Rani
duduk diam di sudut sebuah cafe yang berdiri di tengah kota Seoul. Secangkir
cappuccino dan dua potong sandwich pesanannya belum dia sentuh sama sekali
karena dia sedang asik membalas email. Jemarinya bergerak cepat di keyboard
notebooknya.
Setiap
pulang kerja, dia selalu mampir di cheonkug cafe. Karena suasana cafe yang
membuatnya merasa nyaman dan tenang. Tempat favoritnya adalah di lantai atas di
luar ruangan dan berada di pojok. Menurutnya tempat itu adalah surga sesuai
dengan arti cheonkug.
Sudah lima bulan dia berada di Korea. Negara yang dia tidak pernah duga sebelumnya.
Berawal dari sebuah iklan lowongan kerja yang dia lihat di internet. Di lihatnya
iklan itu dan apply. Dan tanpa disangka dia diterima kerja sebulan kemudian.
Alhasil, berbekal keyakinan diri dia pun berangkat ke Korea.
Di
negara yang dia tidak kenal siapapun, dia harus berusaha sebaik mungkin untuk
bertahan hidup. Seminggu pertama dia tinggal di sebuah hotel murah yang
berdekatan dengan kantor barunya. Setelah itu, dengan di antar teman satu
kantornya, dia mencari sebuah kost yang sesuai dengan gaji yang di dapatnya.
Setelah temannya tawar menawar dengan pemilik kost –karena dia belum lancar
berbahasa korea- dia pun langsung menempati kost keesokan harinya.
Mungkin
lebih tepat jika disebut rumah bukan kost. Karena ada ruang tengah, dapur,
kamar mandi dan kamar tidur. Dan karena letaknya di paling atas atau di atap,
dia pun memiliki halaman yang luas. Dia senang bisa mendapatkan rumah tersebut.
Dia menyewa nya selama satu tahun. Kalau pun nanti dia masih betah akan di
perpanjang lagi kontraknya.
“Sibuk
sekali dari tadi. Sampai-sampai cappuccino buatanku jadi dingin” ujar sebuah
suara mengagetkan Rani.
“Seunghyun!
Kau membuatku kaget” jawab Rani. Orang itu langsung duduk di sebelah Rani lalu
mengintip notebook Rani yang langsung ditutupnya.
“Sedang
apa sih?” tanya Seunghyun.
“Membalas
email dari adikku” jawab Rani sambil memasukkan notebooknya ke dalam tas, “kamu
ga kerja? Nanti dimarahi bosmu lho” ujar Rani lalu meminum cappuccino-nya.
“Tenang
aja. Lagi sepi ko” jawab Seunghyun, “tuh lihat pegawai yang lain lagi nyantai”
tambahnya sambil menyandarkan punggungnya. Rani mulai memakan sandwich coklat
keju kesukaannya.
Selama
sepuluh menit mereka hanya duduk diam.
Lee
Seunghyun adalah pegawai cafe cheonkug. Mereka mulai dekat sejak Rani mulai
rutin mengunjungi cafe. Karena letak cafe yang searah dengan kantor dan
rumahnya. Tiap kali Rani yang datang, tanpa memesan pun Seunghyun langsung
membuatkan cappuccino dan sandwich.
Kepribadian
Rani yang ramah dan murah senyum membuat Seunghyun tertarik. Menurutnya, Rani
enak di ajak ngobrol. Meskipun harus menggunakan bahasa inggris, tak membuat
Seunghyun bosan. Dia pun dengan sabar mengajari Rani untuk bisa bahasa korea
agar memudahkan Rani untuk beradaptasi.
“Ran”
panggil Seunghyun.
“Ya?”
jawab Rani setelah membersihkan mulutnya dengan napkin.
“Besok
ada rencana kemana?” tanya Seunghyun.
“Tidak
ada. Kenapa?”
“Mau
jalan denganku?”
“Kemana?”
