Selasa, 18 Februari 2020

YOU ARE MINE


CHOI RANHEE TAHU SIAPA PEMILIK rumah baru di ujung jalan. Pemiliknya adalah seorang aktor tampan yang sudah menjadi idolanya sejak lama. Semenjak dia tahu kalau rumah itu sudah di tempati, dia sering melintas di depannya atau memata-matainya dari dalam kamarnya. Sekadar ingin melihat sang idola.

Dan satu bulan kemudian, rumah baru di sebelah rumah sang idola pun di tempati. Juga oleh seorang aktor tampan yang baru-baru ini dia sukai. Kendati demikian idolanya tetap nomor satu di hatinya.

Namun kedua rumah itu selalu tertutup rapat. Dan tidak pernah terlihat ada kehidupan di dalamnya. Sering Ranhee bertanya dalam hati, apa kedua rumah itu belum di tempati, ataukah hanya untuk investasi semata.


Pada suatu siang yang panas, Ranhee berjalan menuju minimarket yang berada di blok sebelah. Gadis manis itu berjalan santai sambil bersenandung. Kegemarannya akan jaket, membuatnya selalu memakai jaket dengan tudung. Bahkan di musim panas pun dia selalu memakai jaket jika keluar rumah.

Setelah membeli apa yang dia inginkan, Ranhee berjalan pulang dengan bersiul. Dan dengan terang-terangan dia memandangi rumah sang idola dan rumah di sebelahnya. Saat dia kembali memandang ke depan dia kaget saat dilihatnya sang idola berjalan menuju arahnya.

Aktor tampan itu mengenakan kaos putih polos dipadu dengan celana jeans berwarna biru serta kemeja denim biru tua tanpa di kancingkan. Terlihat sangat mempesona di mata Ranhee.

Ranhee tersentak dan salah tingkah. Dia berusaha menghindar namun tidak ada tempat untuk bersembunyi. Akhirnya dia hanya menghadap pagar tembok dan tudung jaketnya di rapatkan. Meskipun dia mengidolakan si aktor, namun entah kenapa dia jadi salah tingkah jika berhadapan langsung.

Dia berharap sang idola tidak akan memperhatikannya. Tapi ternyata dugaannya salah. Tanpa dia sangka, sang idola menarik lengannya, membuatnya langsung berhadapan dengannya. Dan si aktor tampan itu langsung mencium bibirnya dengan mesra. Membuat Ranhee terpana.

Si aktor tampan menghentikan ciumannya lalu menatap Ranhee yang masih bengong. Pandangan mereka bertemu dan aktor tampan itu tersenyum saat dia melihat keheranan Ranhee. Lalu tanpa berkata apa-apa lagi, si aktor tampan menarik tangan Ranhee masuk ke rumahnya.

Dan tersadarlah Ranhee. Dia berusaha melepaskan tangannya namun, cengkeraman si aktor tampan terlalu kuat. Akhirnya dia hanya bisa mengikuti langkah sang idola dengan jantung berdebar.

“Anu...”

Si aktor tampan menyudutkan Ranhee di dinding. Kedua tangannya menempel di dinding, guna menghalangi gadis manis itu pergi. “Apa kamu tahu siapa aku?” tanya sang aktor.

“Err... anda... adalah... aktor... Lee Joongi...” jawab Ranhee terbata.

“Hanya itu yang kamu tahu?”

Nyali Ranhee menciut. Memang benar dia menyukai pria di depannya itu. Namun bukan berarti dia harus di pojokkan seperti ini. Dan entah kenapa dia merasa bahwa pria di depannya ini sangat mengenal dirinya sehingga tanpa basa-basi dia langsung mencium dirinya. Padahal Ranhee yakin kalau dirinya tidak mungkin di kenal oleh seorang aktor ternama.

“Saya... tidak... tahu... maksud... anda...” ujar Ranhee masih terbata-bata karena takut.

Lee Joongi membelalakkan mata setelah mendengar jawaban Ranhee, “Berhenti bersikap formal kepadaku. Dan kau tahu betul siapa aku.”

“Saya... benar-benar... tidak... tahu...”

Pria itu memotong ucapan Ranhee dengan mencium bibirnya lagi. Namun kali ini Ranhee berusaha untuk mengelaknya. Dia berusaha mendorong tubuh Joongi. Namun pria itu bergeming dan tetap melumat bibir Ranhee dengan penuh nafsu.

“Tolong... emh... hentikan...” pinta Ranhee yang akhirnya di turuti oleh Joongi.

“Mulai hari ini tinggallah bersamaku. Aku membeli rumah ini karena aku ingin dekat denganmu.”

“Mungkin Anda salah orang. Saya benar-benar tidak tahu siapa Anda sebenarnya.”

“Berhenti bersikap formal kepadaku.” Ujar Joongi, “kita dulu pernah berjanji untuk selalu bersama.”

“Sa, saya... aku... tidak ingat.”

“Tidak masalah bagiku kamu ingat atau tidak. Janji itu sudah tertanam di hatiku dan aku ingin mewujudkannya.” Kata Joongi, “Selama ini aku berharap kamu mengingatnya. Aku sering melihatmu melintas sambil memandang rumah ini. Ku kira kamu mengingatku.”

“Saya... aku melihat kesini karena aku senang bertetangga dengan aktor terkenal, dan aku mengidolakannya.” Jawab Ranhee, “tapi maafkan aku karena aku tidak ingat pernah membuat janji bersamamu.”

“Sudah ku bilang tidak masalah bagiku. Aku hanya ingin bersamamu.” Kata Joongi lalu mendekatkan lagi wajahnya hendak mencium.

Dengan sigap Ranhee menahan Joongi. “Beri aku waktu untuk mengingatnya.”

“Kamu pasti akan melarikan diri jika ku turuti. Aku tidak akan membiarkanmu pergi.”

Ranhee terkesiap. Dia memang berencana untuk menjauh karena dia benar-benar takut. Image aktor tampan di depannya sungguh berbeda dengan sifat aslinya. “A, aku tidak akan melarikan diri. Aku janji.”

“Bohong.” Balas Joongi lalu mencium Ranhee kemudian dia menggendong Ranhee dan membawanya ke kamar.

Dengan sekuat tenaga Choi Ranhee berontak untuk melepaskan diri. Namun tetap sia-sia saja. Perbedaan kekuatan mereka terlalu jauh.


###@^.^@###


Hari berganti minggu dan minggu pun berganti bulan. Tanpa terasa sudah satu tahun lamanya Choi Ranhee tinggal bersama Lee Joongi. Tidak bisa di pungkiri bahwa dia senang tinggal bersama idolanya.

Pada mulanya dia memang terpaksa mau tinggal bersama. Namun karena sikap dan perhatian Joongi padanya yang semakin lembut mampu membuat hatinya luluh. Meskipun dia sering ditinggal sendiri karena kesibukan Joongi, dia tidak pernah berpikir untuk melarikan diri dari Joongi.

Dia menjaga rumah Joongi selama ditinggal. Dan saat ditinggal Joongi itulah dia bisa berkenalan langsung dengan tetangga sebelah rumah. Biasa nya mereka menghabis kan waktu dengan mengobrol di atap rumah Joongi yang memang di desain khusus untuk bersantai.

Bahkan terkadang, Lee Joongi ikut mengobrol dengan mereka. Apalagi profesi nya sama dengan si tetangga, memudahkan mereka untuk mencari topik. Dan hal itu membuat mereka dekat bahkan Ranhee sering merasa tidak di hiraukan oleh keduanya.


“Hyoseop sepertinya baru selesai shooting.” Ujar Joongi sambil melihat keluar jendela dapur yang menghadap rumah sebelah sambil memegang secangkir kopi.

Shooting kali ini lebih lama ya.” Timpal Ranhee yang sedang mengiris sayuran.

