering terlambat pulang. Terkadang dia pulang saat Ranhee sudah
terlelap, dan akan pergi sebelum Ranhee terbangun.
Ranhee semakin
sering makan sendiri. Namun akhir-akhir ini dia tidak nafsu makan sama sekali.
Terkadang jika dia memaksakan diri untuk makan, pasti akan langsung dia
muntahkan kembali.
Dia berpikir
mungkin dia hanya terlalu banyak berpikir yang tidak-tidak sehingga nafsu
makannya hilang. Karenanya dia tidak memeriksakan kesehatannya. Namun jika hal
itu masih berlanjut dia akan memeriksakannya.
Tapi jika diingat-ingat
lagi, sudah tiga bulan sejak terakhir kali Joongi menyetubuhinya. Dan selama
ini dia belum mendapat tamu bulanan seperti biasanya. Dia berencana untuk
membeli test pack setelah dia selesai dengan pekerjaan rumahnya.
Choi Ranhee hendak
membuka gerbang rumah saat dia melihat mobil Lee Joongi menghampirinya. Cepat-cepat
dia membuka gerbang lebar-lebar agar mobil kekasihnya bisa masuk kedalam.
Setelah mobil
masuk, Ranhee langsung menutup gerbang dan mendekati kekasihnya yang berdiri
menunggunya di samping mobil dengan pandangan tajam.
“Darimana?”
“Dari minimarket
di blok sebelah.” Jawab Ranhee sambil menunjukkan kantong plastik di tangannya.
Dia sengaja menyembunyikan test pack yang dia beli tadi di dalam kantong
jaketnya.
“Sudah ku bilang
jangan keluar rumah sendirian. Tunggu aku kalau kamu butuh sesuatu.”
“Mianhae, Oppa.”
Jawab Ranhee, “aku bosan sendirian di rumah.”
Joongi tercekat.
Dia sadar kalau dia jarang di rumah akhir-akhir ini. Dia masih memikirkan perkataan
Ranhee yang dia tak sengaja dengar saat mengobrol dengan Hyoseop. Tapi dia
malah membiarkan Ranhee sendirian di rumah dan tanpa sengaja membiasakan Ranhee
tanpa dirinya.
“Mian.” Ujar
Joongi memandang Ranhee dengan lembut lalu mendekatkan wajahnya dan mencium
Ranhee yang membalasnya dengan senang.
Ranhee
melingkarkan tangannya di leher Joongi yang langsung mengangkatnya dan
membawanya masuk kedalam rumah. Perlakuan Joongi padanya yang kembali lembut
dan penuh kasih sayang, membuat Ranhee gembira.
Joongi bisa
merasakan kegembiraan Ranhee. Hal itu malah membuatnya semakin merasa bersalah.
Apalagi dia sedang merencanakan untuk mengadakan fanmeet di beberapa negara
Asia selama beberapa minggu terus menerus. Entah dia sanggup untuk bilang pada
Ranhee apa tidak nanti.
Keesokan harinya
saat Ranhee bangun tidur, dia masih mendapati Joongi terlelap di sebelahnya.
Ranhee tersenyum, mengusap kepala Joongi sebentar lalu beranjak dari tempat
tidur. Dia mengambil test pack yang dia beli kemarin dan membawanya ke kamar
mandi. Cukup lama dia dikamar mandi karena dia takut untuk melihat hasilnya.
Dua garis merah
terpampang di alat tes kehamilan yang dia pegang. Dia gemetar. Antara bahagia
dan takut. Bahagia karena dia mengandung anak kekasihnya namun juga takut jika
Joongi tidak menginginkannya lagi.
“Ranhee-ya, apa
kamu di dalam?” Joongi mengetuk pintu kamar mandi. Mengagetkan Ranhee yang
masih melamun.
Cepat-cepat dia
bungkus kembali test packnya lalu dia buang di tempat sampah di kamar mandi
karena panik. “Iya. Sebentar.” Jawab Ranhee setelah membuang test pack lalu
mencuci muka dan gosok gigi.
Saat dia membuka
pintu kamar mandi, dilihatnya Joongi menunggunya dengan raut cemas, “Ada apa?
Apa kamu sakit? Kamu lama sekali di kamar mandi.”
“Aku tidak
apa-apa, Oppa.” Jawab Ranhee menenangkan Joongi dengan senyuman, “aku siapkan
sarapan dulu.”
Joongi masih
memandangi punggung Ranhee dengan khawatir. Dia tidak yakin apa yang harus dia
lakukan jika dia pergi fanmeeting dan Ranhee mendadak sakit. Dia tidak bisa
membayangkannya. Setelah menarik nafas, dia masuk ke kamar mandi.
Begitu dia selesai
mencuci muka dan menggosok gigi, tiba-tiba pandangannya tertuju pada tempat
sampah. Ada sebuah kotak panjang disana. Karena penasaran di ambilnya kotak
itu. Matanya terbelalak saat membaca tulisan yang ada di kotak itu. Cepat-cepat
dia buka dan melihat isinya. Bingung dengan adanya garis merah di alat tes itu,
dia membaca brosur yang ada di dalam kotak.
Tangannya gemetar
memegangi alat tes kehamilan dan brosur. Dia senang. Dia bahagia. Akhirnya apa
yang dia inginkan terkabul.
Dengan tergesa dia
membuka pintu kamar mandi lalu berlari menuju dapur, mencari Ranhee. Dia
langsung memeluk Ranhee yang sedang memasak. Membuat Ranhee terlonjak kaget.
“Gomawo,
Ranhee-ya, gomawo.” Ucap Joongi berkali-kali dengan air mata menetes karena
bahagia.
“Oppa, ada apa?”
tanya Ranhee yang bingung.
Joongi melepaskan
pelukannya lalu menunjukkan alat tes kehamilan. Ranhee langsung menutup
mulutnya. Dia memandang Joongi yang menatapnya penuh kebahagiaan, lalu
menghambur memeluk kekasihnya. Dia menangis.
“Setelah ini kita
ke dokter yaa.” Ajak Joongi yang memeluk Ranhee erat. Ranhee hanya mengangguk
karena dia tak sanggup berkata-kata.
Ketakutannya akan
penolakan Joongi hilang. Dia benar-benar bahagia.
###@^.^@###
Enam bulan
kemudian, Ranhee melahirkan seorang bayi laki-laki dan perempuan. Mereka
menyambut kelahiran anak mereka dengan bahagia. Keluarga mereka pun dengan suka
cita menyambut personel baru. Lee Joongi menamai kedua anaknya, Lee Jinhee dan
Lee Younghee.
Kini mereka hidup
bahagia selamanya. Membesarkan putra-putri mereka yang menggemaskan. Sesekali
Ahn Hyoseop mampir ke rumah mereka untuk bermain dengan anak-anak mereka.
===end===
Glosarium :
Oppa = panggilan
kepada kakak laki-laki dari perempuan atau bisa juga untuk memanggil kekasih.
Noona = panggilan kepada kakak perempuan dari laki-laki.
Gomawo/gomawoyo =
terima kasih.
Mianhae/Mian =
maaf.