“Kemana
kaki melangkah” jawab Seunghyun enteng. Rani tertawa.
“Baiklah
kalau begitu”
“Oke.
Besok aku jemput jam sepuluh yaa” Rani mengangguk tersenyum.
“Kalau
begitu aku pulang dulu yaa”
“Mau aku
antar?”
“Kamu
kan masih kerja mana bisa mengantarku” Seunghyun hanya mengangkat bahu berharap bisa mengantar Rani pulang, “Besok aja yaa” tambah Rani lalu beranjak
dari tempat duduknya.
Seunghyun
mengantar Rani sampai pintu depan cafe cheonkug. Setelah melambaikan tangan,
Seunghyun langsung melepas apron yang dari tadi di pakainya dan memberikan pada
salah satu pegawainya yang dengan sigap menerimanya dan menyimpannya di lemari.
Kemudian
Seunghyun masuk keruangannya. Dia sebenarnya adalah pemilik cafe cheonkug. Tapi
sejak kedatangan Rani, dia menyamar menjadi pegawai agar bisa berkenalan dengan
Rani. Dia ingin tahu apakah Rani mau berteman dengannya walaupun dia hanya
pegawai cafe.
Esok
harinya, Seunghyun menjemput Rani di rumahnya dan membawanya jalan-jalan
menyusuri jalanan kota Seoul.
“Kamu
mau makan apa?” tanya Seunghyun sore harinya.
“Kamu
bisa masak?” balas Rani
“Bisa
donk”
“Kalau
gitu bagaimana kalau kita masak sendiri aja untuk makan malam” ujar Rani.
Seunghyun mengangguk setuju.
“Baiklah
kalau gitu. Kita masak di rumahmu saja yaa” Rani mengangguk, “kalau gitu kita
belanja dulu yuk” ajak Seunghyun.
Sebelum
pulang mereka mampir ke grocery store membeli bahan-bahan masakan.
“Mau di
masakin apa?” tanya Seunghyun saat sudah berada di lorong sayuran.
“Hmmm
apa yaa..” Rani berpikir keras, “kalau sup rumput laut kamu bisa masaknya?”
“Sup
rumput laut? Kamu ulang
tahun?”
“Sebenarnya
ulang tahunku kemarin hehe” jawab Rani nyengir
“Yang
benar?” tanya Seunghyun, “kenapa baru bilang sekarang?”
“Hehe
aku terbiasa ulang tahun sendirian” jawab Rani ringan sambil memilih wortel,
“kalau kimchi kamu bisa? Lalu apa lagi yaa yang ingin aku makan hari ini”
Seunghyun
mengamati Rani dengan tatapan sayu. Jantungnya serasa berhenti berdetak
mendengar jawaban Rani.
“Seunghyun?”
panggil Rani menyentak lamunan Seunghyun, “malah melamun di sini. Kita sedang
belanja lho. Nanti saja melamunnya kalau sudah pulang”
“Ah
mianhae” ujar Seunghyun meminta maaf.
Mereka
lalu melanjutkan belanja. Seunghyun mengambil alih troli belanja dan mulai
memilih-milih sayuran. Dia meminta Rani untuk tenang karena dia akan memasakkan
makanan yang enak-enak untuk Rani. Setelah selesei memilih sayuran, Seunghyun
beralih ke lorong daging. Dia langsung memesan daging sapi terbaik sebanyak
tiga kotak ukuran sedang.
“Kita
beli soju juga yaa” ujar Rani saat hendak ke tempat kasir.
“Boleh”
jawab Seunghyun. Mereka pun langsung mengambil soju sepuluh botol. Seunghyun
sempat protes tapi Rani memandangnya dengan tatapan memohon yang tak bisa di
tolaknya.
Sesampainya
di rumah Rani, Seunghyun langsung membuka barang belanjaannya dan mulai
menyiapkan masakan. Sedangkan Rani mencuci beras dan memasaknya di magic com
kemudian membantu Seunghyun.