“Iya. Dia bilang dia sedang berperan di dua drama sekaligus.”

“Benarkah? Pasti berat.”

“Dia pendatang baru yang menjanjikan. Tinggi dan berwajah tampan.”

“Oppa juga tampan kok.” Puji Ranhee memandang Joongi dengan senyum.

Lee Joongi memandang Ranhee terpana sesaat lalu balas tersenyum. “Benar.”

“Mau ajak Hyoseop makan bersama kita?” tanya Ranhee sambil menyiapkan masakannya di meja makan.

“Boleh juga.” Jawab Joongi, “aku panggil dia dulu.” Imbuhnya lalu meletakkan cangkirnya dan berjalan keluar menuju atap rumah yang biasa mereka pakai untuk bersantai yang juga terhubung dengan balkon rumah sebelah.

Tak berapa lama kemudian, Joongi kembali bersama Ahn Hyoseop. Ranhee sudah menunggu di meja makan. Ranhee menyambut Hyoseop dengan senyum hangat membuat wajah Hyoseop memerah.

Keduanya duduk di tempat yang sudah disediakan. Joongi duduk di sebelah Ranhee yang dengan sigap mengambilkan sup untuk keduanya. Hyoseop dengan hati-hati tidak menunjukkan wajah merahnya kepada Joongi. Dia takut Joongi nantinya salah paham.

Mereka makan sambil mengobrol. Kebanyakan mereka mengobrolkan tentang kejadian-kejadian di tempat shooting. Ranhee hanya mendengarkan sambil sesekali bertanya hal yang tidak tahu dan dengan sabar Joongi menjawabnya.

Hyoseop bisa melihat betapa Joongi sangat mencintai Ranhee, begitu pula sebaliknya. Interaksi diantara mereka sangat santai namun juga penuh kasih sayang. Belum pernah dia melihat atau mendengar Joongi berkata kasar dan keras pada Ranhee.


###@^.^@###


Choi Ranhee terbangun karena haus. Dia melirik jam dinding, pukul dua pagi. Dengan perlahan dia menggeser tangan Joongi yang melingkar di tubuhnya lalu bangkit dan menuju dapur.

Saat dia sedang meminum air putih, dia bisa melihat sebuah siluet seseorang tengah duduk mendongak memandang langit malam di atap. Ranhee mendekati jendela untuk memastikan siapa itu dan dia melihat Hyoseop disana.

Ranhee membuka pintu dapur dan mendekati Hyoseop yang sedang melamun. “Tidak tidur, Hyoseop-ah?” tanya Ranhee sambil duduk di sebelah cowok tampan itu.

“Oh, Ranhee-noona.” Hyoseop kaget mendapati wanita yang dia sukai tiba-tiba duduk di sampingnya, “tidak bisa tidur.”

“Kenapa? Ada masalah?”

“Tidak ada, hanya...” Hyoseop menarik nafas, “entahlah Noona, aku tidak tahu ada apa sebenarnya.”

“Hmm?”

“Noona, boleh aku tanya sesuatu yang lebih pribadi?”

“Boleh.”

“Apa yang akan Noona lakukan jika seandainya Joongi-sunbae cinta lokasi dengan aktris yang menjadi pasangannya?”

Ranhee menoleh memandang Hyoseop yang balas memandangnya dengan muka serius. Sedetik kemudian Ranhee tertawa membuat Hyoseop mengernyitkan kening.

“Jadi yang sebenarnya, apakah kamu jatuh cinta dengan lawan mainmu?” tanya Ranhee langsung membuat Hyoseop merona, “memang sih, Ryu Hwayoung itu cantik dan mempesona. Tidak heran jika kamu jatuh cinta beneran.”

“Bukan seperti itu! Yang aku sukai hanya Ranhee-noona!”

Choi Ranhee terkesiap. Pernyataan cowok disampingnya membuatnya terdiam. “Gomawoyo, Hyoseop-ah.” Ucapnya dengan senyum sambil mengacak-acak rambut Hyoseop.

Keduanya lalu terdiam. Dan hanya suara binatang malam yang terdengar.

“Hyoseop-ah, menurutmu apa itu cinta?” tanya Ranhee mendongak memandang langit malam.

“Eh?” Hyoseop menoleh memandang Ranhee, “aku tidak tahu maksud Noona.”

Ranhee tersenyum, “Jika seandainya suatu hari Oppa sudah tidak mencintaiku lagi, aku akan mundur tanpa syarat apapun. Karena bagiku cinta tak harus memiliki. Asalkan orang yang kita cintai bahagia, sudah lebih dari cukup.

“Kita tidak boleh memaksakan perasaan seseorang. Jika kita memaksa, bisa jadi boomerang bagi kita. Bahagia bisa kita rasakan jika orang yang kita cintai membalas cinta kita. Namun bisa juga sebaliknya. Neraka yang akan di dapat jika kita terlalu memaksa.”

“Jadi jika nanti Joongi-sunbae meninggalkan Noona, Noona tidak akan mempermasalahkannya?”

“Seperti yang aku bilang tadi, aku tidak bisa memaksa Oppa untuk terus mencintaiku. Jika Oppa sudah menemukan cinta baru untuknya, aku tidak akan memaksanya untuk tetap bersamaku. Jika dia bahagia, kenapa aku harus menahannya.”

Hyoseop memandang Ranhee terpana dan juga heran. Dia tidak menyangka bahwa wanita yang dia sukai sedari kecil itu bisa berkata demikian. “Apa itu berarti Noona sebenarnya tidak mencintai Joongi-sunbae?”

Ranhee menoleh, “Kenapa kamu bertanya seperti itu?”

“Karena Noona sepertinya tidak ingin memperjuangkan Joongi-sunbae.”

“Hahaha... bukan begitu maksudku, Hyoseop-ah.” Jawab Ranhee, “jika orang yang kita cintai sudah tidak mencintai kita lagi, untuk apa di pertahankan lagi? Malah kita yang akan sakit hati. Tidak terpikirkah kamu saat sudah sepenuh hati mempertahankan dan memperjuangkannya, tapi dia sama sekali sudah tidak peduli lagi pada kita?”

Hyoseop membuka mulut hendak membantah namum tidak ada kata yang keluar. Setelah dia mendengar argumen terakhir Ranhee, dia tidak bisa membantah lagi. Apa yang dibilang Ranhee memang benar. Namun dia masih ingin membantah, hanya saja dia tidak tahu harus berkata apa lagi.

“Sudah mau pagi. Sebaiknya kamu tidur, Hyoseop-ah. Bukankah kamu ada shooting nanti?”

“Iya tapi aku masih belum ngantuk.”

“Tidurlah.” Paksa Ranhee yang akhirnya membuat Hyoseop tak bisa membantah.

Mereka berdiri bersamaan, dan Ranhee menunggu sampai Hyoseop memasuki rumahnya sebelum dia sendiri memasuki rumah. Dan dia langsung berdiri tegang saat dia melihat Joongi berdiri tak jauh dari pintu dengan ekspresi marah.

Dengan kasar Joongi menarik Ranhee kembali ke kamar. Sesampainya di dalam kamar, Joongi melemparkan Ranhee ketempat tidur. Ranhee sedikit kaget saat Joongi memperlakukannya begitu kasar. Selama ini Joongi selalu bersikap lembut padanya dan tidak pernah marah sedikitpun.

“O, Oppa...”

“Apa kau berencana meninggalkanku? Itu tidak akan pernah terjadi!” bentak Joongi sambil menarik pakaian Ranhee hingga sobek.

“Oppa salah paham. Aku tidak bermaksud meninggalkan Oppa.” Ranhee berusaha menyadarkan Joongi yang sedang kalap.

“Aku tidak akan pernah memaafkanmu jika kamu meninggalkanku!”

“Aku tidak akan meninggalkan Oppa.”

“Karena itu sebagai jaminan kamu tidak akan meninggalkanku, kamu harus mengandung anakku!” Kata Joongi lalu mencumbu Ranhee dengan beringas. Ranhee pun hanya bisa pasrah.

Meskipun Ranhee masih belum bisa mengingat tentang janji mereka dahulu, tapi dia tahu akan ketakutan Joongi jika dia meninggalkannya. Entah karena apa, Joongi begitu takut jika Ranhee meninggalkan dirinya. Namun jika Ranhee ingat-ingat lagi, pertemuan pertama mereka adalah saat Joongi yang tiba-tiba menciumnya di depan rumah yang sekarang menjadi rumahnya.


###@^.^@###


Choi Ranhee melipat baju-baju keringnya sambil menonton televisi. Sesekali dia melirik jam dinding di atas pintu dapur. Sudah waktunya Joongi pulang namun ada tanda-tanda kedatangannya.

Wanita itu menghela nafas. Sudah lebih dari sebulan ini sikap Joongi sedikit berubah. Aktor tampan itu tidak lagi memberitahunya jika dia pulang terlambat. Bahkan dia semakin sering terlambat pulang. Terkadang dia pulang saat Ranhee sudah terlelap, dan akan pergi sebelum Ranhee terbangun.

Ranhee semakin sering makan sendiri. Namun akhir-akhir ini dia tidak nafsu makan sama sekali. Terkadang jika dia memaksakan diri untuk makan, pasti akan langsung dia muntahkan kembali.

Dia berpikir mungkin dia hanya terlalu banyak berpikir yang tidak-tidak sehingga nafsu makannya hilang. Karenanya dia tidak memeriksakan kesehatannya. Namun jika hal itu masih berlanjut dia akan memeriksakannya.

Tapi jika diingat-ingat lagi, sudah tiga bulan sejak terakhir kali Joongi menyetubuhinya. Dan selama ini dia belum mendapat tamu bulanan seperti biasanya. Dia berencana untuk membeli test pack setelah dia selesai dengan pekerjaan rumahnya.


Choi Ranhee hendak membuka gerbang rumah saat dia melihat mobil Lee Joongi menghampirinya. Cepat-cepat dia membuka gerbang lebar-lebar agar mobil kekasihnya bisa masuk kedalam.

Setelah mobil masuk, Ranhee langsung menutup gerbang dan mendekati kekasihnya yang berdiri menunggunya di samping mobil dengan pandangan tajam.

“Darimana?”

“Dari minimarket di blok sebelah.” Jawab Ranhee sambil menunjukkan kantong plastik di tangannya. Dia sengaja menyembunyikan test pack yang dia beli tadi di dalam kantong jaketnya.

“Sudah ku bilang jangan keluar rumah sendirian. Tunggu aku kalau kamu butuh sesuatu.”

“Mianhae, Oppa.” Jawab Ranhee, “aku bosan sendirian di rumah.”

Joongi tercekat. Dia sadar kalau dia jarang di rumah akhir-akhir ini. Dia masih memikirkan perkataan Ranhee yang dia tak sengaja dengar saat mengobrol dengan Hyoseop. Tapi dia malah membiarkan Ranhee sendirian di rumah dan tanpa sengaja membiasakan Ranhee tanpa dirinya.

“Mian.” Ujar Joongi memandang Ranhee dengan lembut lalu mendekatkan wajahnya dan mencium Ranhee yang membalasnya dengan senang.

Ranhee melingkarkan tangannya di leher Joongi yang langsung mengangkatnya dan membawanya masuk kedalam rumah. Perlakuan Joongi padanya yang kembali lembut dan penuh kasih sayang, membuat Ranhee gembira.

Joongi bisa merasakan kegembiraan Ranhee. Hal itu malah membuatnya semakin merasa bersalah. Apalagi dia sedang merencanakan untuk mengadakan fanmeet di beberapa negara Asia selama beberapa minggu terus menerus. Entah dia sanggup untuk bilang pada Ranhee apa tidak nanti.


Keesokan harinya saat Ranhee bangun tidur, dia masih mendapati Joongi terlelap di sebelahnya. Ranhee tersenyum, mengusap kepala Joongi sebentar lalu beranjak dari tempat tidur. Dia mengambil test pack yang dia beli kemarin dan membawanya ke kamar mandi. Cukup lama dia dikamar mandi karena dia takut untuk melihat hasilnya.

Dua garis merah terpampang di alat tes kehamilan yang dia pegang. Dia gemetar. Antara bahagia dan takut. Bahagia karena dia mengandung anak kekasihnya namun juga takut jika Joongi tidak menginginkannya lagi.

“Ranhee-ya, apa kamu di dalam?” Joongi mengetuk pintu kamar mandi. Mengagetkan Ranhee yang masih melamun.

Cepat-cepat dia bungkus kembali test packnya lalu dia buang di tempat sampah di kamar mandi karena panik. “Iya. Sebentar.” Jawab Ranhee setelah membuang test pack lalu mencuci muka dan gosok gigi.

Saat dia membuka pintu kamar mandi, dilihatnya Joongi menunggunya dengan raut cemas, “Ada apa? Apa kamu sakit? Kamu lama sekali di kamar mandi.”

“Aku tidak apa-apa, Oppa.” Jawab Ranhee menenangkan Joongi dengan senyuman, “aku siapkan sarapan dulu.”

Joongi masih memandangi punggung Ranhee dengan khawatir. Dia tidak yakin apa yang harus dia lakukan jika dia pergi fanmeeting dan Ranhee mendadak sakit. Dia tidak bisa membayangkannya. Setelah menarik nafas, dia masuk ke kamar mandi.

Begitu dia selesai mencuci muka dan menggosok gigi, tiba-tiba pandangannya tertuju pada tempat sampah. Ada sebuah kotak panjang disana. Karena penasaran di ambilnya kotak itu. Matanya terbelalak saat membaca tulisan yang ada di kotak itu. Cepat-cepat dia buka dan melihat isinya. Bingung dengan adanya garis merah di alat tes itu, dia membaca brosur yang ada di dalam kotak.

Tangannya gemetar memegangi alat tes kehamilan dan brosur. Dia senang. Dia bahagia. Akhirnya apa yang dia inginkan terkabul.

Dengan tergesa dia membuka pintu kamar mandi lalu berlari menuju dapur, mencari Ranhee. Dia langsung memeluk Ranhee yang sedang memasak. Membuat Ranhee terlonjak kaget.

“Gomawo, Ranhee-ya, gomawo.” Ucap Joongi berkali-kali dengan air mata menetes karena bahagia.

“Oppa, ada apa?” tanya Ranhee yang bingung.

Joongi melepaskan pelukannya lalu menunjukkan alat tes kehamilan. Ranhee langsung menutup mulutnya. Dia memandang Joongi yang menatapnya penuh kebahagiaan, lalu menghambur memeluk kekasihnya. Dia menangis.

“Setelah ini kita ke dokter yaa.” Ajak Joongi yang memeluk Ranhee erat. Ranhee hanya mengangguk karena dia tak sanggup berkata-kata.

Ketakutannya akan penolakan Joongi hilang. Dia benar-benar bahagia.


###@^.^@###


Enam bulan kemudian, Ranhee melahirkan seorang bayi laki-laki dan perempuan. Mereka menyambut kelahiran anak mereka dengan bahagia. Keluarga mereka pun dengan suka cita menyambut personel baru. Lee Joongi menamai kedua anaknya, Lee Jinhee dan Lee Younghee.

Kini mereka hidup bahagia selamanya. Membesarkan putra-putri mereka yang menggemaskan. Sesekali Ahn Hyoseop mampir ke rumah mereka untuk bermain dengan anak-anak mereka.