“Ada
yang bisa aku bantu?” tanya Rani mendekati Seunghyun dan berdiri di sebelahnya
melihat tangan Seunghyun yang sedang sibuk memotong-motong sayuran.
“Sudah
kamu duduk saja”
“Beneran??”
Seunghyun mengangguk pasti. Rani tersenyum lalu kekamar mengambil notebooknya
dan langsung online di meja makan sambil nunggu Seunghyun selesei masak.
Dia buka
email dan langsung terpana melihat beberapa email yang masuk. Dengan bergetar
dia buka isi email dan membacanya perlahan. Tak ingin ada yang terlewat satu
katapun.
Setelah
selesei membaca dia langsung beranjak menuju kantong belanja dan langsung
mengambil tiga botol soju yang tadi di belinya. Seunghyun yang melihat berusaha
melarang tapi saat melihat ekspresi wajah Rani, dia tidak jadi membuka
mulutnya.
Rani
membuka satu botol soju dan langsung dituang ke dalam gelas lalu meminumnya.
Setelah dia minum lima gelas baru dia membalas email yang tadi di bacanya.
Seunghyun
memperhatikan Rani dari tempat dia memasak. Dia merasa Rani pasti punya masalah
tapi dia tidak bisa memancing Rani untuk cerita. Karena Rani sosok yang sangat
sulit untuk di pancing untuk masalah pribadinya. Karenanya dia bertekat untuk
membuatkan masakan yang enak agar Rani sedikit terhibur.
Selama
satu jam Seunghyun memasak berbagai masakan. Dan Rani seolah-olah sudah lupa dengan
Seunghyun yang berkali-kali ke depannya meletakkan masakan yang sudah selesi
dia masak. Seunghyun pun tak ingin mengganggu Rani sampai semua masakan yang
dia masak sudah siap.
Tak
jarang Seunghyun melihat Rani mengusap air mata di pipi nya yang tak sengaja
menetes. Dan setelah itu langsung di teguk lagi soju yang ada di samping
notebooknya. Ada tiga botol soju yang sudah kosong disebelahnya. Seunghyun pun
hanya bisa menghela nafas melihat Rani.
“Ran..”
panggil Seunghyun yang berdiri di depan Rani di seberang meja
“Ya?”
jawab Rani langsung mendongak. Dan pada saat bersamaan air matanya kembali
menetes. Cepat-cepat dihapusnya, “mianhae”
“Ada apa
denganmu? Apa ada masalah?” tanya Seunghyun sambil duduk di depan Rani dan
memandang Rani dengan penuh khawatir.
“Tidak
ada apa-apa kok” jawab Rani tersenyum. Berusaha terlihat ceria didepan
Seunghyun, “sudah selesei masak? Whoaaa. Banyaknya. Kelihatannya enak-enak”
imbuhnya langsung menutup notebooknya dan menaruh disebelahnya.
Seunghyun
masih memandang Rani dengan pandangan yang sulit untuk di artikan. Lalu
menghela nafas dan mengajak Rani makan dengan tersenyum, “ayo makan”
Rani
tersenyum senang dan langsung mengambil sumpit dan mencoba satu-satu masakan
Seunghyun, “enaaaaakkk” ujar Rani membuat Seunghyun tertawa.
“Agar
sedikit lebih meriah, gimana kalau sambil dengerin musik?” tanya Seunghyun
“Setujuuuuu”
jawab Rani langsung sambil mengangkat sumpitnya yang lagi-lagi membuat
Seunghyun tertawa
“Mau
lagu apa?”
“Big
Bang” jawab Rani langsung
“Kamu
VIP?”