===end===

Glosarium :
Oppa = panggilan kepada kakak laki-laki dari perempuan atau bisa juga untuk memanggil kekasih.
Noona = panggilan kepada kakak perempuan dari laki-laki.
Gomawo/gomawoyo = terima kasih.
Mianhae/Mian = maaf.

Kamis, 06 Februari 2020

SERIAL RANI - II : NEW LOVE


RANI TURUN DARI TAKSI tepat di depan gerbang kampusnya dulu. Banyak mahasiswa berlalu lalang dengan membawa sekeranjang bunga mawar yang dibungkus dengan plastik satu-satu.

Dengan perlahan dia memasuki gerbang kampus. Melempar senyum pada beberapa mahasiswa yang menyapanya. Dia tidak mengenal satupun dari mereka, namun sikap ramah mereka membuatnya tersenyum sebagai balasan.

Sebuah mobil hitam melintas mendahuluinya. Terlihat siluet seorang pria duduk di kursi penumpang di belakang. Beberapa mahasiswi yang mengenali mobil itu langsung heboh dan langsung mengikuti mobil itu berbondong-bondong.


Pria yang sedari tadi sibuk dengan smartphone nya, mendongak dan memandang keluar jendela mobil yang melaju pelan karena banyaknya pejalan kaki. Pandangannya tertuju pada seorang wanita yang berjalan di depannya.

Dia merasa pernah melihat wanita itu namun dia lupa dimana dia melihatnya. Pandangannya terus saja menatap wanita itu hingga dia melewatinya. Dia menoleh kebelakang untuk melihat wanita itu. Dan seketika jantungnya berdebar.

Pria tampan dengan setelan jas berwarna biru tua itu menegakkan kembali punggungya dan menghadap kedepan. Dia tidak bisa mengontrol debaran jantungnya. Dia belum pernah merasa seperti itu dan itu membuatnya bingung.

Sir?” tanya ajudannya yang berada di balik kemudi.

Tangan kanan pria itu menyentuh dadanya sedangkan tangan kirinya menutup mulutnya. Wajahnya memerah.

Are you ok, Sir?

I just...” pria itu menarik nafas untuk mengatur debaran jantung dan ekspresi mukanya, “I’m ok. It’s nothing.

Ajudannya masih meliriknya melalui kaca tengah, khawatir.

When you wait me today, can you take picture every woman who attend the reunion?

Yes, Sir.” Jawab ajudannya tanpa bertanya alasannya. Karena dia sudah sangat mengenal Tuan nya. Pasti ada yang menarik minat Tuan nya namun Tuan nya tidak mengenalnya. Bukan tidak tapi belum.

Sebagai ajudan dan orang kepercayaan, James Parker, selalu melakukan perintah Tuan nya tanpa cela. James sudah di latih dari kecil untuk melayani Tuan nya. Dari sepuluh anak yang terpilih, James selalu berada di urutan pertama untuk segala hal. Karena itu lah dia terpilih untuk mengawal Tuan nya.


Setelah menuliskan namanya, dan mendapat marchendise, Rani memasuki aula tempat di adakannya acara. Dia melihat seorang pria ber-jas hitam berdiri di samping pintu dengan smartphone di tangannya. Sikapnya tegas namun cuek dan seakan seperti batu.

Namun Rani tidak lama-lama memandang pria itu. Dia memasuki ruangan yang sudah di tata apik dengan meja-meja bundar dengan kursi-kursi berselimut kain mengelilinginya. Sebuah vas bunga kecil berisi mawar putih cantik terletak di tengah tiap meja bundar. Di sekelilingnya terdapat napkin yang terlipat dan nomor-nomor.

Rani memandang nomor di tangannya lalu mencari kursinya dengan pandangan mata. Di sebuah meja bundar di sudut ruangan terdapat nomor yang sama dengan yang ada di tangannya. Dan di sana sudah duduk seorang pria dengan setelan jas biru tua yang sedang sibuk dengan tablet di tangannya.

Dia menarik nafas untuk menetralkan hatinya yang berdesir saat melihat pria itu. Berjalan pelan menuju kursinya, sambil sesekali menarik nafas. Dia gugup entah karena apa. Dia tidak yakin.

Excuse me.” Rani menyapa sambil menarik kursi karena tempat duduknya tepat di sebelah pria itu.

Pria dengan rambut hitam kemerahan itu kontan mendongak karena kaget lalu tertegun saat melihat wanita yang berdiri di sebelahnya.

Oh, I’m so sorry, I didn’t mean to startled you.” Sesal Rani sambil memandang pria itu dengan ekspresi meminta maaf.

Pria itu tersentak lalu menggeleng dan tersenyum kepada Rani, “It’s ok. I just too focus with my tablet. Don’t worry.” Ujarnya sambil berdiri. Sopan santun seseorang terhadap orang lain yang hendak duduk.

Rani mengucapkan terima kasihnya saat pria itu menyilahkannya duduk dengan membantunya menata kursi Rani agar dia bisa duduk dengan nyaman. Setelah itu pria itu kembali duduk di sebelah Rani dan menyimpan tablet nya.

Nice to meet you. I’m Evanz, Rani Evanz from Indonesia.” Rani memperkenalkan diri pada pria itu sambil mengulurkan tangannya.

Nice to meet you, too,” jawab pria itu sambil menyambut uluran tangan Rani, “Wycliffe, Louis Wycliffe.” Imbuh Louis memperkenalkan diri.

Dan mereka pun mengobrol. Mengenang masa-masa saat mereka masih kuliah dan kenapa mereka tidak pernah bertemu sebelumnya. Sesaat setelah Rani bercerita kalau dia kembali ke London untuk mencari pekerjaan, smartphone nya berdering.

Rani meminta maaf pada Louis sebelum mengangkat telepon, “Moshi-moshi?” sapa Rani menggunakan bahasa Jepang karena dia melihat kode area Jepang.

Louis melirik Rani yang sedang berbicara dengan bahasa Jepang dengan begitu lancar dan cepat hingga dia tidak bisa mengikuti. Pengetahuannya tentang bahasa Jepang masih sangat minim. Sekalipun dia sudah memanggil guru privat untuk mengajarinya bahasa Jepang, tetap saja dia kesulitan untuk mempelajarinya. Tidak seperti bahasa Perancis dan Jerman serta Italia yang begitu mudah dia pelajari.

Setelah sepuluh menit menelpon, akhirnya Rani menyudahi sambungan teleponnya. Namun baru saja dia meletakkan smartphone nya kedalam tas, benda itu kembali berdering.

Yeobseo?” sapa Rani kali ini menggunakan bahasa Korea dengan lihai membuat Louis menoleh dan terang-terangan memandang Rani dengan takjub. Rani merasakan tatapan Louis dan balik memandangnya. Keduanya saling bertatap mata dalam diam.

Wanita itu tersentak saat si penelpon memanggilnya dengan sedikit keras. Cepat-cepat dia palingkan wajahnya dari Louis dan kembali berbicara pada si penelpon.

Louis masih memandang Rani yang sedikit salah tingkah sebelum akhirnya dia tersenyum dan mengalihkan tatapannya sambil meraih smartphone nya dari saku jas nya. Dia mengetik pesan dan mengirimnya ke sekertarisnya di kantor.

Tak lama kemudian, Rani mengakhiri sambungan telepon. Kembali meminta maaf pada Louis karena telah menganggu obrolan mereka sebelumnya. Louis menggeleng dengan senyum menawan. Rani seakan tersihir saat melihat senyum itu. Dan jantungnya pun berdebar kencang.

“Aku kagum betapa mudahnya kamu berbicara menggunakan kedua bahasa itu. Sudah satu bulan ini aku belajar kedua bahasa itu tapi tetap saja aku tidak bisa selancar itu.” Aku Louis.

“Itu karena aku pernah tinggal disana selama beberapa tahun.” Jawab Rani.

That’s nice.” Kata Louis, “It’s too difficult to me to learn them. Especially Korean. I know little bit Japanese but nothing on Korean.” Keluh Louis.

Rani tertawa renyah membuat Louis terpana, “You are right. Korean is more difficult than Japanese. I can speak Japanese with ease because we, Indonesian, spell every word in the same way. But Korean is diffirent.

Kemudian Rani menjelaskan sedikit tentang bagaimana mengucapkan kata-kata dalam bahasa Korea. Louis memperhatikan Rani dengan seksama. Dia mendapatkan tambahan pengetahuan.

Fortunately, I have friend to help me. He help me with everything so I can quickly speak in local language. Because not all local people know English, so I need to learn their language.”

When in Rome, do as the Romans.” Ucap Louis.

Exactly.” Jawab Rani lalu keduanya tertawa.

Tawa mereka membuat beberapa wanita iri. Mungkin hanya Rani yang tidak mengenal Louis. Karena semua wanita di Inggris, terlebih Surrey, sangat mengenal siapa Louis Wycliffe.

Louis Wycliffe adalah seorang bangsawan yang juga seorang pewaris tunggal Wycliffe Corp. dan semua wanita mendamba menjadi istri Louis. Dengan begitu mereka tidak perlu lagi capek bekerja tapi uang tetap mengalir ke dompet mereka. Namun Louis bagaikan gunung es yang tidak bisa di jangkau.


###@^.^@###


James menyerahkan hasil jepretannya pada Louis begitu mereka sampai di kantor. Yang sebenarnya Louis tidak memerlukannya lagi karena dia sudah mendapatkan nama serta kontak wanita yang membuat jantungnya berdebar.

Namun dia tetap menghargai usaha James. Selain foto Rani, dia membuang foto-foto yang lain. Dia memandangi foto Rani yang entah kenapa dimatanya terlihat sangat cantik.

Sebuah ketukan pintu terdengar. Louis menaruh foto Rani di mejanya saat sekertarisnya masuk dengan membawa banyak berkas yang meminta persetujuannya.

Is that Rani?” tanya sang sekertaris saat matanya tak sengaja melihat foto Rani.

You know her, Maria?” Louis balik bertanya dengan heran.

Sekertarisnya, Maria, mengambil foto Rani dan mencermatinya, “This is Rani Evanz, right?

Yes. How do you know her?

She’s my classmate.

I didn’t know that.

When this picture taken?

Today.

At reunion?” tanya Maria memandang Louis yang mengangguk.

Hmmm... so she’s back.” Gumam Maria.

Louis memandang Maria yang terlihat sedang mengingat sesuatu. “You know something about her?”

I do. But... why you ask? You like her?

Louis membuka mulut hendak menjawab namun terhenti. Dia terdiam berpikir, “I don’t know. I never felt like this before.” Jawab Louis

Maria dan James bertukar pandang. Mereka memikirkan hal yang sama. Louis telah jatuh cinta.

“Apa kita ada tempat untuk memperkerjakan satu orang lagi?” tanya Louis tiba-tiba.

Why?” tanya Maria. Namun Louis tidak menjawab dan hanya melamun sambil memandangi foto Rani. Maria menghela nafas, “you can add more secretary if you want. But make sure to tell Sir William.

I know.” Jawab Louis, “if we hire her, she can help with our branch in Japan and South Korea.

Understand. I will make proposal to add more worker.

Kemudian Maria keluar dari ruangan Louis. Dia senang jika Louis akhirnya bisa membuka hatinya pada wanita lain. Dia harus membantu Louis untuk bisa dekat dengan Rani.

Maria Stephen adalah sekertaris Louis di perusahaannya. Mereka sudah berteman sedari kecil. Namun tidak ada rasa di antara mereka karena ayah Maria merupakan ajudan kepercayaan ayah Louis hingga sekarang. Hubungan mereka terbatas pada majikan dan pelayan. Namun sama halnya seperti James, Maria sangat mengerti Louis.


###@^.^@###



Rani merebahkan tubuhnya di sofa bed di kamar audio. Dia memikirkan pertemuannya dengan Louis. “Pria yang menawan.” Gumamnya tanpa sadar.

Dan dia memikirkan bagaimana bisa dia tidak mengenal Louis sebelumnya kalau pria itu sangat menggoda. Pria setampan Louis tak mungkin terlewatkan begitu saja.

Betapapun dia memikirkannya tetap saja dia tidak bisa menemukan keberadaan Louis dalam memorinya. Dia merutuki kebodohan dirinya karena melewatkan Louis dan kini dia terjebak dalam dilema.

Rani tidak menyadari kedatangan Felton. Dia tersentak kaget dan hampir saja berteriak saat sebuah tangan merengkuh tubuhnya. Felton memandangnya dengan heran.

What’s matter?

You startled me.

What are you thinking until you didn’t recognize my arrival?

Rani terdiam. Dia tidak mungkin menceritakan tentang pertemuannya dengan Louis kepada Felton. Bisa-bisa kekasihnya mengamuk. “I just think of work.

What work?

When I get one, I mean.” Jawab Rani, “Hari ini aku mengirim banyak lamaran kerja. Tapi aku tidak tahu aku akan di terima dimana. Semoga saja ada yang mau menerimaku bekerja sebelum tiga bulan.”

You will get one. You are profesional.

But its ok, right, if I’m working here?

Felton memandang Rani yang menatapnya dengan ekspresi memelas, “Alright you can work. But remember dont make me jealous. No overwork!

But I can’t promise about overwork. You know it, right?

Felton menghela nafas, “Baiklah, aku akan maklumi itu tapi ingat, tetap memberi kabar setiap saat.”

SIR, YES, SIR!” ucap Rani lantang sambil memberi hormat dengan menempelkan tangannya ke pelipisnya kepada Felton yang mendengus namun tersenyum.

Rani terkikik lalu memeluk Felton manja.


###@^.^@###



Sejak saat itu, Rani dan Louis sering bertukar pesan. Tentu saja Rani melakukannya dengan sembunyi-sembunyi. Bukan karena dia takut namun untuk menghindari pertengkaran.

Beberapa kali Louis mengajaknya untuk makan malam tapi selalu di tolak oleh Rani dengan berbagai alasan, namun Rani menjanjikan dia mau saja makan siang bersama tapi harinya Rani yang akan menentukan. Meskipun sedikit merasa kecewa, Louis menerima janji Rani yang akan mengajaknya makan siang.

Setelah itu mereka kembali membahas hal yang lainnya. Terutama membahas les Bahasa Jepang dan Bahasa Korea yang sedang dijalani oleh Louis. Pria tampan itu sering menggoda Rani dengan menanyakan arti dari kata-kata romantis. Rani sering tertawa sendiri sambil membaca pesan-pesan dari Louis.


###@^.^@###


Maria, come with me.” Ujar seorang pria paruh baya sambil memasuki ruangan Louis yang tengah kosong karena Louis sedang keluar makan siang. Maria yang tengah memeriksa berkas-berkas langsung mendongak dan berdiri lalu mengikuti pria itu masuk ke ruangan Louis.

James? Why you here?” tanya pria paruh baya itu saat mendapati James tengah sibuk dengan tabletnya. James tersentak kaget dan langsung berdiri.

Sir Louis ask me to stay here.

Why?

James dan Maria bertukar pandang resah. Mereka belum memberitahu pria paruh baya di depan mereka tentang ketertarikan Louis pada Rani. Bagaimana Louis begitu tergila-gila pada Rani.

What happen? Explain?!” tanya pria itu setelah duduk di kursi kerja Louis.