“Iya
dong. VIP sejati hohoho” jawab Rani sombong
Seunghyun
mencari kepingan cd Big Bang di laci dan tanpa kesulitan dia dapat apa yang di
carinya. Karena rata-rata kepingan cd yang di laci Big Bang semua. Seunghyun
hanya geleng-geleng kepala. Kemudian dia memasukkan kepingan cd ke dalam cd
player di depannya. Setelah menekan tombol play, langsung mengalun lagu favorite
Rani yang berjudul ‘Blue’
Begitu
mendengar lagu itu, tangan Rani yang hendak menyuapkan daging berbalut sayur ke
mulutnya langsung terhenti sesaat dan pandangannya langsung kosong sejenak. Dia
langsung tersadar kalau ada Seunghyun di depannya yang sedang memperhatikan
dirinya. Dengan senyum simpul dia melanjutkan suapannya.
“Hey,
nasi nya juga di makan dong” protes Seunghyun memecah keheningan yang sempat
menyelimuti ruangan. Rani nyengir lalu mengambil sendok dan memakan nasi yang
sudah tersedia di depannya.
Setelah
selesei makan dan membereskan meja dan mencuci piring dan mangkok, mereka duduk
di dipan di halaman rumah Rani sambil menikmati soju dan snack.
“Ran,
boleh aku tanya sesuatu?” tanya Seunghyun.Rani
mengangguk sambil meminum soju. “Apa hal
yang paling kamu inginkan?”
“Apa
yaa..” Rani berpikir sambil memandang langit malam yang tanpa bintang, “mungkin
bertemu dengan Big Bang dan foto sama T.O.P kyaaaaaa” jawab Rani yang langsung
histeris
Seunghyun
terpana melihat Rani yang bersikap begitu. Sampai dia kehilangan kata-kata. Rani
menoleh memandang Seunghyun yang menatapnya heran.
“Kenapa?”
tanya Rani. Kontan Seunghyun tersentak dan langsung menggeleng
“Tidak
ada” jawab Seunghyun lalu menegak sojunya
“Heran
ya?” ujar Rani tertawa, “jangan heran kalau udah ngomongin Big Bang aku bisa
hilang kendali hihihi. Apalagi kalau ngomongin T.O.P”
“Yeah
bisa ku lihat kok” jawab Seunghyun membuat Rani tertawa lepas. Seunghyun
tersenyum.
Mereka
berbagi cerita sambil minum soju hingga larut malam. Seunghyun heran betapa
kuatnya Rani minum soju. Meskipun sudah habis tiga botol soju sebelum makan dan
empat botol setelah makan tak membuatnya mabuk.
“Ran,
tadi kamu kenapa nangis?” tanya Seunghyun
Rani
terdiam memandang langit. Pandangannya menerawang, “tidak ada apa-apa,
Seunghyun” jawab Rani
“Tapi..”
“Aku
tidak ingin membicarakan itu sekarang dan seterusnya” jawab Rani memotong
kata-kata Seunghyun sambil tersenyum ke arah Seunghyun
“Baiklah.
Tapi kalau kamu ingin cerita kamu tahu harus kemana” ujar Seunghyun setelah
menghela nafas mengalah
“Iya. Aku
akan ke Min Hyuk” jawab Rani lalu meminum soju
“Hey!
Kok Min Hyuk?!” protes Seunghyun. Rani tersedak dan tertawa keras
“Araseo araseo” jawab Rani sambil menghapus air mata
di sudut matanya karena terlalu banyak tertawa
hmmm... not bad. boleh aku kasih comment #lha kan udah komen # plakkkk..
BalasHapusheheh... potter alurnya runtut banget. dan gaya bahasanya. little bit campuran. agak setengah formal ma gaul. mungkin akan lebih bagus kalo pake gaya bahasa ala novel terjemahn. ex: aku. kau dll. atau sekalian pake gaya bahasa yang ringan. itu pilihan sich... heheheh..
o iya... saranku potter ikut2 ngepostin karyamu di fiction2 yang udah dikenal di dunia maya. paling tidak biar karyamu di kenal dulu sama pembaca+ penerbit..
hehehehe
Hapusama karya yg dulu wkt dMAN pie??
beda jauh yoo??
malu laah :">