I think, Louis is falling in love.” Jawab Maria.

Pria yang sudah berumur namun masih keliatan muda itu tertegun. Memandangi Maria dan James bergantian. “Falling in love? With who? Not Sophia again!

Not Sophia, Sir.” Jawab Maria, “she was my classmate during collage. She’s nice and beautiful. I can guess why Louis could be attracted to her. She has calming aura and so cheerful. And I’m sure that she don’t know who Louis is.

You know her?” tanyanya pada Maria yang mengangguk, “Do you already check her background?” kali ini dia bertanya pada James yang mengangguk lalu menyerahkan tabletnya yang sudah terpampang identitas Rani kepada pria itu.

Evanz?” gumam pria itu saat membaca nama panjang Rani. “Is this all you got?” tanyanya lagi pada James yang mengangguk, “do detail background check, everything.” Katanya pada ajudan pribadinya yang berdiri di belakangnya sambil menyerahkan tablet James.

Alright, then what this proposal mean?” tanya pria itu pada Maria sambil menunjukkan proposal yang Maria kirim beberapa hari lalu.

Louis said he find a perfect person to help us supervise Asia Branch. According to Louis, Rani is fluent in Japanese and Korean language.

Hmmm...” pria itu meninmbang-nimbang.

Memang benar bahwa saat ini cabang perusahaan mereka yang di kedua negara itu sedikit bermasalah. Manajer di kedua cabang memang lancar berbahasa inggris namun tetap saja ada sesuatu yang mengganjal tiap kali laporan bulanan masuk ke kantor pusat.

Let me think of it.” Jawab pria itu lalu berdiri, “Where is Louis now?

Lunch with Rani.” Jawab Maria.

Pria itu menghela nafas, “don’t tell him I do background check his woman. I don’t want any woman with bad influence around Louis.”

Understood, Sir!” jawab Maria dan James.

Kemudian pria itu meninggalkan kantor Louis dan kembali ke kediamannya. Nama Evanz mengingatkan dirinya akan teman karibnya dulu. Sahabat baiknya semasa kuliah. Namun setelah lulus, mereka hilang kontak. Bahkan saat dia berada di Bali selama sepuluh tahun pun dia tidak bisa menemukan temannya itu.

Can you do it before nine?” tanya pria itu pada ajudannya.

Yes, Sir.” Jawab ajudannya.


Malam harinya

Frank Stephen, ayah Maria yang juga ajudan kepercayaan William Wycliffe, ayah Louis, memberikan laporannya. Dia melakukan detail cek semua informasi terkait Rani. Namun hanya kisah cinta Rani saja yang tidak dapat dia akses. Serta tragedi di Seoul.

Saat Rani dilarikan ke rumah sakit, Shim Seunghyun mendaftarkan Rani atas namanya sendiri, karena dia lupa membawa paspor Rani. Dia tidak punya waktu lagi untuk kembali ke kontrakan Rani, akhirnya dia memakai identitasnya agar Rani dapat segera di tangani oleh dokter.

Frank menyerahkan foto keluarga Evanz kepada William yang langsung tersenyum senang. Frank mengernyitkan dahi.

It’s Michael Evanz! My bestfriend!!” ujar William, “so she is his daughter. No wonder I feel familiar with her photo.

Also Ms. Evanz is Lady Sharry friend.

Are you sure?” tanya William. Frank menyerahkan selembar foto yang berisi empat wanita muda tengah tersenyum lebar sambil memandang kamera, “Sharry?

Yes, Dad? Did you call me?” tanya seorang wanita cantik yang tiba-tiba masuk ke ruang kerja William.

Oh hi dear, just got home?

Yeah.” Jawab Sharry sambil berjalan mendekati William, ayahnya. “this is Rani.” Ujarnya saat melihat foto dirinya bersama Rani saat berpesta di Bali, “why you check on her, Dad?” tanya Sharry sambil memandang ayahnya sedikit takut.

William tahu sorot mata Sharry. Dia tersenyum menenangkan, “Louis is fall in love with her.

He WHAT?!!” Sharry terkejut, “no no no, not Rani. She’s way too good to be with Louis!

Ayah Sharry terkekeh melihat reaksi anak perempuannya, “I know. But I like her too. She is my friend’s daughter.

Your friend?

My long lost friend. We are best friend during college. But after graduation, he went back to his hometown and I lost contact of him. I search him but can not find him, but I found your Mom.” Ujar William pada Sharry yang langsung memeluk ayahnya.

Sharry memang lahir bukan dari istri sah William. Tapi dari istri keduanya saat dia berada di Bali. Sharry mulai menetap di London lima belas tahun yang lalu setelah ibunya meninggal. Beruntung bagi Sharry karena istri William mau menerima dan menyayanginya. William dan istri sahnya hanya di karuniai satu anak laki-laki yaitu Louis. Karena itulah William sangat pemilih untuk pasangan Louis.


###@^.^@###


Felton memasuki apartment Rani dan dia tidak mendapati wanitanya di dapur seperti biasanya. Samar-samar dia mendengar suara Rani di kamar audio. Dia mendekat dengan perlahan tanpa menimbulkan suara.

“Baiklah, aku akan kesana kalau aku bisa. Wembley Arena. Hotel Hilton. Ok...”

BRAAAKK!!

Felton membuka pintu dengan kencang. Raut mukanya penuh amarah. Rani menoleh kaget sambil cepat-cepat mematikan teleponnya. Dia berdiri menghadap Felton yang sudah kalap.

I, I can explain... it’s not like what you think...” Rani berusaha untuk meredakan amarah Felton, “my friends, boy group that I like is having concert in London, so they ask me to come to help... look...” Rani menyerahkan id card dan surat pernyataan yang mengatakan bahwa Rani resmi menjadi staff sementara.

Felton terus saja mendekati Rani dengan amarah. Rani mundur hingga menabrak dinding kaca. Dia takut, benar-benar takut. Lalu terjadi lagi. Felton memperkosa Rani dengan beringas. Meninggalkan lebam-lebam di wajah dan tubuh Rani.


TING.

Smartphone nya berdenting. Memberitahu si empu nya kalau ada pesan masuk. Dengan malas Rani meraih smartphone di atas nakas samping tempat tidurnya. Dia hanya mengenakan selimut untuk menutupi tubuhnya yang telanjang. Sedangkan Felton sudah pergi dari pagi buta karena jadwal shootingnya.

Rani membaca pesan dari Louis yang mengajaknya untuk bertemu karena dia ingin memberitahukan kabar baik untuknya. Setelah menarik nafas, Rani membalas pesan Louis bahwa dia akan datang ke tempat janjian mereka sekitar dua jam lagi. Tak menunggu lama balasan dari Louis dia terima yang mengatakan bahwa dia setuju.

Dengan rambut awut-awutan dan tubuh penuh lebam, Rani beranjak dari tempat tidur dan menuju kamar mandi. Dia tertegun saat mendapati secangkir kopi yang sudah dingin dan sepiring omelette telur dengan sosis panggang, serta sebuah note permintaan maaf di meja makan.

Dia duduk menghadap makanan di depannya. Mengambil note dengan tangan kiri dan sendok di tangan kanan. Diirisnya omelette dengan sendok lalu disuapkan ke bibirnya yang bergetar menahan tangis.

Sudah dua kali dalam dua minggu Felton menyakitinya. Hal itu semakin membulatkan niatnya untuk segera mengakhiri hubungan mereka. Namun dia tidak bisa jika harus kembali ke Indonesia, Felton pasti tahu.

Dia harus segera mendapatkan pekerjaan dan kemudian pindah dari apartmentnya. Dia berharap semoga kabar baik dari Louis menyangkut tentang pekerjaan yang kemarin sempat Rani tanyakan.

Biasanya Rani tidak ingin mendapatkan pekerjaan dari campur tangan orang dalam, namun jika kondisinya seperti ini, mau tidak mau dia harus melakukannya. Asalkan dia segera mendapatkan pekerjaan. Setelah beberapa bulan, dia akan pindah ke apartment yang tidak dapat di jangkau oleh Felton dengan tabungan gajinya.

Cepat-cepat dia selesaikan sarapannya yang sudah dingin. Menaruh piring dan cangkir ke tempat cuci lalu mandi dan berdandan. Dia harus memakai bedak sedikit lebih tebal untuk menutupi lebam di sudut matanya. Kalau hanya memakai concelar saja dia takut tidak bisa menutupinya dengan sempurna.


Rani memasuki sebuah cafe. Dia memandang sekeliling ruangan cafe untuk mencari Louis namun dia tidak menemukannya. Dikirimnya pesan pada Louis menanyakan dimana dia. Sebuah balasan datang dalam hitungan detik menyuruh Rani untuk naik ke lantai atas.

Setelah membaca pesan Louis, Rani berjalan menuju lantai atas sambil sesekali membetulkan kacamata hitamnya. Dia memakai kacamata hitam bukan untuk bergaya namun untuk menutupi lebam.

Begitu sampai di lantai dua, Rani mendapati Louis tengah duduk menantinya di sudut ruangan berpenyekat. Tempat VIP dicafe tersebut. Dia berjalan cepat menuju tempat duduk Louis yang tidak melihatnya, dan langsung duduk di depan Louis yang terkejut.

Why you wearing glasses?” tanya Louis setelah mengatasi keterkejutannya.

I have to.” Jawab Rani.

Why?

I...” suara Rani tercekat, “I can’t show you.” Jawabnya sambil berpaling dari tatapan Louis yang tajam.

Show me!” paksa Louis sambil melepas kacamata Rani dengan pelan dan memegang dagu Rani, menghadapkan wajah Rani kepadanya. Ekspresinya langsung mengeras saat dilihatnya lebam yang berusaha Rani tutupi di sudut matanya.

Rani tak sanggup lagi dan langsung menunduk. Berusaha keras agar tidak menangis di depan Louis.

Your boyfriend doing this?” tanya Louis lirih penuh penekanan.

Rani sudah menceritakan semuanya pada Louis saat terakhir kali mereka bertemu kalau dia sudah mempunyai kekasih. Dan alasan kenapa dia ingin segera mendapatkan pekerjaan.

“Rani...”

Please...” jawab Rani menahan isak tangisnya.

Louis menghela nafas, “Ok, I won’t ask.” Ujarnya lalu terdiam. Memberi ruang pada Rani agar tenang. Dia memesankan secangkir cappuccino hangat dan choco-cheesecake untuk Rani.

Setelah sepuluh menit berlalu dalam keheningan, akhirnya Rani mendongak dan memberikan senyum manisnya pada Louis yang memandangnya dengan khawatir.

Thank you, Louis.

No problem. Feeling better?” tanya Louis yang di jawab dengan anggukan oleh Rani. “If you need anything, just tell me. I will help you.

Rani tersenyum mendengar kata-kata Louis, “Ok.” Ujar Rani, “then what news do you want to tell me?

Oh I almost forgot,” kata Louis sambil menegakkan punggungnya, “my father, I mean, Directur want to interview you. There is spot for you in my office.

Really? So fast.

Actually, I request the spot just for you,” jawab Louis dengan wajah merona, “we have branch in Japan dan South Korea, that’s why I try to learn the language. After I know you fluent in both language I discussed it with Directur. And he accepted my request and asking when he can interview you.

Rani senang mendengarnya. Senyumnya mengembang namun sedetik kemudian menyurut. Dia menarik nafas dilema.

Why? What happen?” tanya Louis yang mengetahui perubahan ekspresi Rani, “you don’t like it?

That’s not what I mean,” jawab Rani, “tiga minggu lagi temanku ada konser disini. Dan mereka memintaku untuk membantu mereka sampai konser selesai.”

“Konser apa?”

“Temanku adalah grup penyanyi Korea Selatan.”

“Oh.” Louis kelihatan kecewa.

“Maafkan aku, Louis, tapi bisakah kamu memundurkan wawancara sampai tiga minggu lagi?” pinta Rani menatap Louis yang balas menatapnya dan terdiam.

Louis menghela nafas berat, “Baiklah akan ku lakukan.” Ujarnya kemudian, “tapi bagaimana jika Direktur ingin mewawancaraimu segera?”

“Akan ku lakukan.” Jawab Rani.

Kemudian keduanya terdiam. Keheningan kali ini terasa sedikit menyesakkan. Rani tahu dia seharusnya tidak menawar, namun dia tidak punya pilihan lain. Dia sudah terlanjur berjanji pada teman-temannya akan membantu mereka, dan mereka sudah bersusah payah meyakinkan panitia acara untuk menambahkan dirinya di jajaran staff.

Rani tahu betapa susahnya itu. Karena dia sudah pernah melihatnya langsung bagaimana teman-temannya meminta ijin agar dirinya diikutsertakan.

“Louis...” panggil Rani pelan.

Louis mendongak dari tabletnya dan memandang Rani. Saat mereka bertemu pandang, Louis bisa melihat betapa Rani berada dalam dilema. Louis langsung merasa bersalah karena memaksakan kehendaknya.

Dia sangat menginginkan Rani berada disampingnya setiap hari. Namun saat Rani memberitahunya bahwa dia saat ini memiliki kekasih membuatnya patah hati. Dan pada saat bersamaan Rani menanyainya tentang pekerjaan, harapan Louis kembali. Setidaknya dia bisa bertemu dengan Rani setiap hari jika Rani bekerja padanya.

Rasa kecewa tentu saja dia rasakan saat Rani memberitahunya bahwa dia tidak bisa dengan segera untuk bekerja di kantornya. Namun saat Rani memandangnya dengan ekspresi sedih, resah dan perasaan bersalah, dia tahu dia tidak boleh egois. Dia harus sabar jika ingin mendapatkan Rani.

Louis memberikan senyumnya pada Rani, “I’m not mad. I just hope that you will work with me as soon as possible.

I’m sorry, Louis, I don’t know that you will give me a good news very fast. I already make a promised to my friends that I will help them.” Kata Rani.

I understand, Rani, please don’t be sad. I will wait until you ready.” Ujar Louis, “I’m sorry for forcing you. I just can’t wait to work with you.” Imbuh Louis menenangkan Rani.

Tanpa sadar Louis menggenggam tangan Rani. Membuat wanita manis itu tersipu namun enggan melepaskan tangan Louis. Tatapan mata mereka kembali bertemu. Semakin menambah benih-benih cinta di antara keduanya bertumbuh subur.

Suasana romantis mereka terpecah saat smartphone Rani berdering. Mereka tersentak kaget dan langsung melepaskan tangan dengan wajah merona. Selagi Rani menerima telepon, Louis menyibukkan diri dengan tabletnya untuk mengatasi rasa gugup.

Dochakaesseoyo? (Sudah sampai?)” ujar Rani langsung pada si penelpon, “ooo araseo, gidalyeo. Gwenchanhaeyo. Ne ne, jigeum ganda. Araseoyeo, Wembley Arena. (iya aku tahu, tunggu ya. Tidak apa kok. Iya iya, aku pergi sekarang. Aku tahu, Wembley Arena.)” kemudian Rani mematikan teleponnya dan menghela nafas.

Louis memperhatikan sikap Rani sedari tadi. Wanita di depannya terlihat senang namun juga gelisah. Dia tidak mengerti apa yang sedang wanita itu bicarakan, namun dia tahu dari sikap Rani bahwa temannya menyuruhnya untuk segera datang.

“Louis, aku...”

It’s ok. I have to go back to office, too. I’ll take you there.” Ujar Louis membuat Rani merasa tidak enak hati.

Mereka beranjak dari cafe. Setelah membayar, Louis mengajak Rani menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari cafe. Mereka berjalan menuju mobil dalam diam.


Saat mobil Louis memasuki area Wembley Arena, Rani melihat temannya berdiri menunggunya di pintu masuk sendirian dengan sesekali melihat smartphone nya.

He sure don’t have any patient.” Ujar Rani sambil menghela nafas.

Louis meliriknya sekilas lalu memandang apa yang sedang dilihat Rani. Seorang pria Asia berwajah tampan yang mengenakan cardigan hitam dan celana jeans berdiri di pintu masuk.

Your friend?

I would like to say that he is more than a friend. He is like my younger brother.

Don’t say more than a friend, I’ll get more jealous.” Ujar Louis membuat Rani menoleh memandangnya, “hearing you already have boyfriend is already make me jealous and broken heart. But now, thinking you will surrounded by handsome looking man, makes me more jealous and anxious.

Eh, Louis?

Louis terdiam dan menatap Rani lekat. “I like you, Rani.” Aku Louis membuat Rani tercengang, “I was planning to wait until you work with me, but seeing you surrounded by man is make me can’t wait anymore to confess.

Rani terkesiap dan terdiam beberapa saat lalu menunduk dalam, “you know I have a boyfriend, right?

I do.

I can’t return your feeling right now.” Kata Rani masih menunduk, “I mean I do like you, and I never felt like this before,” ganti Louis yang terpana menatap Rani, “I’m very happy when we change text or having lunch together. But, I already told you that I have boyfriend, and I wont cheat on him. For all this time, I assume that we are just friend...

I’ll wait you, Rani.” Potong Louis, “I know you want to break up with your boyfriend. And his action toward you is terrible. He is not man, he is a loser. He is...

He not a loser, he just jealous!

You can lie with your mouth but you know exactly who he is.

Rani tercekat. Dia tidak bisa membalas argumen Louis yang membenarkan apa yang dia rasakan selama hampir sepuluh tahun ini terhadap Felton. “I...I..., he love me.” Gumamnya lirih tapi Louis bisa mendengarnya.

That is not love. That is obsessed!

Please, Louis, don’t say anymore...

I just want you to see it. How much time you want to be with him until you break apart? Do you want to die before you can accomplish your life’s goal? Do you really want that?!

Please stop.” Rani terisak. Dia tidak sanggup lagi untuk mendengarkan perkataan Louis. Apa yang dikatakan Louis memang benar, namun dia tidak sanggup membayangkan berpisah dengan Felton. Sekalipun dia sudah hampir tidak ada rasa lagi untuknya, tapi keberadaan Felton disisinya bagai candu tersendiri dalam hidupnya.

Louis meraih Rani dan memeluknya untuk menenangkan. Dia merasa bersalah sudah membuat Rani menangis, “I’m so sorry.” Ucapnya membuat Rani semakin tersedu di dalam pelukan Louis.

Rani merasa nyaman berada dalam pelukan Louis yang hangat. Dan tanpa sadar pun dia menangis, meluapkan perasaan tertekan yang selama ini dia rasakan. Ditambah bisikan kata maaf dari Louis, membuat air mata Rani semakin deras mengalir.

Sambil menunggu tangis Rani reda, Louis melempar pandang keluar mobil. Dilihatnya si pria tampan memandangi mobilnya dengan rasa ingin tahu. “Your friend is waiting.” Kata Louis membuat Rani tersadar dimana dia sekarang.

Cepat-cepat dia lepas pelukannya sambil mengucapkan terima kasih lalu membersihkan sisa air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Dia meraih kaca dari dalam tas kecilnya dan memeriksa wajahnya.

Louis tersenyum lalu keluar sambil mengatakan bahwa dia akan menunggu di luar selagi Rani membenahi make up nya. Dia berdiri di samping pintu mobil sambil mengedarkan pandang. Dia melihat si pria Asia menarik nafas kecewa saat melihatnya lalu memalingkan pandangannya ke gerbang masuk tempat parkir Arena.

Setelah siap, Rani membuka pintu, namun langsung diambil alih oleh Louis yang membukakan pintu untuk Rani dan mengulurkan tangan untuknya. Rani tersenyum malu mendapat perlakuan seperti itu.

Thank you for everything, Louis.” Ucap Rani setelah berdiri di samping Louis yang baru saja menutup pintu dan menghadapnya. “I’ll send you VIP seat for the concert if you want.

I would very happy to receive it.” Jawab Louis, “I should go, your friend is coming. If you need anything, just text me.” Imbuhnya saat dia melihat si pria Asia berjalan mendatangi Rani.

Thank you so much. Do you want me to introduce you with him?” Tanya Rani yang juga melihat kedatangan temannya.

Louis tersenyum dan menggeleng, “another time. Well then, see you later, Rani.” Ujar Louis lalu berbalik, memasuki mobilnya dan menjalankan mobilnya meninggalkan Rani yang memandanginya hingga hilang dari pandangan.

“Noona.”

Mianhae, Jiyong-ah.”

“Kenapa pake kacamata hitam?” tanya Kwon Jiyong

“Tidak apa-apa. Hanya ingin.”

Dan sekali lagi, Rani harus memperlihatkan lebam di matanya pada orang yang dia tidak ingin mereka tahu.

“Siapa yang melakukannya?” tanya Jiyong langsung, ketara kalau dia marah, “apa pria yang tadi?”

Rani menggeleng, “bukan, dia atasanku.”

“Lalu? Pacar Noona?”

Rani terdiam tidak bisa menjawab.

“Noona!”

“Jiyong-ah, sebaiknya kita masuk kedalam dan melihat persiapannya.”

“Seunghyun-Hyung memberitahu ku terakhir kali dia menelpon Noona, ada sesuatu yang terjadi pada Noona.” Ujar Jiyong sambil menahan langkah Rani yang hendak memasuki gedung, “apa selalu terjadi hal seperti ini? Kenapa Noona masih bertahan?! Tinggalkan dia!!”

Jebal (Ku mohon), Jiyong-ah, aku tidak ingin membicarakan ini.”

“Noona, aku tidak ingin melihatmu seperti ini.”

“Terima kasih sudah mengkhawatirkanku tapi aku tahu apa yang aku lakukan.” Jawab Rani tersenyum memandang Jiyong. “ayo kita temui yang lain.”

Rani berjalan lebih dulu. Meninggalkan Jiyong yang hanya bisa menghela nafas berat. Pertama kalinya dia mendengar cerita Shim Seunghyun yang menelpon Rani beberapa minggu lalu, membuatnya khawatir. Di tambah lagi dengan cerita Seunghyun yang membawa Rani ke rumah sakit di Seoul dengan pendarahan hebat.

 Dia tidak ingin orang yang disayanginya menderita hanya karena seorang laki-laki pengecut yang ringan tangan terhadap kekasihnya sendiri. Tidak seharusnya seorang laki-laki memukul seorang wanita.

Namun dia juga tidak bisa memaksa Rani untuk meninggalkan kekasihnya. Jika dia bersikeras, dia tidak lebih baik daripada kekasih rahasia Rani. Kenapa dia menjulukinya dengan kekasih rahasia karena dia tidak pernah bertemu langsung dengan kekasih Rani. Hanya Shim Seunghyun yang tahu dan dia pun tidak memberitahukan itu pada nya.

Jiyong-ah, kaja! (ayo!)” panggil Rani yang berbalik dan mendapati Jiyong sedang melamun.

Setelah menarik nafas, Jiyong mengikuti Rani dan memutuskan untuk mengikuti kehendak Rani.


###@^.^@###